Kolom

Generasi Milenial Terjebak di Tengah

Lukmono Nagoro - detikNews
Jumat, 31 Jan 2020 14:34 WIB
Ilustrasi Milenial Kelola Uang
Foto: shutterstock
Jakarta -

Anak muda sekarang banyak menyebut dirinya sebagai generasi milenial. Generasi ini lahir pada rentang tahun 1980-an hingga 2000. Generasi milenial sangatlah dekat dengan teknologi. Mereka sudah akrab dengan teknologi sejak dini. Perbedaan antara generasi milenial dan generasi sebelumnya sangatlah mencolok. Saya mencatat setidaknya dua jenis perbedaan pokok, yaitu mobilitas dan inovasi.

Pertama, ciri utama generasi milenial yang sama amati adalah mobilitasnya yang tinggi. Generasi milenial bisa nongkrong di sebuah taman, kemudian dalam sekejap ada Go Food datang mengantarkan makan siang. Generasi sebelumnya belumlah mengalami masa dalam satu waktu bisa melakukan banyak kegiatan hanya dengan menggerakkan gawai mereka.

Setelah selesai makan siang, mereka bisa kembali ke kampus sambil belanja buku secara online. Mobilitas seperti inilah yang pada generasi sebelumnya hampir mustahil ada. Mobilitas tinggi individu generasi saya yang sudah berumur 30 tahun karena dukungan kredit sepeda motor. Saya pernah bertanya pada salah satu generasi milenial, mengapa tidak memiliki motor untuk mendukung mobilitas mereka?

Jawabnya: sekarang ini dia dan teman segenerasinya bisa memanfaatkan Gojek, Grab, dan Uber untuk bermobilitas. Dia melanjutkan dengan jawaban yang lebih makjleb bahwa akan menggunakan uangnya untuk membeli pengalaman.

Saya bisa menebak arah jawabannya itu. Kepemilikan dalam wujud barang seperti sepeda motor, mobil, dan rumah bisa hilang kapan pun karena krisis atau pencurian. Adapun pengalaman tidak bisa hilang, malah akan terus-menerus bertambah karena dibagikan kepada orang lain.

Kedua, inovasi. Generasi milenial banyak sekali melahirkan inovasi. Di Indonesia, inovasi start up macam Gojek, Traveloka, Modalku, Bukalapak, Databott lahir dari ide dan pikiran generasi milenial. Inovasi ini akan terus bisa berkembang dan tidak bisa berhenti karena lahir dari ide dan pikiran manusia yang memang susah untuk diatur.

Inovasi pastinya akan melahirkan teknologi baru yang akan semakin memudahkan kerja-kerja manusia. Meningkatnya teknologi baru dalam jangka panjang akan memperbaiki efisiensi kerja, sedangkan dalam jangka pendek akan menimbulkan pengangguran.

Untuk mengatasi pengangguran, pemerintah sebaiknya segera mempersiapkan sumber daya manusia yang kompeten melalui pendidikan dan pelatihan. Hal ini karena inovasi akan melahirkan ketimpangan antara pemilik modal, dalam hal ini, pemilik teknologi dan buruh terampil, dan antara buruh terampil dan tidak terampil.

Untuk meningkatkan keterampilan antara buruh tidak terampil, negara membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Jika pemerintah tetap memaksakan diri untuk menaikkan pendapatan dengan mengejar wajib pajak, hasilnya bisa jadi kontraproduktif: inovasi baru akan semakin sulit dilahirkan.

Bagaimana dengan adagium bahwa hukum akan selalu ketinggalan dengan inovasi? Padahal hukum akan menjadi landasan pemerintah untuk mengembangkan dan melindungi inovasi generasi milenial. Pemerintah sebaiknya membuat peraturan yang lentur dan bersifat umum. Kriteria peraturan tersebut juga sangat sulit untuk dijawab meskipun saya sudah mencari jawabannya di Google Search dan mengingat pelajaran selama berkuliah hukum.

Jebakan

Meskipun generasi milenial terus-menerus berinovasi, namun mereka juga harus siap adanya jebakan middle income trap (jebakan kelas menengah). Generasi milenial Indonesia sedang mengalami bonus demografi bahwa proporsi penduduk usia kerja akan lebih banyak dari penduduk usia produktif. Kondisi ini diperkirakan berlangsung hingga tahun 2030.

Salah satu masalah utama penduduk usia produktif adalah kompetensinya dan kesiapannya bersaing. Masalah tersebut akan melahirkan ketimpangan. Pemilik teknologi akan semakin kaya, sedangkan buruh tidak terampil ini tidak bisa mengakses inovasi teknologi sehingga mereka tetap akan menjadi buruh tidak terampil. Hal ini menyebabkan timbulnya kemiskinan karena teknologi.

Salah satu untuk mengatasi masalah ketimpangan adalah melalui pertumbuhan ekonomi yang tinggi atau di atas 7 persen bahkan mencapai 10 persen seperti Tiongkok. Faktanya, pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya berkisar pada angka 5 – 6 persen. Ekonom senior Faisal Basri menyatakan, pertumbuhan ekonomi hanya rata-rata 6 persen setahun sebetulnya jauh dari memadai untuk membawa bangsa kita sejajar dengan negara-negara tetangga di Asia Timur.

Dengan hanya bertumbuh 6 persen setahun, pada 2030, kala kita memasuki fase awal aging population, pendapatan per kapita Indonesia berdasarkan nilai konstan dolar AS tahun 2000 baru mencapai 3.583 dolar AS. Kasarnya, menurut perhitungan Faisal Basri, generasi milenial sampai tua belum pernah kaya. Inilah yang sering disebut middle income trap.

Agar negara Indonesia tidak berpuas diri dengan pertumbuhan 6 persen yang tidak maksimal dalam mengikis ketimpangan, pemerintah dapat mempercepat program deregulasi dan debirokratisasinya. Hal ini mendesak dilakukan karena sudah saatnya pemerintah tidak hanya melihat persoalan ekonomi dari indikator makroekonomi, tetapi juga dari perilaku seluruh stakeholder bangsa ini yang sudah tercemar perilaku korupsi.

Perilaku korupsi telah menggerogoti efisiensi biaya dalam setiap peraturan sehingga daya saing perekonomian nasional menjadi tidak efisien dan efektif untuk bersaing dengan negara tetangga. Pemberantasan korupsi yang selama ini dilakukan oleh KPK baru sebatas menangkap perilaku korupsi, tetapi belum sampai ke arah memperbaiki sistem dan perilaku aparatur pemerintah dalam mengelola birokrasi.

Benak saya terus memikirkan banyak pertanyaan yang semakin susah untuk dijawab meskipun inovasi para generasi milenial hampir semuanya menawarkan kemudahan. Setelah menyelesaikan esai ini, saya merasa tua karena dunia sekarang sudah menjadi taman bermainnya generasi milenial.

(mmu/mmu)