Kolom

Efek Pembangunan Jalan Tol Balikpapan-Samarinda

Ananto Hayuning Rat - detikNews
Rabu, 29 Jan 2020 13:32 WIB
Jalan Tol Balikpapan–Samarinda (Balsam) khususnya seksi 2,3, dan 4 sepanjang 66 km siap diresmikan. Secara keseluruhan progres konstruksinya saat ini capai 97 %
Jalan Tol Balikpapan-Samarinda (Foto: Dok. Kementerian PUPR)
Jakarta -

Jalan tol Samarinda – Balikpapan resmi dibuka dan beroperasi pada Desember 2019. Proyek tersebut termasuk Proyek Strategis Nasional (PSN) di bawah PT Jasa Marga melalui anak usahanya, yaitu PT Jasa Marga Balikpapan Samarinda (JBS). Terdapat pembagian lima seksi ruas jalan tol di wilayah tersebut. Seksi 1 mulai dari km 13 hingga Samboja (22.025 km), seksi 2 mulai dari Samboja hingga Muara Jawa (30.975 km), seksi 3 mulai dari Muara Jawa hingga Palaran (17.300 km), seksi 4 mulai dari Palaran hingga Jembatan Mahkota (17.550 km) dan seksi 5 mulai dari km 13 hingga Bandara Sepinggan (11.500 km).

Kali ini perjalanan saya dari Balikpapan menuju Samarinda melewati Manggar. Dari Manggar diteruskan menuju Samboja, melewati Gerbang Tol Samboja dengan terlebih dahulu melakukan tapping e-toll. Ternyata awal masuk hari ini ke Gerbang Tol tersebut tidak dikenakan biaya alias gratis. Pada siang hari itu, hanya dibuka 1 ruas masuk untuk menuju mesin tapping yang tersedia.

Pihak jasa marga juga telah menyiapkan rest area (tempat ibadah, supermarket, kamar kecil) untuk memenuhi kebutuhan pengemudi yang ingin singgah sejenak. Adapun keharusan pembangunan fasilitas rest area atau Tempat Istirahat dan Pelayanan (TIP) diatur dalam Peraturan Menteri (PERMEN) PUPR no 10/PRT/M/2018. Pembangunan rest area tersebut juga harus mengutamakan keberadaan sektor Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dengan komposisi minimal 70% adalah produk lokal. Dengan mengedepankan sektor UMKM di area ruas jalan tol, diharapkan produk-produk andalan di daerah tersebut sebagai ajang promosi.

Dari pengamatan saya ketika melewati jalan tol tersebut, di titik-titik tertentu belum terpasang lampu penerangan di sepanjang jalan. Tidak masalah jika perjalanan dilakukan pada pagi ataupun siang hari. Tetapi jika perjalanan dilakukan malam hari, dikhawatirkan akan mengganggu pemakai jalan, yang berujung kecelakaan, walaupun telah terpasang rambu-rambu lalu lintas serta panduan rute perjalanan di sebelah kiri, kanan, dan atas jalan. Terlihat juga mobil patrol dari Jasa Marga serta mobil derek standby ditempat dan siap beroperasi disepanjang jalan tersebut.

Masalah lain ketika melewati ruas jalan tol ini adalah lemahnya sinyal untuk komunikasi ataupun untuk membuka internet di titik-titik tertentu. Perlu perluasan jaringan telekomunikasi, semisal pembangunan tower Base Transceiver Station (BTS) untuk memperkuat sinyal di wilayah tersebut. Dengan adanya pembangunan BTS di titik-titik tertentu diharapkan akan terjadi perluasan coverage dan dapat membantu pemakai kendaraan yang melintasi wilayah tersebut dalam berkomunikasi.

Setelah keluar dari gerbang tol Palaran menuju jalan biasa, saya mengamati terdapat jalan-jalan yang rusak dan masih tergenang air akibat hujan deras beberapa hari terakhir. Terlihat mobil-mobil yang melintas daerah tersebut berusaha mencari jalan yang masih baik, dan menghindari jalan yang telah rusak. Di samping itu, dari pengamatan saya, masih belum ada penerangan jalan di daerah tersebut. Dikhawatirkan timbul kriminalitas akibat minimnya penerangan. Sehingga perlu adanya pemasangan penerangan serta dibangunnya posko polisi untuk menjaga keamanan pengendara yang melintasi area tersebut.

***

Jarak tempuh dari Samarinda ke Balikpapan sebelum dibangun jalan tol adalah 121 km. Perlu nyali tinggi dalam menempuh perjalanan antara kedua kota tersebut, terlebih lagi jika perjalanan di tempuh pada malam hari. Perjalanan yang ditempuh harus melewati hutan lebat, dan kawasan yang cukup dikenal di wilayah itu adalah Bukit Soeharto. Banyak kisah mistis yang kerap terdengar bagi sebagian warga yang berada di daerah tersebut, juga bagi pengendara yang kerap melintas. Melewati Bukit Soeharto, berarti siap menempuh lintasan yang berkelok, sepi serta memiliki dua lajur jalan yang tidak terlalu lebar.

Di area sepanjang perjalanan tersebut banyak sekali usaha kecil dan warung kopi yang berjejer untuk menjajakan dagangan. Tempat tersebut juga digunakan oleh pengendara mobil pribadi ataupun travel yang ingin beristirahat sejenak melepas lelah, atau untuk menunaikan ibadah salat, atau bahkan hanya untuk mencari toilet. Dengan dibukanya jalan tol, maka beberapa mobil pribadi akan meninggalkan rute ini, dan dipastikan akan mempengaruhi penurunan pendapatan sektor usaha kecil.

***

Michael Todari dalam Suryana (2000) mengatakan bahwa pembangunan memiliki arti sebagai sebuah proses dimensional yang melibatkan berbagai perubahan besar di dalam struktur sosial, sikap mental yang telah terbiasa, termasuk pula akselerasi atau percepatan pertumbuhan ekonomi, pemberantasan dan pengurangan kemiskinan absolut. Dari definisi tersebut berarti bahwa pembangunan memiliki perspektif yang luas. Tidak hanya infrastrukturnya saja, tetapi juga manusia di sekitarnya. Lebih spesifik lagi, pembangunan jalan tol harus dibarengi dengan pembangunan prasarana di sekitarnya dan juga peningkatan ekonomi dan mental warga sekitar.

Apalagi Samarinda digadang-gadang sebagai calon ibu kota negara ke depannya. Sehingga pemerintah daerah setempat harus mulai membangun sarana dan prasarananya lebih baik lagi, membuat kebijakan yang mengatur hak dan kewajiban warganya, dan menjamin keamanan serta kenyamanan untuk tinggal dan beraktivitas di kota Samarinda dan sekitarnya.

Ananto Hayuningrat sekarang bekerja di Samarinda

(mmu/mmu)