Kolom

Meneladani Gus Sholah

Fahrul Muzaqqi - detikNews
Senin, 03 Feb 2020 15:30 WIB
PBNU mengklaim banyak kiai memprotes keputusan Presiden Jokowi memilih Jenderal (Purn) Fachrul Razi menjadi Menteri Agama (Menag). Merespons polemik tersebut, Pengasuh Pondok Pesantren (PP) Tebuireng, Jombang KH Salahuddin Wahid atau Gus Solah justru mempertanyakan kewenangan NU terhadap pemilihan menteri.
Salahuddin Wahid atau Gus Sholah (Foto: Enggran Eko Budianto)
Jakarta -

Ahad malam, 20 Februari, kiai sederhana pengasuh Ponpes Tebuireng, Jombang KH. Salahuddin Wahid (Gus Sholah) berpulang. Kita semua, khususnya jama'ah (warga) dan jam'iyyah (organisasi) NU turut merasa kehilangan. Sosok pengayom dan penyeimbang bagi NU maupun bangsa Indonesia yang kontribusi keumatan-kebangsaannya penting untuk kita refleksikan dan teladani bersama.

Menyemai Kesantrian

Tulisan terakhir Gus Sholah di Kompas (27/1/2020) berjudul Refleksi 94 Tahun NU sekali lagi menegaskan empat prinsip aswaja, yakni tawassuth (sikap tengah) dan i'tidal (tegak lurus, adil), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang dalam hubungan vertikal dengan Tuhan maupun horisontal dengan masyarakat maupun lingkungan alam), dan amar ma'ruf nahi munkar (mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran).

Empat prinsip itu sekaligus menjadi elemen penting dan sangat relevan untuk menjawab tantangan kehidupan keberagamaan-kebangsaan kita kini maupun kelak.

Nilai dan sikap itu sejatinya mengarah pada tujuan manusia dalam beragama dan bernegara-bangsa. Dalam terminologi Abu al-Ishaq al-Syathibi (w.790 H/1388 M), intelektual muslim era kejayaan di Spanyol, tujuan beragama tiada lain adalah mendekatkan pada kebaikan sekaligus menjauhkan dari keburukan (jalbul mashalih wa dar'ul mafasid).

Secara khusus, bagi al-Syathibi, terdapat lima prinsip beragama (maqashid al-syariah), yaitu: menjaga jiwa (hifdz al-nafs), menjaga agama (hifdz al-din), menjaga akal (hifdz al-'aql), menjaga nasab/keturunan (hifdz al-nasl), dan menjaga harta (hifdz al-mal). Lima tujuan itu, konon, dianggap sebagai kontribusi khazanah keislaman terhadap penghormatan hak asasi manusia.

Nilai-nilai aswaja yang secara historis-tradisional dipegang teguh di kalangan nahdliyyin (warga NU) itu sebenarnya bukanlah barang baru, khususnya bagi kalangan santri, yakni orang yang pernah mengenyam pendidikan di lingkungan pesantren. Namun selalu menjadi aktual dan kontekstual manakala mencermati perdebatan tiada henti perihal kehidupan beragama di Tanah Air.

Apalagi secara sosiologis masyarakat kita sangatlah plural dan multikultural. Ditambah pula dengan perkembangan teknologi informasi-komunikasi yang meniscayakan masuknya corak budaya, pemikiran, hingga selera dari seluruh sudut dunia ke dalam persepsi maupun perilaku masyarakat. Semua itu tentu membutuhkan sikap hati-hati dan selalu reflektif dalam menyikapi kompleksitas persoalan.

Gus Sholah dalam berbagai kesempatan selalu mereaktualisasi pentingnya nilai-nilai kesantrian itu sebagai fondasi kehidupan beragama maupun berbangsa-negara. Meski demikian, prinsip ke-aswaja-an itu tidak lantas eksklusif dari dan untuk kalangan santri saja. Melainkan justru disemaikan sebagai nilai-nilai dasar masyarakat kita, di samping untuk menjaga harmoni kehidupan, juga sebagai karakter khas warga bangsa Indonesia. Bahwa bangunan karakter kita berbeda dengan masyarakat di belahan bumi yang lain, misalnya di Timur-Tengah, Afrika atau Eropa sekalipun.

Tentu hal ini karena pertimbangan kesejarahan, karakter budaya, hingga orientasi visioner. Di sisi lain, tentu kita tidak memungkiri menjadi bagian masyarakat dunia, dimana isu-isu kemanusiaan harus selalu disikapi dengan bijak dengan tetap berpegang pada empat prinsip dasar tersebut.

Politik Kemanusiaan

Hal lain yang kerap digarisbawahi Gus Sholah adalah tarikan politik terhadap organisasi NU. Baginya, NU sebaiknya tidak terlibat dalam politik praktis (politik kekuasaan) dan tetap berada di wilayah masyarakat madani. Problemnya adalah bahwa antara politik praktis dengan politik kemanusiaan (istilah yang kerap digunakan oleh KH. Abdurrahman Wahid maupun Gus Sholah sendiri) dalam praktiknya tidak selalu berbatasan tegas.

Asumsinya, politik kemanusiaan secara logis membutuhkan otoritas legal-formal (politik praktis). Di sinilah pentingnya akses terhadap kekuasaan. Nah, ketika akses itu dikuasai sedemikian rupa, tentu akan dengan mudah mengupayakan tatanan masyarakat sebagaimana prinsip ideal yang dicita-citakan. Alasan mengapa NU harus berpolitik umumnya didasarkan pada asumsi sederhana tersebut.

Namun, kenyataan bahwa ketika asumsi itu dibalik, yakni menomorsatukan politik praktis dibanding politik kemanusiaan justru meminggirkan semangat kemanusiaan itu sendiri. Gus Sholah selalu mengingatkan bahwa umat justru terbengkalai lantaran para kiainya sibuk berpolitik. Ini selalu menjadi catatan reflektif-korektif khususnya bagi para tokoh NU maupun kalangan intelektualnya.

Namun secara lebih luas dapat pula kita maknai bahwa kerja-kerja sosial-kemanusiaan yang membutuhkan semangat yang konstan (istikamah) dan energi serta waktu yang besar itu berlaku pula bagi partai politik, institusi pendidikan maupun organisasi sosial-kemasyarakatan lainnya. Bahwa tujuan utama organisasi maupun institusi sosial-politik tiada lain adalah membawa kebaikan (kemashlahatan) dan kemakmuran rakyat.

Tujuan itu jangan sampai tergusur oleh tujuan lain yang lebih sempit, yakni mengupayakan kesejahteraan hanya untuk golongannya sendiri. Apalagi dengan mengorbankan golongan lain yang juga mempunyai hak atas itu.

Alhasil, dengan iringan doa dan pengharapan bagi sosok pengayom dan penyeimbang warga NU maupun Indonesia itu, kita berikhtiar dan terus berharap bahwa apa yang telah diwariskan oleh beliau kita teladani dan lanjutkan bersama. Demi terus menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia maupun perdamaian dunia bagi seluruh umat manusia. Sugeng tindak, Pak Kiai! Terima kasih untuk seluruh pengabdian bagi NU dan Indonesia.

Fahrul Muzaqqi Koordinator Bidang Kajian Isu Strategis di Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) NU Jawa Timur, dosen FISIP Universitas Airlangga

(mmu/mmu)