Jeda

Tomat, Ciplukan, dan Penyimpangan Populasi

Mumu Aloha - detikNews
Minggu, 19 Jan 2020 13:39 WIB
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta - Kebiasaan (dan mungkin juga ketelatenan) saya menebar biji-biji buah-buahan yang habis saya makan akhirnya menghasilkan sesuatu yang menyenangkan. Biji tomat, biji melon, bahkan biji alpukat tubuh subur, dengan daun yang nggrembuyung setelah saya pindahkan dari ampas teh dan kopi yang saya tampung di sebuah wadah, ke medium tanam yang sengaja saya beli dari toko tani di dekat rumah saya.

Saya pun dengan rajin menyiram tetumbuhan itu setiap pagi dan sepulang kerja. Ketika tanaman melon dan tomat itu mulai berbunga -lupakan alpukat yang harus menunggu entah berapa puluh tahun lagi- hati saya pun ikut berbunga-bunga. Saya mendadak merasa menjadi orang yang berbakat dengan dunia tanam-menanam. Bahkan langsung terbersit di benak saya, apa perlu segera beralih profesi menjadi petani melon?

Namun, rupanya saya terlalu jumawa. Perawatan dengan hanya penyiraman saja ternyata tidak cukup. Bunga-bunga yang bermekaran itu beberapa hari kemudian mengering, dan berguguran, sebelum sempat menjadi bakal buah. Saya memandang sedih tanaman-tanaman dalam pot itu, dan menyesal kenapa tidak memberinya pupuk. Bahkan, daun-daunnya pun kemudian mulai keriting, diserang semacam hama putih-putih seperti kapas yang entah datang dari mana.

Sebenarnya belum terlambat. Saya bisa saja segara berlari ke toko tani -yang benar-benar cuma selemparan tombak dari tempat tinggal saya- untuk membeli pupuk, dan menyelamatkan pohon-pohon tomat dan melon saya.

Tapi, lalu saya berpikir, apa mesti seserius itu? Bukankah semua ini hanya berawal dari keisengan saja, walaupun seperti telah saya bilang tadi, ada unsur ketaletan juga. Maksud saya, saya melakukan semua ini hanya sebagai sambilan pengisi waktu luang. Lha, kalau harus melakukan pemupukan segala, walah, itu namanya bertani beneran!

Maka, akhirnya saya biarkan dan saya relakan pohon-pohon tomat dan melon saya meranggas. Lama-lama bahkan saya mulai malas untuk menyiraminya lagi -buat apa? Mereka telah mengecewakan saya. Hingga akhirnya, lama-lama pepohonan yang awalnya subur ijo royo-royo itu pun layu, mengering, dan mati. Namun, beberapa hari kemudian, pada suatu pagi saya dikejutkan oleh beberapa tunas tanaman lain yang tumbuh di pot-pot itu. Jelas bukan tomat atau pun melon yang beregenerasi.

Sabar menunggu, beberapa hari kemudian terjawablah misterinya, bahwa yang tumbuh dengan sendirinya itu adalah pohon ciplukan. Saya tidak begitu heran bahwa pohon itu bisa tumbuh sendiri tanpa ditanam. Alam kadang memang memberikan keajaibannya pada kita. Di tanah-tanah kosong bersemak di dekat rumah saya juga sering terlihat pohon ciplukan tumbuh di antara rerumput liar dan perdu-perdu tak bernama lainnya.

Kekecewaan saya terobati ketika pohon ciplukan itu, yang tak pernah saya sirami, terus tumbuh, besar, berbunga, lalu berbuah dan...ya buah-buah yang matang itu berjatuhan, saya punguti, saya makan...manis sekali rasanya. Sejumlah buah ciplukan saya biarkan jatuh di pot, dan akhirnya tumbuh lagi pohon-pohon ciplukan baru. Saya sudah melupakan melon dan tomat yang manja dan tinggal sisa-sisa batang yang mengering itu, dan mulai menikmati pohon-pohon ciplukan yang rimbun, dengan buah yang banyak, dan menjadi pemandangan segar, tanpa harus saya apa-apakan.

***

Kekecewaan saya kehilangan kesempatan untuk menikmati panen melon dan tomat lumayan terobati. Ciplukan, atau Physalis angulata toh masih satu famili dengan tomat, yakni dari keluarga Solanaceae atau terong-terongan. Orang Jawa menyebutnya ceplukan orang Sunda bilang cecendet. Dalam bahasa Inggris namanya keren, morel berry.

Bahkan ada yang menyebutnya sebagai golden berries, merujuk pada warnanya yang kuning atau oranye berkilau. Buahnya kecil-kecil, terbungkus selubung kulit tipis yang bulat meruncing, yang merupakan perbesaran dari kelompak bunga. Pada era ketika gaya hidup sehat masyarakat modern melahirkan produksi dan konsumsi buah dan sayuran organik, ciplukan "kembali" sebagai buah yang dijual mahal di supermarket, dikemas secara menarik dalam kotak plastik mika.

Dunia kesehatan pun beramai-ramai membicarakan kembali buah ini, mengulik-ngulik kasiatnya. Sejumlah mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian UGM mengolah ciplukan menjadi produk minuman dalam bentuk teh celup. Teh ciplukan yang diberi label Cipcup Tea itu utamanya ditujukan bagi para penderita diabetes. Bagi Anda yang mengidap penyakit tersebut, silakan coba.

