Pustaka

Mengembalikan Sagu ke Piring Kita

Setyaningsih - detikNews
Sabtu, 01 Feb 2020 12:45 WIB
sagu
Jakarta -

Judul Buku: Sagu Papua untuk Dunia; Penulis: Ahmad Arif; Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) bersama ANJ, November 2019: Tebal : xvi+208 halaman

Buku Sagu Papua untuk Dunia yang mengawali seri pangan, terbitan KPG bekerja sama dengan perusahaan sagu berbasis di Papua Barat PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJ) ini, bisa dikatakan menguak paradoks kelaparan di tengah surga pangan. Terutama di Papua yang memiliki hutan sagu terbesar se-Indonesia, justru sering dikabarkan mengalami kekurangan makan, gizi buruk, atau bahkan kematian karena kurang makan.

Sagu yang dipercaya sebagai ibu, ruh bagi hidup, dan tumpuan peristiwa penahapan hidup, perlahan ditinggalkan karena politik pangan di meja pangan kita. Barangkali ada anggapan bahwa sagu lekat dengan wilayah Timur Indonesia, tapi melalui buku ini Ahmad Arif membabarkan sebaran wilayah sagu hampir seluruh wilayah di Nusantara secara geografis pertumbuhan, jenis tumbuhan penghasil pati sagu, dan nama-nama lokal.

Tentang pangan tertua ini, di Banten disebut ambalung. Di Jawa Tengah, sagu punya nama kersulu, rembulung, tembulu, bolu, atau toam. Orang Melayu di Sumatra dan Kalimantan menyebutnya rambia atau rumbia.

Ahmad Arif menggunakan sekaligus data tekstual, artefaktual, statistik, sekaligus wawancara dengan tokoh adat, terkhusus di Papua yang sampai hari ini terus mempertahankan sagu sebagai pangan pokok sekaligus identitas tatkala banyak kaum muda memilih menyantap beras atau tergoda produk mi instan.

The Malay Archipelago garapan naturalis abad ke-19 Alfred Russel Wallace menyebut sagu sebagai salah satu keragaman hayati. Secara biologis, Wallace cukup bergantung pada sagu sebagai penunjang logistik penjelajahan. Data artefaktual terbaca dari relief di Candi Borobudur di Jawa Tengah dan Candi Jago di Jawa Timur.

Persepsi pangan dibentuk oleh folklor yang menjadi pegangan, pertalian atas asal usul, dan tata hidup. Salah satunya "Manusia Setengah Kasuari" dituturkan oleh tokoh adat Kampung Saga, Yosua Mugarataru, tentang percintaan suami istri di bawah pohon sagu, di atas buah-buah sagu. Lantas, buah sagu dimakan burung kasuari yang melahirkan manusia setengah kasuari. Induk kasuari ini kelas berkorban memotong-motong tubuh untuk dijelmakan 12 perempuan yang menjadi cikal 12 marga di sekitar Sungai Metemani, Sorong Selatan.

Dalam peradaban manusia makan dan menumbuhkan pangan dipersepsikan secara religius, kultural-komunal, ekologis, dan emosional. Sagu menjadi semacam satu titik keberangkatan yang menopang banyak komponen hidup. Lagi-lagi, hal ini demi kemaslahatan manusia agar bisa hidup dengan baik, tapi tidak secara rakus destruktif.

Selain mendatangkan ulat sagu berprotein tinggi, "Di bawah tajuk sagu, biasa juga banyak dirimbuni tumbuhan pakis yang bisa menjadi sayur-mayur lezat, sedang tanah berawa dikelilingi sungai yang selalu tergenang penuh ikan dan udang. Hutan sagu juga menjadi rumah aneka satwa; tempat mereka membuat pele atau jebakan babi hutan dan rusa, selain juga burung kasuari. Tak hanya sebagai sumber pangan, sagu juga menjadi komponen penting untuk tempat tinggal. Daunnya menjadi atap dan pelepahnya menjadi dinding rumah, sedangkan kulit batangnya yang keras bisa menjadi lantai rumah panggung." (hal. 49).

