Kolom

Pohon Menangis, Sebuah Refleksi

Yoseph Yoneta Motong Wuwur - detikNews
Selasa, 28 Jan 2020 15:36 WIB
Warga masih terus datang ke lokasi pohon menangis di Jember. Tak cuma ingin buktikan apakah pohon itu mengeluarkan suara, warga pun ramai-ramai selfie di sana.
Warga berdatangan ke lokasi
Jakarta -

Pohon menangis atau mengeluarkan bunyi adalah peristiwa kavitasi.

Kavitasi adalah kondisi kurangnya asupan air terhadap pohon, sehingga menimbulkan tekanan. Tekanan tersebut menyebabkan terbentuknya gelembung-gelembung kecil di dalam batang pohon, yang biasanya menghasilkan suara-suara ultrasonik, sehingga bisa didengar. Misalnya Anda berpergian ke hutan cemara, hutan pinus, hutan akasia, dalam keadaan hening kadang terdengar suara-suara "tangisan", sehingga kadang jika ada yang tersesat di tengah hutan dikiranya hutan tersebut ada hantunya.

Peristiwa pohon menangis --seperti kerap terjadi dan baru-baru ini ramai diberitakan menghebohkan warga Jember, Jawa Timur-- adalah peristiwa alam.

Alam mau menyampaikan pesan kepada manusia tentang kerusakan lingkungan yang terjadi. Alam sedang mengalami krisis air. Krisis air tidak hanya terjadi pada manusia akibat kemarau panjang, tetapi juga dialami oleh makhluk hidup lain seperti pepohonan. Peristiwa pohon menangis hendaknya menjadi bahan reflektif atas tindakan dan perilaku manusia terhadap alam sekitar.

Dewasa ini kebakaran hutan terjadi di mana-mana. Padahal hutan merupakan salah satu aspek biosfer bumi yang paling penting. Salah satu sumber daya alam yang paling berpengaruh bagi kondisi bumi dan kehidupan makhluk hidup adalah hutan. Hutan juga sangat terkait dengan kehidupan manusia dan fenomena-fenomena yang terjadi di planet bumi. Dengan kata lain hutan adalah paru-paru dunia. Kerusakan hutan dan lingkungan alam memberikan dampak pada kekurangan ketersediaan akan air.

Musim kemarau kemarin manusia mengalami kekurangan air bersih untuk memenuhi kelangsungan hidupnya. Kini kita digemparkan dengan peristiwa kavitasi atau orang menyebutnya pohon menangis. Alam sedang menangisi dirinya. Dirinya yang dirusak oleh manusia. Peristiwa pohon menangis sebenarnya ingin menyampaikan pesan kepada manusia untuk bertindak adil kepada alam. Manusia hendaknya memperlakukan alam secara ramah.

Perlakuan manusia kepada alam dapat ditunjukkan melalui tindakan mengurangi pembabatan hutan secara liar, menekan terjadinya kebakaran hutan, dan melakukan reboisasi. Semua tindakan ini hanya memiliki satu tujuan, yakni tersedianya air bagi makhluk hidup lainnya dan terjadinya keseimbangan di alam.

Manusia hanya dapat hidup dalam kesejatian. Maksudnya, dalam kesesuaian dengan martabat dirinya; apabila dia memperhatikan dan melestarikan alam. Bertindak manipulatif terhadap alam, mengeksploitasi alam tanpa kesadaran akan batas kesanggupan daur ulang alamiah, berarti mengingkari jati diri manusia.

Hidup secara selaras dengan alam tidak hanya berarti tidak bertindak manipulatif terhadapnya. Melampaui pembatasan yang bersifat negatif ini, perlu dikembangkan kesediaan dan kesanggupan untuk belajar dari dari alam.

Alam tidak hanya menyimpan energi yang dapat digali dan dipakai untuk hidup. Di dalam kandungannya tidak hanya terdapat mineral dan batuan yang mahal seperti emas. Alam sekaligus adalah rahim yang menyimpan sejuta kebijaksanaan, yang menunjukkan di mana peluang hidup tersimpan dan mengajarkan tentang bagaimana memanfaatkan peluang-peluang itu dalam batas-batas yang benar.