Sekelompok mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya melangkah lebih jauh dengan menjadikan ciplukan sebagai cemilan dalam bentuk foodbar. Inovasi bertemu dengan peluang pasar, dan membuat orang-orang menjadi kreatif. Sejumlah mahasiswa IPB tak mau ketinggalan dengan mengolah ciplukan sebagai minuman siap saji dalam botol. Semua dengan embel-embel sehat, sehat, sehat.

Situs-situs berita pertanian membuat berita dengan judul bombastis, semisal Buah Liar Dobrak Pasar, dan mengangkat kisah-kisah sukses orang-orang yang telah "menjinakkan" buah tersebut dan memberinya nilai tambah.

Saya memandangi pohon-pohon ciplukan dalam pot yang berderet di depan rumah saya, yang makin hari kian tumbuh banyak. Saya bersihkan sisa-sisa pohon melon dan tomat yang telah benar-benar mati. Saya pindahkan tunas-tunas pohon ciplukan yang bergerumbul dalam satu pot ke pot-pot lain yang sudah kosong. Setiap pagi saya menikmati pemandangan pepohonan ciplukan sebagai semacam keajaiban kecil yang turun dari langit.

***

Tidak buruk, pikir saya. Tak ada tomat, ciplukan pun jadi. Dari keisengan (dengan sedikit ketelatenan) saya telah belajar bahwa pohon-pohon tertentu, seperti melon dan tomat, juga cabe dan bawang yang saya tanam di sela-selanya, yang telah sempat tumbuh subur dan menjanjikan, pada akhirnya meranggas karena perawatan yang buruk dan tidak intens.

Beberapa orang, yang mungkin termasuk di antara kita, atau anak-anak kita, adalah pohon tomat. Perlu penanganan dan perlakuan khusus, bukan hanya karena lebih peka terhadap hasil negatif, tetapi terhadap segala sesuatu. Mereka tidak mau tumbuh di tanah yang tidak dipupuk, seperti ciplukan. Sementara, sebagian besar orang mungkin seperti ciplukan; mereka berakhir sebagai orang yang baik-baik saja dalam sebagian besar situasi.

Apakah yang satu lebih baik daripada yang lain? Apakah ciplukan buruk dan tomat baik, atau sebaliknya? Dengan lingkungan dan pengasuhan yang buruk, "anak-anak tomat" bisa berakhir sebagai orang yang depresi, gagal, "tidak berprestasi". Tetapi dengan lingkungan yang benar dan pengasuhan yang baik, mereka bisa tumbuh menjadi buah yang berkilau --orang-orang yang kreatif, sukses, dan bahagia di masyarakat.

Terlalu sering kita memberi nilai dan label "baik" atau "buruk", "pandai" atau "bodoh", padahal yang lebih tepat adalah berbeda. Bagaimana jika dokter memberi tahu Anda bahwa tubuh bagian atas putra Anda terlalu panjang, tungkai kakinya terlalu pendek, tangan dan kakinya terlalu besar, dan ia akan memiliki lengan yang kurus serta panjang? Semua itu kedengarnnya tidak "bagus", jauh dari "proporsional" dan "ideal".

Tapi, jika seorang pelatih renang mendengarnya, ia tidak akan membayangkan apapun kecuali....medali emas Olimpiade! Michael Phelps boleh dibilang terlahir dengan raga yang "tidak sempurna". Dengan gambaran kondisi seperti di atas, ia tidak mungkin bisa berlari dengan baik. Bahkan seolah-olah ia tidak dirancang untuk bergerak di daratan. Namun, sekumpulan ciri ganjil Phelps menjadikannya sangat cocok untuk menjadi perenang yang menakjubkan. Dan, cerita selanjutnya, kita sudah tahu.

Hindari naluri untuk senantiasa memberi label "baik" dan "buruk", "normal" dan "tidak normal". Darwin mengatakan, semua evolusi terjadi secara bertahap, namun kadang-kadang alam mencoba sesuatu yang lain. Selalu ada penyimpangan dari norma dalam suatu populasi. Di lingkungan yang tepat, buruk bisa menjadi baik, dan ganjil bisa menjadi indah.

Waspada dan selalu curiga dengan "rata-rata" atau "umumnya". Tak perlu menjadi ahli matematika untuk kita tahu bahwa rata-rata bisa mengecoh. Bahkan secara ekstrem bisa dikatakan, angka rata-rata tidaklah penting; yang penting adalah varian --penyimpangan dari normal. Nasihat lama mengatakan, kenali dirimu. Kita, anak-anak kita, tidak perlu pandai dalam segala hal, tetapi perlu untuk mengenal kekuatan dan memilih hal-hal yang cocok dengan kekuatan itu.

Tomat tidak bisa tumbuh di sembarang tempat. Ketika telah tumbuh di tempat yang tepat pun, ia masih perlu perawatan yang benar. Pilihlah tempat tumbuhmu. Jadilah tomat, atau ciplukan. Dengan penanganan khusus, harga dan "gengsi" ciplukan kini telah melampaui tomat, yang pada saat-saat tertentu, ketika panen melimpah dan harganya anjlok, justru menjadi tidak bernilai, bahkan dibuang-buang di jalanan.

Mumu Aloha wartawan, penulis, editor

(mmu/mmu)