Ulah Negara

Dalam sepiring pangan ada kekuasaan yang bertarung. Kita sadar bahwa stabilitas nasional sangat dipengaruhi oleh makanan yang cukup. Seringkali, kebijakan pangan sangat bergantung pada pemangku kebijakan yang memilih mengimpor daripada memberdayakan apa yang dipunyai. Bahkan, ambisi pemerintah untuk swasembada pangan, terutama kesuksesan yang dicapai Orde Baru, lebih tampak sebagai ambisi menghasilkan beras dan bukan bahan lainnya.

Itulah yang meningkatkan gengsi beras dalam piring yang juga berarti meningkatkan gengsi memakan. Makan nasi menunjukkan kesejahteraan, kemapanan, dan bahkan intelektualitas.

Pada tahun 1981, terbit buku digdaya berjudul Teknologi Tepat Guna untuk Wanita di Pedesaan oleh Kantor Menteri Muda Urusan Peranan Wanita bekerja sama dengan Unicef. Buku ini benar-benar resmi untuk membantu kehidupan perempuan di pedesaan atau meringankan beban kerja sehari-hari, termasuk dalam tata kelola pangan. Di buku ini, sagu termasuk makanan berkarbohidrat meski derajatnya masih di bawah nasi, jagung, dan umbi-umbian. Teknologi tepat guna bagi pengelolaan pangan tetap diutamakan untuk kestabilan memiliki beras.

Hari ini, petaka yang kembali mengunggulkan beras mewujud dalam bentuk bantuan rastra (beras sejahtera) semula bernama raskin (beras miskin). Ketergantungan dari beras yang diistilahkan sangat politis ini, penduduk di Asmat terutama justru mengalami kelaparan, menewaskan 72 anak pada 2018. Lahan untuk sagu telah dibabat dan dialihfungsikan, "...kerentanan pangan di Papua berpotensi meningkat seiring dengan derasnya perubahan pola makan masyarakatnya, dari pangan lokal ke berbagai jenis pangan dari luar."

Pemerintah memang menampilkan kontradiksi saat ancaman pembengkakan populasi saat ini serta semakin terjadi masa depan mengharuskan memberagamkan pangan dan tentu menumbuhkan pangan tanpa terus-terusan mendestruksi lingkungan. Ahmad Arif menulis tentang tanam padi, jagung, kedelai atau Program Pajale di masa pemerintahan Joko Widodo (2014-2019):

"Kebijakan ini seperti mengulang program nasional Gerakan Mandiri Padi, Kedelai, dan Jagung (Gema Palagung) yang ditetapkan pada 2001. Salah satu implementasi kebijakan ini adalah cetak sawah baru seluas sejuta hektare, termasuk di Papua. Semua daerah dipaksa menanam padi, kedelai, dan jagung dengan paket intensifikasi, padahal tidak semua daerah bisa dan cocok ditanami jenis tumbuhan tersebut."

Tentu, pemerintah makin gandrung mengimpor. Salah satunya lonjakan gandum pada 2011 setelah Peraturan Menteri Keuangan Nomor 13/2011 yang menggratiskan bea masuk 57 jenis komoditas pangan (gandum, beras, dan jagung) dikeluarkan. Data dari United States Department of Agriculture (USDA) 2017/2018 menobatkan Indonesia sebagai negeri pengimpor gandum terbesar di dunia. Indonesia memang tanah surga, surga bagi kedatangan aneka pangan dari negeri asing.

Sagu Papua untuk Dunia memang terang-terangan (ingin) menyelamatkan sagu dari posisinya yang inferior. Secara tidak langsung, bukan saja kesuksesan sistem memberagamkan pangan tapi juga menciptakan cara yang lestari. Menumbuhkan, mengolah, sekaligus menghormati nilai-nilai ekologi untuk setiap makanan di piring kita. Terkhusus perusahaan ANJ yang hadir untuk mengemban tugas memuliakan sagu, pasti sudah paham hal ini.

Setyaningsih esais dan penulis cerita anak Koki Petualang dari Desa Orke (2018); tim penulis Semaian Iman, Sebaran Pengabdian (2018)

(mmu/mmu)