Sekolah alam mengingatkan bahwa setiap kebusukan akan tercium dan terbongkar, sementara keharuman akan selalu membahagiakan yang lain, biar itu cuma untuk seekor kupu-kupu. Alam adalah juga ingatan yang terpahat kokoh. Tidak ada yang terjadi tanpa meninggalkan bekas, tak ada sebab tanpa akibat, tak ada tindakan tanpa konsekuensi.

Wajah alam berubah bukan hanya getaran bumi yang sulit diramalkan, tetapi juga oleh kecerobohan membuang puntung rokok di pinggir jalan. Menebang hutan tanpa usaha reboisasi akan mengakibatkan bencana banjir dan mengurangkan persediaan air tanah, mungkin tidak segera, tetapi pasti di suatu waktu kelak. Pemaksaan kehendak untuk menambang emas dari rahim bumi akan mengubah seluruh ekosistem, dan dengan demikian mempengaruhi bahkan menghancurkan sama sekali kebudayaan masyarakat setempat.

Di sekolah alam kita diajar untuk selalu memikirkan sebuah tindakan lengkap dengan dengan akibatnya yang berjangka jauh. Ketika pikiran kita hanya terobsesi pada keuntungan jangka pendek dan sempit, alam mengingatkan bahwa bumi ini hanya satu dan segalanya berada dalam satu jalinan relasi. Saat kita memikirkan kemenangan dari satu kompetisi dengan menggunakan segala macam cara, alam menunjukkan bahwa cara-cara itu akan berpengaruh pada kualitas dan legitimasi kemenangan tersebut.

Tidak ada yang berlalu tanpa konsekuensi, dan konsekuensi tidak selalu muncul di depan hidung.

Alam adalah pembatasan. Kekayaannya terbatas, maka tidak dapat dieksploitasi hanya untuk mengenyangkan kebutuhan satu generasi. Alam mempertontonkan kisah kehidupan yang selalu menemukan batasnya. Yang mengisi alam menempati ruang yang terbatas. Bertumbuh dalam alam berarti mengambil ruang yang kian besar. Mengambil ruang terjadi dengan membaginya bersama yang lain.

Sangat sering, pembagian itu tidak adil. Ada yang berkembang demikian pesat dan tak terkontrol, sehingga mereka merampas ruang keberadaan dari yang lain, mendepaknya dalam wilayah yang sangat sempit, bahkah mengeliminasinya dari alam. Tidak sedikit spesies binatang dan jenis tumbuhan yang punah karena ketiadaan ruang hidup, semakin banyak manusia yang terusir dari tanah sendiri.

Hanya sedikit manusia memiliki ruang gerak dan ruang hidup sedemikian luas; mereka membeli tanah selama ada yang menjualnya, mengklaim lahan sebagai miliknya, merampas bidang olahan orang lain, sementara semakin banyak yang digusur tanahnya atau dipaksa menjual lahannya. Alam mengajarkan bahwa ruang itu terbatas. Sebab itu kita mesti berbagi ruang.

Alam adalah kekayaan serentak pembatasan. Di dalam alam kita dapat menggali berbagai kekayaan material dan spiritual. Kekayaan spiritual itu justru dilahirkan oleh keterbatasan alam. Alam yang terbatas dalam ruang dan waktu, mengantar kita untuk bersentuhan dengan yang tak terbatas oleh ruang dan waktu. Berhadapan dengan alam kita dapat diantar masuk ke sebuah perjumpaan dengan kekuatan dan diri yang mengatasi alam.

Alam bagaikan suara yang membahanakan keagungan penciptanya. Kedekatan dengan alam membawa manusia kembali ke kesejatian dirinya.

Yoseph Yoneta Motong Wuwur alumnus Fakultas Pertanian Universitas Flores-Ende

Simak Video "Video Pohon Keluarkan Suara Wanita Menangis Diserbu Warga"

[Gambas:Video 20detik]

(mmu/mmu)