Kolom

Jabar, Bioskop, dan Visi Budaya Ridwan Kamil

Iu Rusliana - detikNews
Selasa, 21 Jan 2020 15:25 WIB
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (Foto: Dok. Pemprov Jabar)
Jakarta -

Rasanya sedih membaca berita tentang Jawa Barat (Jabar) yang minim bioskop. Dalam berita itu dilaporkan ada 11 daerah yang belum memiliki bioskop. Sedihnya bukan karena minimnya bioskop, tapi jika seorang gubernur menurunkan visi pembangunan kebudayaan dan memberikan nilai kebahagiaan kepada warganya dengan program pembangunan bioskop, rasanya terlalu sederhana. Dalam level kebijakan, biarlah itu urusan pimpinan daerah di bawahnya.

Gubernur harus berpikir tentang sesuatu yang besar, visioner namun terasa langsung implementasinya oleh masyarakat. Jangan kemudian muncul kesan, gubernur rasa wali kota. Sebagai gubernur Jabar, Ridwan Kamil harus bekerja keras untuk menjadi gubernur rasa presiden.

Sebagai warga kota Bandung yang pernah dipimpin oleh Kang Emil sebagai wali kotanya, harus diakui inovasi layanan publiknya sangat keren. Kepastian waktu dan kecepatan layanannya membuat nyaman warga. Hanya saja, kini sebagai Gubernur, entah latar belakang arsiteknya itu pula membuat Kang Emil terkesan berorientasi ke artefak saja dalam proses pembangunan kebudayaannya. Padahal budaya itu juga meliputi perilaku yang eksplisit, norma, dan nilai individu yang implisit.

Apabila perilaku yang eksplisit dan artefak jelas terlihat karena ada bentuk fisiknya, sementara norma dan nilai yang implisit tidak terlihat kasat. Hanya saja harus disadari bahwa aspek fisik ditentukan norma dan nilai implisit yang diyakini. Nilai implisit itu bisa jadi berasal dari agama dan pemahaman budaya individu. Dengan demikian, selain harus berfokus pada ekspresi budaya dengan cara pendisiplinan dan membangun artefak dalam bentuk pusat kebudayaan, arena pertunjukan dan bioskop, hal yang jauh lebih utama adalah memastikan norma dan nilai yang dianut oleh masyarakat sesuai dengan visi dan misi.

Di bawah kepemimpinan kang Emil, sebenarnya sudah ada program yang terkait dengan orientasi pada norma dan nilai yang implisit itu, yaitu Jabar Masagi yang lebih pada penguatan karakter, Jabar Saber Hoax yang lebih pada upaya membersihkan anasir yang merusak pengetahuan dan pemahaman serta menimbulkan sesat pikir, program magrib mengaji, dan yang lainnya. Hanya saja, setahun ini rasanya baru bagus di kemasan dan publikasi, namun miskin dalam isi dan esensi.

Akibatnya Kang Emil seperti tenggelam di antara figur-figur pemimpin daerah yang sekarang sedang tampil. Padahal Jawa Barat adalah daerah dengan penduduk dan jumlah pemilih terbesar se-Indonesia. Bila saja kinerja dan citra politik Kang Emil bisa dimaksimalkan, maka posisinya saat ini dapat dikapitalisasi menjadi modal politik untuk maju di level nasional. Sebagai warga Jabar, tentu saja kita ingin ada tokoh Sunda yang manggung menjadi pemimpin nasional.

Terinspirasi oleh daerah lain seperti Banyuwangi boleh-boleh saja, tentu sesuai semangat Kang Emil untuk kolaborasinya. Hanya saja, keinginan untuk mendorong adanya bioskop di tiap daerah seharusnya mendasarkan ide dan gagasan itu pada visi-misi yang telah dideklarasikan. Apakah bioskop hadir sebagai bagian dari proses mengapresiasi produk kebudayaan dan penyampai nilai budaya kepada masyarakat?

Jika tujuannya itu, tentu saja model yang digunakan ini jauh dari inovasi, sebagaimana dibunyikan dalam visinya Kang Emil dan Kang Uu. Karena saat ini, Youtube dan media sosial jauh lebih langsung berinteraksi secara intim dan individual dengan masyarakat. Kecuali jika bioskop itu keberadaannya multifungsi, sebagai sarana mengapresiasi film, karya seni pertunjukan lainnya, dan tempat dilakukan interaksi luas lintas generasi dan golongan masyarakat, mungkin ini jauh lebih bermanfaat.

