Kolom

Internet, Tipuan, dan Parade Kesan

Shany Kasysyaf - detikNews
Jumat, 17 Jan 2020 15:19 WIB
Foto: Istimewa
Jakarta -

Study: 70% of Facebook users only read the headline of science stories before commenting. Kalimat ini adalah judul sebuah berita yang pertama kali terbit di thesciencepost.com tiga tahun lalu. Ketika terbit pada 2016, tautannya dibagikan oleh lebih 46.000 pengguna internet. Dua tahun lalu artikelnya tayang ulang dan dibagikan oleh 145.000 pembaca.

Sekilas, tautan tersebut tampak normal. Paragraf pertamanya seperti benar-benar menjalankan tugas sebagai kepala berita yang menjelaskan inti dari keseluruhan berita. Tapi jika dibaca hingga tuntas, paragraf kedua hingga selesai hanya menyajikan teks berbahasa latin yang biasa kita temukan pada template; Lorem Ipsum.

Science Post
adalah situs yang rutin menerbitkan konten satire. Situs ini dikelola oleh beberapa profesor dan doktor. Editor situs tersebut, yang menulis tautan di atas secara anonim, menjelaskan ke Washington Post dalam suatu wawancara tentang kejengahannya melihat banyak konten berita fiktif secara sukarela dan sadar dibagikan oleh para pengguna internet.

Karena itulah konten berita lorem ipsum dibuat. Dengan niat baik memperingatkan orang-orang agar berhati-hati menyebarkan informasi. Namun, sepertinya pesan itu tak sampai pada semua pengguna internet, mengingat betapa banyak konten tersebut dibagikan oleh pengguna. Entah karena iseng, atau termakan keisengan. Kita bisa optimistis bahwa orang-orang membagikannya karena alasan pertama.

Tapi, sebuah riset dilakukan oleh Augustin Chaitreau bersama rekan-rekannya dari Columbia University dan French National Institute pada tahun yang sama ketika berita iseng lorem ipsum itu diproduksi. Dalam risetnya, Chaitreau dan rekan-rekannya menemukan bahwa 59 persen tautan yang dibagikan di media sosial tidak pernah benar-benar dibuka. Kebanyakan orang tampaknya membagikan berita tanpa pernah membacanya.

Jadi jelas kalau konten berita jalang yang sedang kita bicarakan dibagikan karena orang-orang termakan keisengan. "Ini adalah bentuk konsumsi informasi modern. Orang mendasarkan opininya pada ringkasan, bahkan ringkasan yang diringkas, tanpa usaha untuk mendalami (persoalan)," begitu kata Arnold Legout, salah satu rekan penelitian Chaitreau ketika diwawancarai oleh The Washington Post soal riset mereka.

Mengapa orang-orang tergesa seperti itu? Berkomentar, membagikan sesuatu, memutuskan tindakan; apa yang sedang mereka kejar?

"Citra dalam masyarakat modern menggantikan semua yang sejati," kata Guy Debord yang seorang filsuf sekaligus pembuat film asal Prancis dalam bukunya The Society of the Spectacle (Prancis: La société du spectacle). Karena latar belakangnya sebagai orang film, Debord banyak menggunakan istilah film untuk menjelaskan gagasan dan fenomena yang dia amati, termasuk spektakel.

Spektakel punya beberapa tafsir dalam kamus etimologi yang bisa kita akses secara daring. Dalam bahasa Prancis kuno, spektakel bisa berarti penglihatan, atau pertunjukan. Sementara dalam bahasa Latin artinya lebih spesifik, tempat duduk penonton.

Oleh Debord, konsep spektakel dibangun ulang sebagai alat untuk mengkritik budaya konsumsi modern. Menurut Debord, kehidupan sosial masyarakat konsumen bukan tentang hidup, tetapi tentang citra. Hubungan sosial diwakili oleh citra. Citra mengatur yang dibutuhkan dan harus dikonsumsi.

Pada akhirnya, semua bukan tentang kualitas yang benar-benar dimiliki. Tapi apa yang ditunjukkan. Mengapa seseorang bisa menjadi raja, sementara yang lain menjadi pekerja padahal keduanya memiliki kualitas yang sama? Karena kelas dominan sebelumnya telah membentuk citra ideal seorang raja untuk mempertahankan kekuasaannya?

Atau, mengapa dua makanan punya rasa yang sama, tapi orang-orang hanya berminat pada salah satunya? Karena citra salah satu makanan dikemas lebih menarik?

Mengapa berita iseng seperti tautan jalang di atas bisa dibagikan lebih banyak dibandingkan berita lain yang ditulis penuh dedikasi? Jika kamu membagikannya karena iseng, mungkin kamu ingin memberi kesan badung, humoris, atau semacamnya? Atau, kalau kamu membagikannya karena termakan keisengan, kamu mungkin ingin memberi kesan serius? Cerdas? Atau, baik hati?

Lalu, kenapa kita ingin memberi kesan? Apakah hanya untuk mengumpulkan teman? Menanamkan pengaruh? Atau, karena kita menikmati betul kesan yang orang-orang tunjukkan dan berpikir menjadi pertunjukan akan sama nikmatnya?

Jika kamu benar-benar berpikir demikian, internet tentunya tempat yang tepat. Ruang di mana yang virtual mengaburkan yang fisikal. Ruang yang menggodamu untuk menyantap sesuatu karena sedang dibicarakan banyak orang. Mengunjungi sesuatu karena dikunjungi banyak orang. Mengenakan sesuatu, melakukan sesuatu, yang membuatmu jadi pembicaraan orang-orang. Demi citra, demi kesan.

Panjang umur pertunjukan!

(mmu/mmu)