Analisis Zuhairi Misrawi

Manifesto Ayatullah Ali Khamenei

Zuhairi Misrawi - detikNews
Kamis, 23 Jan 2020 16:00 WIB
Zuhairi Misrawi (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Di tengah tekanan Amerika Serikat dan negara-negara Eropa setelah martinya Qassem Soleimani, Iran terus bangkit menyuarakan sikapnya untuk tidak bertekuk lutut pada kesewang-wenangan dan penjajahan negara-negara Barat. Betapa buruknya stigma media asing yang ditujukan kepada Iran dengan narasi monolitik yang berlangsung puluhan tahun, tetapi negara yang kaya dengan peradaban masa lalunya ini terus mempererat persatuan untuk keluar dari kubangan tekanan dan sanksi ekonomi. Iran menolak bernegosiasi dengan AS.

Ayatullah Ali Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran (rahbar) menyampaikan manifesto politik dalam sebuah khutbah Jumat yang dihadiri jutaan warga Tehran, dan disiarkan langsung oleh media-media Arab dan Barat. Iran sebelum dan setelah martirnya Qassem Soleimani berada dalam dua masa yang berbeda. Tapi spirit yang dipedomani mayoritas warga Iran masih sama, bahkan jauh lebih kuat setelah martirnya Qassem Soleimani. Kenapa?

Ayatullah Ali Khamenei menggambarkan kemartiran Qassem Soleimani sebagai hari-hari Tuhan (ayyamullah) yang harus senantiasa diingat dengan baik, karena di dalamnya terdapat pelajaran yang sangat berharga untuk masa-masa mendatang yang akan disongsong Iran. Sebagaimana dijelaskan di dalam al-Quran, Surat Ibrahim ayat 5, Tuhan telah menjadikan "hari-hari Tuhan" sebagai pelajaran bagi orang-orang senantiasa bersabar dan bersyukur.

Dalam bentangan sejarah yang panjang, sejak revolusi Islam pada 1979, Iran telah terbukti berhasil melalui masa-masa yang sangat sulit. Bahkan, harus diakui, di tengah sanksi ekonomi yang diberlakukan AS, Iran justru berhasil membangun infrastruktur, persejataan militer, dan sains. Sebab itu, manifesto politik Ayatullah Ali Khameinei ingin mengirimkan pesan kepada warga Iran, dunia Arab, dan negara-negara Barat bahwa Iran tidak akan bertekuk lutut pada tekanan asing. Iran akan terus menjadi negara yang berdaulat dan meneruskan misi pembangunan dan kemajuan di berbagai sektor kehidupan.

Menurut Ayatullah Ali Khamenei, setidaknya ada dua peristiwa penting yang menjadi "hari-hari Tuhan" bagi warga Iran dalam beberapa momen belakangan ini. Pertama, penghormatan yang luar biasa terhadap jenazah Qassem Soleimani, baik di Iran, Irak, Yaman, Libanon, maupun Palestina. Kita melihat dengan kasat mata bahwa jutaan warga tumpah-ruah mengiringi jenazah Qassem Soleimani. Konon, penghormatan terhadap jenazah Qassem Soleimani merupakan peristiwa terbesar abad ini.

Itu maknanya, apa yang dilakukan AS dan sekutunya terhadap Iran tidak bisa memperlemah Iran, melainkan justru akan memperkuat Iran. Qassem Soleimani dituduh sebagai teroris oleh AS. Nyatanya, jutaan warga Iran dan warga dunia Arab menyebut Qassem Soleimani sebagai pahlawan dan martir (syahid). Ia justru korban dari kebiadaban teroris AS.

