Meluruskan Makna Jihad (21)

Jihad Melawan Penyimpangan

Nasaruddin Umar - detikNews
Kamis, 30 Jan 2020 17:10 WIB
Imam Besar Masjid Istiqlal Prof Nasaruddin Umar
Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA (Ilustrasi: M. Fakhry Arrizal/detikcom)
Jakarta -

Hampir semua Nabi turun di dalam masyarakat yang berantakan. Mungkin karena itulah Allah menurunkan Nabi di dalam masyarakat tersebut. Salah satu di antaranya ialah masyarakat yang dihadapi Nabi Syu'aib. Diabadikan di dalam Al-Quran bahwa Nabi Syu'aib diutus di dalam sebuah masyarakat yang korup:

Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan saudara mereka, Syuaib. Ia berkata: Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman. (Q.S. al-A'raf/7:85).

Sepanjang hidup Nabi Syu'aib bergelut dengan para kaum koruptor pada zamannya, banyak dikutip di dalam buku-buku dan oleh pemimpin dunia Islam. Ia menyerukan belajar bagaimana keuletan menghadapi para kaumnya yang gemar menjalankan praktik korupsi. Jika ia membeli maka ia menggunakan takaran besar dan pada saat menjuanya ia menggunakan takaran lebih kecil. Dari sudut inilah umat Nabi Syu'aib dikecam dan disiksa Allah dengan siksaan yang pedih.

Tentu saja Nabi Syu'aib tidak tinggal diam. Ia berusaha melakukan berbagai cara untuk membasmi penyakit korupsi yang melanda umatnya. Nabi Syu'aib turun tangan langsung ke medan korupsi walaupun harus menghadapi segala macam resiko dan tantangan. Hasilnya cukup berarti tetapi Nabi Syu'aib masih membutuhkan waktu dan kerja keras sangat panjang guna membersihkan seluruh akar tradisi korupsi di dalam masyarakatnya.

Dalam waktu bersamaan kaum kafir tetap menantang Nabi Syu'aib untuk meninggalkan Madyan, kota tempat Nabi Syu'aib mengembangkan ajaran kenabiannya, sebagaimana diabadikan di dalam Al-Quran:

Pemuka-pemuka dari kaum Syuaib yang menyombongkan diri berkata: Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syuaib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, kecuali kamu kembali kepada agama kami. Berkata Syuaib: Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendati pun kami tidak menyukainya? Pemuka-pemuka kaum Syuaib yang kafir berkata (kepada sesamanya): Sesungguhnya jika kamu mengikuti Syuaib, tentu kamu jika berbuat demikian (menjadi) orang-orang yang merugi. (Q.S. al-A'raf/7:88-90).

Praktik korupsi yang sedemikian kronis di dalam umat Nabi Syu'aib seakan menafikan peran dan usaha Nabi Syu'aib untuk mengatasi persoalan ini. Kedahsyatan akibat korupsi berjamaah. Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka, (yaitu) orang-orang yang mendustakan Syuaib seolah-olah mereka belum pernah berdiam di kota itu; orang-orang yang mendustakan Syu'aib mereka itulah orang-orang yang merugi. (Q.S. al-A'raf/7:91-92).

Pengalaman Nabi Syu'aib mengingatkan kita sebagai umat yang lahir di akhir zaman; sudah saatnya kita melakukan pendekatan ekstra tegas terhadap para pelaku korupsi karena dampak buruk yang diakibatkannya ternyata bukan hanya yang bersangkutan bersama para keluarganya, tetapi juga bagi umat dan warga bangsa lain yang tidak berdosa. Lihatlah bukti awan gelap korupsi di langit Madyan tiba-tiba mengamuk dan meluluhlantakkan bukan hanya sang pelaku kejahatan tetapi juga orang-orang yang baik ikut terkena gempa yang melanda masyarakat tersebut.

Jika bala Tuhan muncul sebagai jawaban terhadap perilaku anak manusia jauh melenceng dari ketentuan ajaran dan nilai-nilai kepatutan di dalam masyarakat, maka tunggulah azab Tuhan akan datang. Jika azab Tuhan datang, maka betul-betul yang terimbas bukan hanya keluarga yang bermasalah (koruptor), tetapi juga orang-orang lain yang tak berdosa, dan mungkin juga lingkungan alam ikut rusak sebagaimana dicontohkan umat Bani Israel yang keras kepala itu. Masalah korupsi di mana pun adanya merupakan lahan jihad yang paling mulia. Mari kita memberantas korupsi dan menjauhi fitnah!

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta

(mmu/mmu)