Sentilan Iqbal Aji Daryono

Angka-Angka yang Meneror Kita

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Selasa, 28 Jan 2020 16:06 WIB
Kolomnis - Iqbal Aji Daryono (Ilustrator: Edi Wahyono/detikcom)
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta -

Jika Anda ingin memahami betapa sihir angka-angka sangat sakti dalam membentuk bangunan imajinasi kita, tak usah jauh-jauh mencermati statistik kemiskinan ataupun kriminalitas. Pergilah saja ke laboratorium kesehatan terdekat, lalu periksakan darah Anda.

***

Alkisah, pekan kemarin selama tiga hari berturut-turut saya merasa terus mengantuk. Saya ingat-ingat, tak pernah lagi saya lembur kerja sampai subuh, apalagi salat tahajud. Boro-boro, wong diajak nongkrong sama teman-teman saja sebelum tengah malam biasanya saya sudah pamitan.

Maka, saya pun berolah raga agak keras (untuk ukuran saya). Sialnya, kantuk itu tak kunjung lenyap. Segeralah ketakutan menghampiri tengkuk saya. Ini pasti diabetes!

Kengerian pada diabetes tidak berlebihan buat saya. Almarhum bapak saya menjalani kehidupan dalam kubangan penyakit gula selama sembilan tahun, sebelum akhirnya meninggal. Ibu mertua saya pun sama, meski cuma bertahan lima tahun. Kakek saya dari pihak bapak, juga pakde saya, menjalani kisah hidup yang sama.

Sementara itu, sejak pulang dari Australia dua tahun silam, saya nyaris tak pernah berolah raga. Di Australia, sebagai buruh kasar, saya sangat mengandalkan fisik dalam bekerja. Mau tak mau saya bergerak badan setiap saat, lima hari full dalam sepekan, dengan porsi yang luar biasa.

Begitu pulang ke Bantul, saya merayakan kehidupan bermalas-malasan. Duduk-duduk, rebahan main Facebook, nonton film, membaca, menulis kalau pas sedang rajin, nongkrong dengan teman-teman, jalan-jalan sama anak-istri, dilengkapi pola konsumsi makanan dan minuman yang menurut para dokter jelas tak ada sehat-sehatnya.

Maka, dengan dada berdebar, sowanlah saya ke lab kesehatan. Hasilnya amat gemilang. Kadar gula puasa saya, puji Tuhan, cuma 96. Jauh di bawah bayangan ketakutan saya. Tapi yang panen raya adalah paket kolesterolnya. HDL terlalu rendah di angka 36, trigliserida tinggi di angka 233, dan juaranya adalah LDL alias lemak jahat di angka 227.

Sambil tersenyum, saya unggahlah di Facebook foto rapot dari lab terkait nasib darah saya, disertai kalimat romantis "Kolesterol jahat hanyalah kolesterol baik yang terlalu sering disakiti."

Dan, hanya dalam beberapa detik, datanglah mereka, teman-teman saya para pakar kesehatan berikut yang merasa pakar dalam ilmu kesehatan. Semuanya menjerit ngeri, sambil berteriak mengatakan bahwa kadar kolesterol saya betul-betul tak dapat ditoleransi!

"Aduh, jangan ugal-ugalan makannya. Ingat anakmu masih kecil-kecil. Jangan ngeyel. Jangan sampai kami mengenang posting-an ini dengan sedih beberapa waktu lagi. Pliiisss...."

Saya kaget. Seserius itukah? Perasaan saya, setelah cek lab, segala kantuk mulai hilang. Saya merasa lumayan bugar. Tapi jeritan teman-teman membuat saya melongo. Kematian. Ya, saya berada di tubir jurang kematian. Karena apa? Karena angka-angka sialan itu!

Segeralah saya googling, dan ketemu predikat cakep yang pantas disematkan ke kadar LDL 227 yang ngendon dalam tubuh saya: severely high, sungguh betapa amat sangat tinggi. Risikonya serangan jantung dan stroke. Saya melongo.

Sejak detik itu, angka 227 begitu menghantui saya. Ia membayangi setiap gerakan kehidupan saya.

Lekas-lekas saya menyeruput extra virgin olive oil yang sebenarnya selalu ada di dapur, tapi lama tak saya minum. Dalam setiap seruputan, terbayang ada tanda panah di grafik yang merayap turun. Angka 227 jadi 226. Saya seruput sekali lagi. Jadilah 225.

Lalu saya berlarian keliling halaman belakang rumah. Kemudian menyambar sepasang dumble dan mengangkatnya dalam sekian set. Tak lupa, push up 20 kali. Seketika muncul perasaan bahwa angka itu melorot terus, kali ini menjadi 223. Hore!

Istri saya sebenarnya tenang saja. "Wis to, Bapak juga kolesterolnya tinggi banget, tapi nggak ada masalah apa-apa. Yang penting mulai sekarang hidup lebih sehat." Dia mengucapkan kabar tentang mertua saya itu sambil memasak pecel. Saya mulai tenang, meski memandang dengan haru ke meja makan yang berhiaskan tumpukan bayam dan kacang panjang, khazanah kuliner yang amat jarang saya sentuh.