Orang-orang Kristen Suriah tidak akan pernah melupakan jasa Qassem Soleimani. Di saat daerah mereka dikepung oleh ISIS, justru Qassem Soleimani berhasil menyelamatkan mereka dari rencana jahat ISIS. Ia turun langsung ke medan pertempuran dengan menaiki helikopter, dan memimpin anak-anak muda dari kalangan Kristen untuk bertempur menumpas ISIS. Aksi heroik itu dicatat dengan tinta emas sebagai amal jariah Qassem Soleimani terhadap umat Kristiani di Suriah. Sebab itu pula, gereja-gereja di Suriah turut berdoa atas kemartiran Qassem Soleimani.

Kemartiran Qassem Soleimanin akan menjadi "madrasah" yang sangat penting untuk tegaknya nilai-nilai cinta, keikhlasan, dan kemanusiaan. Ia akan terus dikenang untuk terus memotivasi warga Iran agar memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan.

Kedua, serangan rudal-rudal Iran ke pangkalan militer AS di Irak, yang telah terbukti meluluhlantakkan dan menampar wajah AS yang disebut-sebut sebagai negara adidaya, khususnya dari segi militer. Serangan rudal-rudal Iran dengan akurat mencapai target dan sasaran.

Itu maknanya, meskipun Iran bertahun-tahun diembargo oleh AS dan sekutunya, nyatanya masih mampu memberikan perlawanan yang tidak main-main. Bahkan, AS memilih untuk tidak melakukan pembalasan, karena kekuatan militer Iran tak bisa diabaikan. Iran bukanlah Irak yang dengan mudah diobrak-abrik oleh AS.

Trump dan para penasihatnya berhitung betul jika diberlakukan perang secara terbuka, maka kerugian dan dampak yang akan ditanggung tidak hanya bagi AS, tetapi juga bagi sekutu-sekutunya, termasuk Israel. Iran saat ini jauh lebih siap untuk berperang, dan terbukti saat Iran berhasil mengirimkan rudal-rudalnya dan berhasil meluluhlantakkan pangkalan militer terbesar di Irak.

Maka dari itu, menurut Ayatullah Ali Khamenei, serangan rudal Iran ke pangkalan militer AS di Irak akan menjadi kado manis bagi Iran di masa-masa mendatang. Selama warga Iran terus bersabar dan bersyukur, maka Tuhan akan menunjukkan hari-hari-Nya.

Prancis, Jerman, dan Inggris terus menekan Iran. Mereka sepertinya takut pada ancaman dan tekanan Trump. Tapi, menurut Ayatullah Ali Khamenei, jika melawan AS saja Iran mampu menghadapinya, maka akan lebih mudah jika melawan Perancis, Jerman, dan Inggris. Sebab itu, ia menyampaikan pesan kepada negara-negara Eropa itu agar memilih jalan kebenaran dan keadilan daripada jalan kejahatan dan penjajahan.

Iran sadar betul, bahwa minyak selalu digunakan oleh AS dan sekutunya sebagai alat untuk melemahkan Iran. Karenanya, Iran harus keluar dari ketergantungan pada minyak. Perlu pengembangan ekonomi berbasis sains dan teknologi. Langkah ini sudah dilakukan Iran dalam beberapa dekade terakhir. Sumber daya manusia yang mumpuni merupakan jalan keluar dari tekanan AS dan sekutunya.

Tidak hanya itu, Ayatullah Ali Khamenei dalam kesempatan itu menyampaikan pesan penting kepada pemimpin dan warga dunia Arab agar menyadari bahaya intervensi dan dominasi AS di Timur-Tengah. Selama AS diberikan keleluasaan untuk mengendalikan ekonomi dan militer di Timur-Tengah, maka akan sulit bagi negara-negara Arab untuk terlepas dari kungkungan determinasi AS, sebagaimana dilakukan Israel terhadap Palestina. Dunia Arab harus berdikari dalam ekonomi dan militer, serta mempererat persatuan. Karena hanya dengan cara itu, dunia Arab akan merdeka dari kesewenang-wenangan AS.

Zuhairi Misrawi cendekiawan Nahdlatul Ulama, analis pemikiran dan politik Timur-Tengah di The Middle East Institute, Jakarta

(mmu/mmu)