Meluruskan Makna Jihad (13)

Revolusi Tanpa Setetas Darah

Nasaruddin Umar - detikNews
Senin, 20 Jan 2020 17:05 WIB
Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA (Ilustrasi: M. Fakhry Arrizal/detikcom)
Jakarta - Revolusi besar tanpa setetes darah betul-betul terjadi, itulah peristiwa Fathu Makkah. Ketika tekanan dan siksaan kaum Quraisy Mekah semakin meningkat dan mereka merencanakan untuk mengeksekusi Nabi Muhammad di tengah malam. Kediaman Nabi SAW dipagar betis pasukan elit kafir Quraisy. Untung Nabi beserta Abu Bakar lolos dari pagar betis tersebut. Di dalam rumah persembunyian Ali bin Abi Thalib mengecoh mereka dengan tidur di tempat tidur Nabi dan menggunakan selimutnya.

Mereka menyangka Nabi masih tertidur. Saat mereka akan mengeksekusinya mereka sempat membuka selimut itu, alangkah kagetnya kalau yang ada dalam selimut itu bukan Muhammad, melainkan Ali. Mereka menyebar mencari dan memburu Nabi. Untung mereka tidak sampai memasuki tempat persembunyian Nabi di Gua Tsaur, karena mereka yakin tidak ada siapa-siapa di dalam gua karena masih utuh sarang laba-laba menutupi gua, di tambah burung-burung masih bertahan mengerami telur di mulut goa.

Akhirnya keluarga Nabi dan umat Islam Mekah melakukan eksodus besar-besaran ke Yathrib belakangan diganti menjadi Madinah oleh Nabi. Berbagai properti warisan istrinya, Khadijah, seperti rumah dan tanah ditinggalkan begitu saja di Mekah demi menyelamatkan diri dan misi ajaran besar yang diembannya. Selama di Madinah, Nabi membangun kekuatan umat di samping menggalakkan syiar ke kabilah dan suku bangsa secara luas, sampai ke negeri tetangga.

Setelah merasa cukup kuat, Nabi mengatur strategi untuk merebut kota Mekah. Nabi memilih penyerangan malam hari Ramadhan. Ia membagi tiga pasukannya sebagai taktik. Satu kelompok lewat bukit, satu kelompok lewat lembah, dan kelompok lain di jalur normal. Abi Sufyan, pimpinan kaum Kafir Quraisy, tidak menyangka pasukan Rasulullah berjumlah besar dan dengan taktik yang canggih. Ia mengira pasukan Rasulullah hanya yang lewat jalan normal. Ternyata saat yang tepat pasukan bukit dan pasukan lembah berjumpa di perbatasan kota Mekah.

Kaum kafir Quraisy Mekah sangat ketakutan. Mereka menunggu diri mereka dieksekusi sebagaimana layaknya tradisi perang kabilah, yang kalah laki-lakinya dibunuh dan perempuannya dijadikan budak bersama anak-anaknya. Alangkah kagetnya mereka setelah Nabi meneriakkan, "Antum thulaqa!" (Kalian semua sudah bebas!).

"Siapa yang masuk ke dalam pekarangan Kabah aman, masuk ke rumah Abi Sufyan aman, dan masuk ke dalam rumah dan mengunci rumah juga aman."

Akhirnya Abi Sufyan bersama pembesar Quraisy menyerah dan bersedia mengikuti petunjuk Nabi. Selanjutnya Nabi meminta kepada para pimpinan pasukannya untuk menyatakan, "Al-yaum yaum al-marhamah." (Hari ini hari kasih sayang).

Salah seorang sahabat Nabi berteriak, "Al-yau yaumul malhamah!" (Hari ini adalah hari pertumpahan darah). Penduduk Mekah kembali ketakutan lalu Abi Sufyan protes, kenapa menjadi hari pertumpahan darah padahal tadi diumumkan hari kasih sayang dan hari pengampunan. Nabi menjawab, tidak begitu maksudnya. Sahabat itu cadel, tidak bisa menyebut huruf ra, sehingga huruf ra diucapkan dengan la. Maka jadinya al-yaum yaul al-marhamah (hari ini hari kasih sayang) diucapkan al-yaum yaum al-malhamah (hari ini hari pertumpahan darah).

Setelah itu Nabi meminta sahabat tadi berhenti bicara dan mengikuti persepakatan. Penyelesaian Fathu Makkah sangat manusiawi dan menyalahi tradisi perang Arab. Hari itu betul-betul tidak ada balas dendam. Revolusi tanpa setetes darah. Revolusi tanpa balas dendam. Revolusi dengan biaya murah, dan revolusi yang melahirkan keutuhan dan kedamaian monumental. Itulah revolusi Nabi. Dunia tercengang menyaksikan kearifan seorang Nabi Muhammad. Rekonsiliasi yang dilakukan Nabi patut dicontoh oleh siapapun juga. Inilah revolusi tanpa setetes darah.

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta

(mmu/mmu)