Jeda

Pasar Imlek Semawis dan Minoritas Terbuka

Harjanto Halim - detikNews
Minggu, 26 Jan 2020 12:10 WIB
Harjanto Halim (Ilustrasi: Luthfy Syahban/detikcom)
Jakarta -

Saya diwawancara sebuah media daring tentang perayaan Tahun Baru Imlek di Kota Semarang. Saya menceritakan bagaimana Tahun Baru Imlek di kota kelahiran saya disambut dengan cara merakyat, yaitu dengan diadakan Pasar Imlek Semawis (PIS) yang diadakan di jalanan di Pecinan, menampilkan bazar kuliner, pernak-pernik Imlek, pertunjukan seni budaya, gelar wicara, pameran dan jamuan Tuk Panjang.

"Semua orang datang dengan riang gembira, tanpa beban. Suk-sukan," ujar saya.

Si mas jurnalis mengernyitkan kening. "Suk-sukan itu apa, Pak?"

Saya nyengir. O ya, lupa, si mas ini orang Sunda, pasti ndak mudheng 'suk-sukan'.

"Artinya dempet-dempetan, hingga kulit dan kulit nempel. Kringet tuker kringet."

Si mas tertawa, demikian pula saya.

Saya lalu menegaskan soal tema keberagaman yang selama ini diusung PIS.

"Bagi saya keberagaman adalah keniscayaan...."

Si mas manthuk.

"Harus dilakukan kedua pihak, minoritas dan mayoritas, dengan penuh keterbukaan dan...." Saya sengaja menggantung kalimat.

Si mas menunggu.

"Keikhlasan."

Si mas mengangguk.

"Keikhlasan dan kesadaran bahwa ini dilakukan bukan karena alasan takut atau tekanan, tapi menyadari sepenuhnya bahwa itu baik. Gitu saja, sederhana."

Saya lalu mengimbuhkan sebuah pernyataan yang rupanya memancing polemik di antara sobat-sobat saya, saat video wawancara diunggah dan disebar. Saya mengatakan bahwa sebagai minoritas kita harus lebih membuka diri dan lebih toleran. "Dan itu berlaku di mana-mana, di semua negara di dunia," imbuh saya. Pernyataan saya langsung dikomentari dan dikritisi.

Ada yang mengatakan bahwa mayoritas yang harusnya lebih toleran.

"Jangan cuman minoritas yang kudu terus mengalah dan bersabar."

Hmmm.

Ada juga yang mengatakan bahwa dikotomi mayoritas-minoritas jangan diangkat lagi, karena itu akan menimbulkan kesan bahwa hal tersebut benar-benar ada.

"Tampaknya dia (maksudnya saya) telah sangat menerima menjadi minoritas."

Hehehe.

Ada juga yang bijaksana mengatakan bahwa harusnya mayoritas dan minoritas sama-sama terbuka, sama-sama toleran. Berimbang.

Menurut saya apa yang dikatakan sobat dan teman saya di atas semua benar. Tapi kenyataannya, keterbukaan dan toleransi antara mayoritas dan minoritas selalu akan menjadi pergumulan yang tak kunjung usai. Memang idealnya semua orang seharusnya memiliki hak, kewajiban, tanggung jawab, dan cara pandang yang sama.

Idealnya. Seharusnya. Kenyataannya?

Fisik beda, adat beda, bahasa beda, filosofi beda, cara kerja dan cara pikir beda, bagaimana mungkin perbedaan-perbedaan itu tidak menimbulkan salah-tafsir? Ada semacam persepsi inheren yang tertanam dan diwariskan dari generasi ke generasi, dari kelompok ke kelompok. Ada semacam stigma (biasanya negatif) yang sadar atau tidak, sengaja diajarkan dan ditularkan.

Jangankan di Tanah Air, di negara maju, isu primordial --ras, agama, imigran-- masih laku dijual. Lihat pemilihan presiden terakhir di Amerika Serikat. Di Singapura, apakah mungkin perdana menterinya orang India atau orang Melayu? Tanya almarhum Lee Kwan Yew. Sebaliknya di Malaysia, apakah mungkin perdana menterinya orang China?

Dan di Tanah Air juga terjadi hal yang sama. Coba bayangkan, apakah mungkin Presiden kita orang Ambon atau Papua yang beragama Nasrani? Ada semacam persepsi inheren yang berfungsi sebagai "alarm" yang mendadak menjerit nguing-nguing saat dihadapkan pada situasi tertentu, terutama soal kekuasaan politik dan ekonomi.

Mungkin kata minoritas dan mayoritas kurang tepat karena akan menciptakan kesan polaritas, berbeda, dan berseberangan. Tapi kenyataannya, persepsi dan pengelompokan selalu ada dan selalu hadir. Dan di zaman digital ini, istilahnya "diperhalus" bukan lagi Cina, pribumi, kelompok ini atau itu, tapi 'Grup Sebelah', 'Noni', atau 'Satu A'. Apa itu? Coba browsing dan cari sendiri.

Jangankan antaretnis atau agama berbeda, dalam etnis dan agama yang sama pun acap terjadi dikotomi.

Dan itu terjadi di semua etnis dan agama. Dalam etnis Tionghoa, ada suku Hokkian dan suku Hakka yang (dulu) acap berseteru untuk berbagai hal mulai dari cara kerja, adat pernikahan hingga menu makanan saat Imlek. Dalam agama Nasrani dan Islam pun banyak aliran yang saling menimbulkan pertentangan masing-masing.

Lalu bagaimana?

Saya lebih memilih mengangkat dan membicarakan isu etnis dan agama secara lebih terbuka, tanpa bermaksud mengkritisi, untuk mendapatkan pemahaman dan saling pengertian yang lebih mendalam. Pada akhirnya, seperti yang dikatakan mendiang Gus Dur, "Jika kamu berbuat baik, orang tidak akan bertanya apa agama atau apa etnismu."

Memang di zaman yang semakin maju dan tanpa batas, tidak penting lagi kita bertikai tentang agama(mu) atau etnis(mu). Coba kita berintrospeksi, apa yang sudah kita lakukan untuk keluarga, orang sekitar, lingkungan, masyarakat? Apa sumbangsih kita bagi kemajuan pendidikan anak-anak kita, bangsa kita?

Rendahkanlah dirimu, sehingga engkau tidak bisa direndahkan; mengalahlah sehingga engkau tidak bisa dikalahkan. Pada akhirnya ini bukan urusan minoritas atau mayoritas, pribumi atau non-pri, kafir non-kafir, tapi urusan kita dengan diri sendiri; urusan kita dengan Sang Pencipta. Bagaimana kita, sebagai minoritas atau mayoritas, bisa memanusiakan manusia dengan cara yang paling manusiawi; termasuk terhadap diri sendiri.

Sin Chun Kiong Hie. Thiam Hok Thiam Siu.

Harjanto Halim Ketua Perkumpulan Sosial Boen Hian Tong

(mmu/mmu)