Kolom

Para Habaib Estetik

MY Arafat - detikNews
Jumat, 17 Jan 2020 12:56 WIB
Salah seorang habib muda, Husein Ja'far al Hadar, berkiprah di jalur dakwah digital (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta -

Sejumlah nama habaib berseliweran di ruang berita masyarakat Indonesia beberapa pekan ini. Mulai dari Habib Muhammad Luthfi Bin Yahya yang dilantik sebagai anggota Wantimpres, Habib Jakfar Shodiq Alatas yang terjerat pasal penghinaan terhadap Wakil Presiden, Habib Husein Alatas yang tersangkut kasus asusila, hingga Habib Haddad Alwi Assegaf yang mengalami persekusi di Sukabumi, Jawa Barat. Habaib, jamak dari kata habib, memang tidak selalu bersewarna dalam perilaku. Meski mereka masih bersambung-darah kepada Nabi Muhammad, namun mereka juga dapat terangkat dan terjerahap layaknya manusia biasa pada umumnya.

Di Indonesia, dalam percakapan tentang para habaib pasca Gerakan 212, nama Habib Muhammad Rizieq Shihab kerap terpaku pada kalimat pertama wicara. Tidak jarang, imajinasi tentang kehabiban atau perbincangan mengenai para habaib hari ini pun cenderung lekas terkerangkeng oleh ingatan tentang imam besar Front Pembela Islam (FPI) itu. Bersahutan dengan gerakan pembangkangan politik dan kritik berlumur kata-kata pedas yang kerap ia lontarkan. Padahal, dalam anyaman sejarah bangsa Indonesia, ada catatan emas tentang para habaib yang telah menumpahkan kreativitas untuk kebudayaan estetika bangsa.

Haddad Alwi (1966) adalah satu di antara para habaib estetik itu. Ia adalah pahlawan musikal masa remaja saya. Bait-bait salawat dan pepuji nabi yang membahana dari pita kaset album Cinta Rasul (1999) yang ia produksi sampai sekarang masih terus menemani kembara estetika harian saya. Kemasyhuran para pendekar seni-salawat hari ini, misalnya Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf (1961) dari Solo, Jawa Tengah hanya dimungkinkan berkat "kerja keras" Haddad Alwi beberapa tahun sebelumnya. Sang habib dari keluarga Assegaf itu telah menyalakan api cinta pada Tuhan, nabi, dan sesama ke sekujur jiwa saya yang lebih sering meremang ketimbang menerang.

Para Pelopor

Arsip sejarah musik Indonesia mencatat bahwa Haddad Alwi bukanlah orang pertama dari trah habaib yang menerjunkan diri ke dalam kawah musikal negeri kepulauan ini. Jauh sebelumnya, sekira tahun 1930-an, Syech Albar (1908-1947) telah berjerih-keringat melalui orkes gambus. Pada 1937, Syech merekam sejumlah lagu padang pasir lewat album berjudul Zakhroetoel Hoesoen. Tidak berlebihan bila Andrew Weintraub dalam Dangdut Stories: A Social and Musical History of Indonesia's Most Popular Music (2010) menyebut Syech sebagai satu di antara para pemrakarsa kelahiran musik dangdut di Indonesia.

Rintisan musikal Syech Albar rupanya menginspirasi gerakan serupa di berbagai daerah. Di Jakarta, menjelang 1950, Orkes Harmonium pimpinan Habib SM Alaydroes menggeliat. Grup musik ini memainkan lagu-lagu Arab dan tango dengan memanfaatkan alat musik harmonium, biola, terompet, gendang, rebana, dan kadang-kadang tamborin. Orkes gambus Al-Usyyaag juga muncul di Jakarta melalui tangan Husein Aidid (1913-1965) pada 1947. Habib dari marga Al-Aidid ini nantinya membentuk Orkes Melayu Kenangan.

Beberapa tahun kemudian, Umar Alatas hadir dengan Orkes Melayu Chandraleka. Pada 1968, Rhoma Irama yang waktu itu masih bernama Oma Irama bergabung dengan Umar Alatas sebagai penyanyi profesional. Raja dangdut itu ikut dalam proses rekaman album Pelita Hidup. Ia membawakan lagu Djelita Teruna dan Ingkar Djanji.

Selain mereka, Bing Slamet melesat ke permukaan jagad estetika bangsa. Nama aslinya adalah Ahmad Syech Albar (1927-1974). Karena menggemari aktor Amerika, Bing Crosby, ia pun menyematkan "Bing Slamet" sebagai nama panggungnya. Oleh para analis musik dan sejarawan seni di Indonesia, Bing Slamet dijuluki seniman prolifik. Sebab ia tidak saja piawai bernyanyi dalam aneka mazhab, namun juga becus berakting dalam film, teater, dan terlebih lagi pentas lawak.

Syech Albar, SM Alaydroes, Husein Aidid, Umar Alatas, dan Ahmad "Bing Slamet" Albar dibuhul oleh satu keserupaan. Bahwa nama mereka tersenarai sebagai para habaib penyebar benih-benih estetika bangsa Indonesia.

Mata Rantai

Dua habib dari marga Albar, yakni Syech Albar dan Ahmad "Bing Slamet" Albar cukup istimewa di sini. Syech mewariskan sanad atau mata rantai estetika ini kepada anaknya, Ahmad Albar (1946). Pada kurun 1970-an, sang anak tampil menggebrak panggung musik rock Indonesia bersama teman-temannya di Godbless. Mereka lantas menjelma menjadi titan pengobar api musik rock di Indonesia. Sehingga mereka, terlebih Ahmad Albar, dianggap sebagai sumber inspirasi oleh banyak grup musik rock 1990-an semisal Slank, Boomerang, Jamrud, Powerslaves, dan banyak lagi lainnya.

