Kolom

Ramai-Ramai Ingin Kembali ke Masa Kerajaan

Ardi Winangun - detikNews
Senin, 20 Jan 2020 15:29 WIB
Foto: 20Detik
Jakarta - Satu per satu di beberapa daerah muncul gerakan-gerakan mendirikan keraton yang pernah hidup pada masa lalu. Terlepas dari motif yang ada, fenomena yang demikian sangat menarik untuk dikaji. Mereka yang menjadi pemimpin dan anggota komunitas keraton atau kerajaan masa lalu, yakin bahwa 'negara' yang dijunjungnya pada masa lalu mampu membangun tatanan hidup yang makmur, adil, sejahtera, gemah ripah loh jinawi, serta mempunyai pengaruh ke manca negara.

Cerita, kenangan, dan sejarah yang demikian inilah yang ingin diruwat masyarakat. Masa lalu yang penuh keindahan dan kemakmuran itu ingin diaktualisasikan bahkan ingin dirasakan dan dihidupkan kembali. Untuk itu mereka berusaha untuk mengaktualisasikan masa lalu.

Fenomena 'orang ingin kembali masa lalu' itu tidak terlepas dari fenomena yang dirasakan masyarakat sekarang. Orang ingin kembali pada masa lalu, biasanya mereka melihat dan merasakan bahwa pada masa lalu itu dirasa lebih enak, aman, nyaman, dan damai. Lihat saja beberapa waktu yang lalu, ada tulisan-tulisan yang mengatakan, Piye Kabare, Enak Jamanku To? Kalimat yang demikian biasanya dibarengi dengan foto Presiden Soeharto yang sedang tersenyum.

Orang ingin 'kembali' pada masa Presiden Soeharto, memang harus diakui pada masa itu ada suasana stabilitas yang tinggi sehingga kehidupan cenderung lebih tenang. Orang ingin kembali kepada masa Soeharto, bisa jadi selepas Soeharto tidak berkuasa, suasana yang ada justru tidak membaik namun sebaliknya, penuh kegaduhan dan antarmasyarakat sendiri terjadi konflik.

Pun demikian bila orang ingin kembali ke masa Majapahit, Sriwijaya, Demak, dan masa lalu-masa lalu lainnya, bisa jadi masa sekarang adalah masa yang serba tidak menentu, hidup serba susah, susah mendapat pekerjaan, sulit mencari penghidupan, serta hidup di bawah tekanan bangsa lain.

Haruskah kita kembali pada masa lalu agar kita hidup dalam suasana nyaman, aman, damai, dan serba kecukupan sandang, pangan, dan papan? Kembali ke masa lalu pastinya tidak mungkin sebab waktu tidak bisa ditarik mundur. Waktu selalu berjalan ke depan. Bila disebut ada lorong waktu, para ilmuwan fisika saat ini masih terus meneliti masalah itu dan belum ada kesimpulan dan rumus yang pasti tentang lorong waktu.

Bila dalam catatan sejarah masa lalu ditulis penuh dengan kegemilangan, hal demikian bisa jadi benar adanya, ada faktanya. Bisa pula karena sejarah yang ditulis sejarawan terlalu bombastis. Sebagai manusia yang juga punya rasa subjektif, sejarawan dalam membuat tulisan bisa saja menulis dari satu sisi saja. Sejarawan menulis cerita tentang kegemilangan sebuah kerajaan atau keraton, bisa jadi ada motif-motif tertentu, seperti untuk membangkitkan nasionalisme, menguatkan persatuan, menceritakan pada masa itu penuh kemakmuran. Tulisan yang ada itu dijadikan pijakan bahwa kita adalah bangsa yang besar.

Namun perlu diingat bahwa pada masa lalu, cerita dan fakta yang ada tidak hanya kegemilangan dan kemakmuran. Pada masa lalu kalau berdasarkan fakta dan sejarah yang ada, sebenarnya bisa dikatakan lebih parah daripada masa sekarang. Lebih parah? Ya, lihat saja bagaimana pada masa lalu, elite-elite kekuasaan yang ada untuk memperebutkan kekuasaan mereka harus saling bunuh. Dengan intrik-intrik licik, lihat saja bagaimana seseorang membunuh sahabat, orang terdekat, saudara sendiri bahkan orangtua dan anaknya saling bunuh sampai tujuh turunan hanya demi kekuasaan.

Sejarah Nusantara menyuguhkan lakon yang demikian. Bagaimana perang terjadi antarsaudara hanya demi mendapatkan tahta raja. Sisi-sisi gelap inilah yang kurang diekspose dalam sejarah.

Sejarah yang ada lebih menekankan pada kegemilangan, kemakmuran, murah sandang, pangan, dan papan sehingga hal demikianlah yang membuat orang ingin kembali ke masa lalu. Masyarakat kurang mendapat cerita pada masa lalu yang sesungguhnya pada masa lalu juga ada konflik, perampokan, kegaduhan, paceklik, susah ekonomi, perang, dan sisi-sisi gelap lainnya.

Bila masyarakat tahu bahwa sebenarnya pada masa lalu ada sisi-sisi gelap, pastinya mereka tidak ingin kembali ke masa lalu. Bila tidak ingin kembali ke masa lalu, pastinya mereka tidak berhalusinasi untuk bisa hidup pada masa itu.

Untuk itulah di sini pemerintah harus mampu menciptakan masyarakat tidak berhalusinasi untuk kembali ke masa lalu. Apa yang menjadi problem dari anggota komunitas kerajaan atau keraton masa lalu, apakah karena faktor ekonomi, pekerjaan, pendidikan, sistem pemerintahan, sehingga faktor itu membuat mereka ingin kembali ke masa lalu. Hal-hal demikianlah yang harus diperhatikan oleh pemerintah.

Bila para anggota komunitas banyak yang pengangguran, maka pemerintah harus menciptakan lapangan pekerjaan. Bila para anggota komunitas masa lalu ingin suasana damai dan aman, maka semua pihak yang saat ini berebut kekuasaan harus bisa menahan diri agar tercipta ketenangan dan kedamaian.

Ardi Winangun wartawan, tinggal di Jakarta

(mmu/mmu)