Budaya Juara

Hingga saat ini, belum ada pemaknaan tegas apa arti kata 'juara' pada visi Pemerintah Provinsi Jawa Barat 2018-2023. Namun kita patut menduga bahwa kata juara mengandung makna unggul, terbaik, berprestasi, bermanfaat, memiliki kemampuan kompetitif, sanggup terus berinovasi dalam semangat kolaborasi.

Sebagai warga masyarakat biasa, belum juga mendapatkan sosialisasi tentang apa makna budaya juara yang disebutkan dalam kata yang ada pada kalimat misi kedua. Idealnya ada proses sosialisasi dan penyamaan pemahaman nilai. Kanal-kanal media massa, media sosial, organisasi sosial kemasyarakatan, serta infrastruktur birokrasi dan pendidikan tampaknya belum digunakan untuk memberikan pemahaman tentang apa yang dimaksud budaya juara tersebut.

Tentu saja, lanjutannya terlihat dalam bentuk program yang terimplementasi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan terdistribusi pada seluruh lembaga di bawah pemerintah provinsi. Namun, apabila membaca berita, yang kita temukan hanyalah akan dibangunnya pusat kebudayaan di beberapa daerah. Lalu disampaikan juga oleh Kang Emil bahwa konten budaya lokal harus dihidupkan, dipopulerkan, dan dilestarikan. Hanya itu saja informasi yang diperoleh. Selebihnya seperti apa bentuk programnya bagaimana, anggarannya berapa, gelap tak jelas.

Untuk mencapai budaya juara, ada sejumlah hal yang harus dilakukan. Pertama, orientasikan program pada upaya penguatan nilai mendasar pada setiap individu. Jalur pendidikan menjadi pilihan tepat. Tentu saja prosesnya lama, hasilnya juga tidak akan terlihat meski periode kepemimpinan telah berakhir. Tapi inilah investasi budaya terbaik yang dapat diwariskan kepada generasi mendatang. Anak muda Jabar diberikan virus budaya juara, maka akan lahir Kang Emil dan kang Uu masa depan. Akan lahir orang-orang hebat dari Jabar di masa depan.

Kedua, pastikan birokrasi pendukung siap dengan visi dan misi tersebut. Sebaik apapun ide Gubernur dan Wakilnya, jika tidak dilanjutkan dengan program riil yang dilakukan oleh birokrasi sama saja dengan omong kosong. Sebut saja APBD 2019 masih belum sepenuhnya hasil proses kepemimpinan sekarang, maka tak ada alasan, kalau 2020 turunan visi misi itu terealisasi dalam bentuk program unggulan yang riil dan terasa.

Ketiga, libatkan pemangku kepentingan lainnya dalam kolaborasi yang kokoh. Sehingga irama pembangunan Jabar Juara Lahir Batin dapat meraih tonggak capaian yang ditetapkan. 2020 ini idealnya sudah 40 persen tercapai. Di mana mencapai 2023 nanti sudah seratus persen terpenuhi.

Keempat, jadilah pendengar dan libatkan banyak pihak. Budaya juara itu tagline unik. Karena ada kesan selama ini, orang Sunda suka mengalah (sok elehan). Jika saja budaya juara terbangun, maka kesan orang Sunda sok elehan akan terhapus. Peran budayawan, akademisi, dan pendidik dapat dimaksimalkan untuk menjadi perumus, penyebar dan pembangun gerakan kultural. Di sisi lain, birokrasi pemerintah provinsi dan kabupaten kota bergerak dalam pendekatan struktural budaya juara. Kolaborasi nyata terjadi, antara gerakan struktural melalui birokrasi dan kultural melalui kelompok masyarakat.

Kelima, ada kesan Kang Emil selama ini elitis. Tolong ubah karakter itu karena tentu saja kontra dengan budaya juara. Budaya tumbuh dari pikiran dan nilai yang dianut masyarakat. Semakin merakyat, semakin populis dan semakin mendorong budaya juara bertumbuh. Tidak hanya di birokrasi pemerintah provinsi, tapi juga di semua sistem dan pranata sosial warga Jawa Barat. Tentu saja tidak akan serta merta, perlu proses dan tahapan panjang. Tapi pemerintahan saat ini akan dicatat tinta emas sebagai peletak dasar budaya juara. Bagi Kang Emil, jelas ini bekal untuk meraih simpati dan dukungan jika hendak maju sebagai calon Presiden 2024. Wallaahu'alam.

Iu Rusliana dosen Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung




Simak Juga "Ahmad Dhani-Mulan Jameela Nonton Bioskop Bareng Fadli Zon"

[Gambas:Video 20detik]

(mmu/mmu)