Kolom

Tips Berdakwah di Era Digital

Hariqo Wibawa Satria - detikNews
Selasa, 21 Jan 2020 11:23 WIB
Hariqo Wibawa Satria
Jakarta - Saya pernah menyaksikan debat dua wartawan, yang satu ingin siaran langsung (live), satu lagi maunya siaran tunda (taping). Saya khawatir narasumbernya kepleset lidah, begitu pertimbangan pengusul siaran tunda, yang akhirnya disetujui keduanya. Begitulah kehati-hatian media memproduksi konten.

Dulu siaran langsung ribet sekali, membawa mobil besar berparabola dilengkapi jenset super berat. Sekarang bermodal sebatang HP, setiap orang bisa melakukan siaran langsung. Dalam pengajian keagamaan, kadang sang penceramah tidak tahu di antara jamaahnya ada yang merekam atau menyiarkan secara langsung ceramahnya.

Sebab itu kesadaran akan kemajemukan warga Indonesia dan dunia harus tertanam dalam diri pendakwah. Ia juga perlu mengingatkan jamaah untuk bijak menggunakan HP. Berikut 10 tips dakwah di era digital untuk pendakwah dari agama apapun:

PERTAMA. Pendakwah harus baper (bawa perasaan). Maksudnya mesti membawa perasaan atau melibatkan hati kecilnya sebelum berceramah. Pendakwah harus merasa-rasakan betul, apakah yang disampaikannya pantas. Bapernya pun bukan baper biasa, tapi baper ilmiah.

Untuk mencapai baper ilmiah ini, pendakwah sebaiknya membaca berbagai penelitian, buku sejarah tentang Indonesia dan dunia. Intinya pendakwah wajib memahami kemajemukan NKRI yang di dalamnya hidup 6 agama, 187 kelompok penghayat kepercayaan, 1331 suku, 652 bahasa daerah, 431.465 organisasi kemasyarakatan. Ingat, pertahanan sebuah bangsa di antaranya kerukunan dan kekompakan masyarakatnya. Kita semua serta pendakwah apapun agamanya wajib menjaganya.

KEDUA. Memakan konten dari banyak sumber. Jika pendakwah hanya mengkonsumsi konten yang diterbitkan satu golongan saja, ia bisa dirasuki kecintaan luar biasa pada A dan kebencian berbahaya pada B. Hal sama juga bisa terjadi pada siapapun yang mendengar satu pendakwah saja.

KETIGA. Punya akun resmi, di situ setiap video diunggah utuh. Sehingga jika ada potongan video yang dirasa kurang pas, masyarakat bisa merujuk ke video utuh di akun resmi tersebut.

KEEMPAT. Hati-hati dengan politik dalam negeri dan luar negeri. Jangan diperalat partai politik dalam negeri atau Anda bekerja untuk kepentingan negara lain. Mari kita mengarusutamakan kepentingan nasional di atas kepentingan golongan apalagi pribadi.

KELIMA. Dakwah di era digital itu kerja tim. Penceramah seperti frontman, di belakang mereka harus ada litbang, tim teknis, dan lain-lain. Produksi konten berdasarkan riset, dan sebarkan sesuai target. Resapi respons masyarakat di kolom komentar medsos, pemberitaan media, masukan para pakar, dll. Tim ini juga harus mampu membedakan hater, lover dan yang objektif. Medsos itu intinya; produksi, distribusi dan interaksi. Konten ceramah akan abadi di internet, karenanya produksi harus benar-benar serius, sebagaimana media mainstream memproduksi konten. Waspadai juga akun palsu pengadudomba antarumat beragama di internet.

KEENAM. Pendakwah harus jujur menyampaikan latar belakang pendidikannya, disiplin ilmu yang dikuasai. Tidak memaksakan menjawab pertanyaan yang belum diketahui. Masyarakat juga harus diberikan cara belajar agama, direkomendasikan buku, kitab yang perlu dibaca.

KETUJUH. Pengelolaan data. Video ceramah sebaiknya disimpan di website yang dibuat sendiri, karena media sosial rentan hilang akunnya karena dihack, atau media sosialnya bermasalah sehingga dilarang beroperasi. Atau bisa juga di back-up di hardisk atau sarana penyimpanan online lainnya yang terpercaya.

KEDELAPAN. Banyak sorotan masyarakat terkait kesesuaian perkataan dan perbuatan pendakwah. Kemudian godaan politik dalam berbagai pemilihan langsung. Rayuan popularitas dan persaingan antarsesama pendakwah. Jauhi fanatisme berlebihan kepada pendakwah, di sini pendakwah sebaiknya mengingatkan masyarakat, bahwa manusia tempatnya kesalahan, lalu mengatakan "saya adalah manusia". Antarpendakwah sebaiknya menjaga etika saat mengkritik pendakwah lain, untuk menghindari kubu-kubuan di masyarakat.

KESEMBILAN. Ada masanya pendakwah harus puasa ceramah, waktu itu dapat digunakan untuk memperdalam ilmu, evaluasi, meningkatkan pemahaman terhadap karakter dan perilaku audience, membaca berbagai hasil penelitian, perkembangan ekonomi, sosial budaya, dll. Setelah itu mereka dapat kembali.

KESEPULUH. Pertimbangkan melakukan siaran langsung, sebaiknya siaran tunda. Ingatkan jamaah yang hadir agar menggunakan alat perekam suara dan HP dengan bijaksana. Nah tak kalah pentingnya, bacalah UU No 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran, UU RI Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, Kode Etik Jurnalistik, UU ITE 2008, UU RI Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, P3SPS, Peraturan penggunaan setiap media sosial, dll

KESEBELAS. Bagi siapapun yang ingin menjadi pendakwah harus menguasai, memahami bahasa asli dari kitab suci mereka. Jika Islam yang harus paham bahasa arab, ilmu hadist, dll. Baca juga riwayat hidup para pendakwah, di situ terlihat betapa lamanya mereka belajar, menghafal, dll. Tidak ada jalur cepat menjadi pendakwah. Menyampaikan firman Tuhan itu perlu ilmu, penalaran, metodologi, dll.

Bagaimana jika ada pendakwah mengingatkan pemerintah?. Boleh saja, misalnya mengingatkan tentang kesenjangan ekonomi, korupsi, bahaya radikalisme, separatisme, merawat lingkungan dll. Yang penting tidak mengembangkan kebencian terhadap keyakinan orang, pemerintah apalagi Negara. Hindari fitnah, pelecehan SARA, menyampaikan sesuatu di luar kapasitas Anda.

Sedikit melebar, kritik dari pendakwah salahsatunya disebabkan semakin langkanya kritik dari kampus, kaum intelektual terhadap pemerintah. Dugaan saya, jika para anggota DPR/DPRD, DPD, Profesor, Doktor, para Dosen di kampus aktif menjadi penyambung lidah rakyat, maka para pendakwah tidak akan lagi mewakili peran mereka yang digaji untuk mengawasi pemerintahan tersebut.

Wijayanto dan Fajar Nursahid dari LP3ES (Center for Media and Democracy) pernah menulis artikel berjudul "Masalah-Masalah Demokrasi Kita Hari Ini" (detik.com. 3 Agutus 2019). Menurut mereka, baru kali ini sejak era Reformasi kampus begitu berlomba-lomba merapat kepada kekuasaan. Keduanya menyoroti semakin langkanya kritik pada pemerintah, padahal kritik itulah yang menyelamatkan demokrasi.

Hariqo Wibawa Satria
Pengamat Media Sosial dari Komunikonten, Penulis Buku Seni Mengelola Tim Media Sosial. Co Founder Global Influencer School (erd/erd)