Asupan makanan saya memang sedikit sekali yang cocok dengan teori kesehatan. Biasanya, sahabat setia saya adalah masakan kambing. Saya memang tergila-gila dengan sate kambing dan kawan-kawannya. Pada masa ketika baru kenal sate Pak Syamsuri Maguwo, saya sempat berimajinasi bahwa Pak Syamsuri adalah alasan utama Tuhan ketika Dia memutuskan untuk menciptakan kambing.

Ketika sate klathak di Bantul mulai menasional, terutama gara-gara film AADC 2, kami sekeluarga sudah sekian waktu menjadi jamaah rutin sentra sate kambing di Jalan Imogiri itu. Bahkan anak-anak kami yang mungil-mungil itu pun sudah kami edukasi secara ketat sejak dini sebagai predator kambing. Maka, bukan hal istimewa jika jam sembilan malam kami kelaparan lalu tanpa pikir panjang langsung melesat bersama untuk membabat trilogi kenikmatan surgawi bernama sate klathak, tongseng, dan thengkleng.

Semuanya jadi lebih lengkap lagi karena belakangan saya bergabung dengan Jamaah Sortalok, sekte sesat berisi kawan-kawan saya yang rutin menyantap kambing sambil berdiskusi tentang kepasrahan dalam menjalani hidup.

Kalau hanya dilihat dari kambingnya saja, banyak yang bilang itu bukan masalah. "Daging merahnya tidak mengandung ancaman kolesterol kok. Bukan itu." Begitu kata seorang kawan. Saya pun merasa angka 223 saya turun lagi jadi 222.

Sialnya, segera saya ingat bahwa yang saya santap tidak selalu daging merah. Mbak-mbak pelayan di sate Pak Syamsuri saja hafal sekali, kalau lihat muka saya nongol dia langsung mengkonfirmasi tanpa ditanyai. "Satu setengah porsi, campur gajih kan, Mas?"

Itu belum semua. Bukan cuma di Pak Syamsuri, sebab gajih alias lemak juga saya hajar tanpa ampun dari piring kawan-kawan saya sendiri. Uda Limbak, anggota Jamaah Sortalok yang pelukis kondang tapi penakut setengah mati di hadapan kekuasaan kolesterol itu selalu menyodorkan bagian lemak dari satenya untuk saya.

Itu baru lemak kambing. Selain itu, tanpa sepengetahuan istri, sering sekali saya mampir makan gulai otak di nasi padang langganan kami. Atau limpa. Atau kikil. Atau bebek Madura dekat rumah yang bumbunya masya Allah enaknya, berbahan minyak jelantah dengan kekentalan kelas wahid sampai warnanya nyaris hitam pekat seperti oli mesin yang setengah tahun tidak diganti.

Dengan segenap kesadaran itu, angka 222 yang sempat terbayang di kepala saya melesat cepat naik lagi, kembali ke posisi 227! Ya Allah, apa-apaan ini? Semuanya pun menjadi kian sempurna, saat ada kawan lain bercerita bahwa dia menjalani diet superketat selama dua tahun penuh, tapi angka kolesterolnya cuma berhasil turun 10 poin.

Saya lunglai. Angka 227 itu terus menyala seperti neon box di kelopak bagian dalam mata saya.

***

Angka. Kenapa kita takut dengan angka? Seberapa hebat angka-angka dalam pikiran kita?

Saya menengok saldo rekening saya. Angka-angka di sana tampak mulai melorot. Sekarang masih awal tahun, musim sepi orderan bagi manusia-manusia panggilan seperti saya. Angka-angka di rekening pun jadi tidak cantik lagi di mata saya.

Padahal, semua angka di rekening itu hanyalah ciptaan sistem perbankan. Kita mendapat transferan sembari membayangkan ada uang kertas yang nyelonong masuk ke celengan kita. Kita menggesek untuk membeli sesuatu sambil mengira beberapa lembar uang telah dicabut dari sana.

Senyatanya, tak ada itu uang keluar-masuk. Semuanya cuma angka-angka. Kita mendapat "uang" dalam bentuk angka, kita membeli sesuatu dengan mengurangi angka. Dalam kenyataannya, uang fisik yang ada hanyalah sebagian kecil saja dari "jumlah" uang di dunia. Selebihnya, bank dan segenap sistem moneter cuma memajang angka-angka. Kita dibius dengan angka-angka!

Tahun ini, saya akan resmi meninggalkan usia muda. Bulan depan umur saya masuk kepala empat. Saya takut. Saya resah menjadi tua. Dalam semesta kegelisahan saya, angka 40 itu amat mengerikan. Jujur, saya lebih terpaku pada dua angka itu, daripada memikirkan bahwa lebih baik saya menjalani hidup yang lebih bermakna, lebih tekun berkarya, juga lebih mengurangi asupan kolesterol dan trigliserida (!) di umur berapa saja.

Angka-angka. Saya memang sangat penakut di hadapan angka-angka.

Iqbal Aji Daryono esais, tinggal di Bantul

(mmu/mmu)