Kolom

Memberi Ruang bagi Air

Silvester Petara Hurit - detikNews
Senin, 27 Jan 2020 12:02 WIB
Situ, salah satu ruang tempat manusia bersahabat dengan air (Foto: Lamhot Aritonang)
Jakarta -

Banjir yang melanda sejumlah kota di Tanah Air akibat dari abainya kita dalam memberi ruang bagi air untuk meresap dan mengalir secara memadai. Ruang hidupnya sudah direbut. Hutan tempat air meresap secara alamiah tak dirawat. Kali dan sungai tempat alirnya dijadikan tempat pembuangan limbah dan sampah. Embung, situ, rawa ditimbun. Banyak pekarangan rumah disemenisasi bahkan tak menyisakan sebidang kecil tanah bagi ruang resapnya.

Padahal bangsa ini punya sejarah mesra dengan air sejak berabad-abad lampau. Alam pikiran Indonesia menurut Jakob Sumardjo (2012) dibentuk oleh peradaban air. Kerajaan-kerajaan Nusantara dibangun dekat sungai atau sumber air. Arus transportasi dan perdagangan masa lalu bertumpu pada air. Air jadi simbol kemakmuran. Kearifan hidup dalam peradaban air menjadi puncak pencapaian bangsa ini di masa lalu.

Relasi mesra dengan air perlahan mulai ditinggalkan setelah kolonisasi Belanda. Industri pertanian, pertambangan, dan perdagangan perlahan merusak ekosistem hidup air. Sejarah tentang air dan perannya dalam membangun peradaban tak dipelajari dengan baik. Diperparah pembangunan sejumlah besar kota hari ini yang semakin tak bersahabat, tak memberi ruang yang layak bagi kelangsungan hidup dan gerak air.

Sahabat Terdekat

Air adalah sahabat terdekat manusia. Sebagian besar tubuh manusia terdiri dari air. Namun kepekaan, hormat, imaji, dan pemaknaan terhadapnya sudah setebal beton-beton kota dan sekeruh sungai yang melintasi kota-kota kita hari ini. Dunia kian mekanistis, teknologis, dan rasionalistis. Begitu pula sikap dan perlakuan terhadap air. Jadi material-fungsional pemenuh kebutuhan dahaga, mandi, cuci, dan kakus semata.

Proses terjadinya hujan termasuk bagaimana air menyembul dari perut bumi berupa mata air, mengalir secara riang berkelok-kelok membentuk sungai dan bersua laut yang tampak begitu elok kian berjarak dari anak-anak yang lahir dan besar dihimpit tembok-tembok bangunan kota. Juga butiran-butiran air yang turun ketika awal musim hujan tak dialami lagi sebagai keajaiban di mana biji-bijian yang tersembunyi dalam tanah, juga pohon-pohon tampak kering segera mengeluarkan tunas. Menghijau dan segar. Kekaguman dan keindahan pengalaman tersebut absen dari sebagian besar manusia kota saat ini.

Hidup jadi demikian kering. Main di tanah basah apalagi kena hujan dianggap hanya bikin sakit semata. Tanpa ada pengalaman menikmati keindahan dan kesegaran air rasanya akan sulit tumbuh perasaan bersahabat, hormat, dan kagum terhadapnya. Imaji tentang air yang penuh daya tak dapat lahir. Manusia jadi berjarak dan tak bersahabat lagi dengannya.

Padahal air sejak berabad-abad lampau sudah jadi simbol penting dan universal dalam semua tradisi keagamaan. Air menyimbolkan zat purba asal datangnya semua bentuk dan tujuan kembalinya semua bentuk (Mircea Eliade, 1979). Air berdaya mengikat dan membebaskan. Kisah penciptaan, ritus pembaharuan, pemulihan, dan pengkudusan tak lepas dari air sebagai medium serta simbol yang penuh daya.

Menjelma Banjir

Ketidakberesan mengelola air sebagai kebutuhan vital menjelaskan bahwa ada banyak hal yang dikelola secara lebih buruk. Keruhnya air menegaskan keruhnya wajah, pikiran dan nurani kita. Peran air sebagai simbol dan sarana membersihkan diri, sekaligus membasuh pikiran, hati, dan kesadaran termasuk kekuatan penyembuh dan pemulih erosi batin serta luka-luka kemanusiaan tak diperhatikan lagi.

Seperti air yang dibiarkan menjelma banjir, begitupun pelbagai penyakit sosial dipelihara dan dibiarkan meluber kemana-mana sehingga menambah berat laju perkembangan diri dan kemajuan bangsa ini. Dengan banjir yang meningkat belakangan kiranya semakin mendorong kita lebih cepat memulihkan relasi dengan air, supaya sesegera mungkin kita mengenali kembali wajah diri dan batin kita.

Air merupakan sahabat yang jujur buat bercermin. Menagih kita untuk sesegera mungkin berbenah agar semakin dekat dengan kehidupan dan kesegaran. Jika yang paling vital dan paling banyak menyusun bangunan tubuh tak diberi tempat yang pantas dan dirawat dengan baik, maka kita tengah semakin jauh dari diri serta kesadaran akan posisi dan peran kita di planet ini.

Bisa bersahabat dengan air yang tak bernyawa sebenarnya menjelaskan tingkat kepekaan dan kesadaran terhadap ruang hidup kita. Yang dianggap mati saja dihormati dan diberi tempat yang pantas dalam kehidupan, apalagi dengan sesama saudara yang hidup. Di sinilah fungsi saling topang di dalam semesta kehidupan mendapat tempat serta makna yang sesungguhnya sehingga keberlanjutan hidup di planet ini senantiasa awet dan berumur panjang.

Silvester Petara Hurit esais, tinggal di Lewotala Flores Timur

(mmu/mmu)