Hari ini, sanad estetika keluarga Albar pertama itu diteruskan oleh Fachri Albar (1981). Bedanya, Fachri menggali ladang estetisnya di lahan seni peran, bukan musik.

Takdir sanad estetik Ahmad "Bing Slamet" Albar ada dalam ayunan langkah yang sama dengan Syech Albar. Ia menurunkan anak-cucu penggelut bermacam bidang estetika di Indonesia. Mulai dari Ratna Lusiana Albar (1963) atau Uci Bing Slamet, Ferdinand Syah Albar (1966) atau Adi Bing Slamet, dan Ratna Fairuz Albar (1968) atau Iyut Bing Slamet. Terhitung sejak warsa 1970-an nama-nama tenar itu telah melingkungi dunia musik, komedi, dan film. Artinya, mereka telah menjerumuskan diri ke dalam berbagai lembah estetika sejak masih menginjak masa kanak.

Di era milenial ini, darah estetis Bing Slamet Albar dialir-teruskan oleh cucu-cucunya. Dua nama yang terkenal adalah Ayudia Chaerani Albar (1990) atau Ayudia Bing Slamet dan Ratna Kharisma Adzana Albar (1993) atau Adzana Bing Slamet.

Ayudia adalah putri Hilmansyah Albar, anak kedua Bing Slamet. Ayudia mulai merebut perhatian masyarakat Indonesia sejak ia dipoles oleh Deddy Mizwar dalam film Ketika (2004). Setelah itu, ia menjadi langganan banyak episode FTV, sinetron, dan tayangan komedi di televisi. Sedangkan Adzana mulai memasyhur lewat film Cermin Penari Jaipong (2014) dan sinetron Putih Abu-Abu (2012).

Adzana yang merupakan putri kandung Adi Bing Slamet itu dinikahi oleh seorang berdarah habib juga, Muhammad Rizky Alatas (1991), bintang film Oops! Ada Vampir (2016) dan sejumlah FTV serta sinetron. Sebelum terjun ke dunia seni peran, Rizky tercatat sebagai anggota grup vokal Treeji bersama Tarra Budiman dan Jispeh Hakim.

Jalur Lain

Selain lewat nama-nama di atas, sanad dunia estetika masyarakat Indonesia juga dapat dilacak lewat jalur habaib estetik lainnya. Pelukis mazhab romantik Indonesia, Raden Saleh atau Sjarif Boestaman Bin Yahya (1807-1880) ada di dalam daftar ini. Nama besarnya terukir berkat lukisannya tentang penangkapan Pangeran Diponegoro.

Pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia dan setelahnya, tercatat pula nama Muhammad Husein Mutahar atau yang biasa dikenal dengan H Mutahar (1916-1973). Lagu-lagu nasionalis-legendaris seperti Hymne Syukur dan Hari Merdeka berkumandang ke sekujur tubuh negeri berkat tangan habib dari marga Al-Muthahar itu. Lagu-lagu itu mengalun beriring dengan lagu-lagu anak seperti Tepuk Tangan Silang-Silang, Saat Berpisah, Jangan Putus Asa, Mari Tepuk, Gembira, dan masih banyak lagi.

Muhsin Alatas (1944) juga dapat diletakkan dalam barisan ini. Selain pernah menyabet gelar penyanyi terbaik dalam siaran ABRI, Muhsin juga pernah mendapat kehormatan sebagai penyanyi tetap Sriwidjaja Grup dan Gita Bahari Grup. Bersama istrinya, Titiek Sandhora (1954), Muhsin membintangi banyak film sejak 1970-an. Ia juga berkarya lewat lagu-lagu dalam beragam aliran. Mulai dari dangdut, pop, irama melayu, dan kasidah.

Habib Muhammad Luthfi Bin Yahya (1947) juga masyhur sebagai seorang habib estetik. Presiden ulama sufi sedunia yang kini menjabat sebagai anggota Wantimpres (Dewan Pertimbangan Presiden) itu terkenal sebagai ahli piano dan pakar penciptaan syair-lagu pepuji pada nabi.

Pada warsa 1960-an, ada seorang habib dari marga Al-Jufri yang termasuk pemantik gairah awal musik rock Indonesia. Namanya Syech Abidin (1946-2013), drummer grup rock AKA (Apotik Kali Asin) yang dibentuk Andalas Datoe Oloan (1943-2009) atau Ucok Harahap di Surabaya. Ucok, keyboardis sekaligus vokalis utama AKA, merekrut Syech sebagai penggebuk drum, Arthur Kaunang sebagai pembetot bass, dan Soenata Tanjoeng sebagai pemetik gitar. Sebelumnya, posisi Syech ditempati oleh kakak kandungnya sendiri, Zainal Abidin Al-Jufri. Suara Syech dapat didengar melalui salah satu lagu keramat AKA, Badai Bulan Desember (1973). Ketika AKA bubar, Syech, Arthur, dan Soenata membentuk grup musik SAS. Syech meneruskan jihad musikal di grup musik baru mereka itu.

Dari generasi 1950-1970-an setidaknya tercantum sejumlah nama besar dalam bercabang bidang. Nama Fahmi Shahab (1956) sang pelantun lagu "bermasalah" Kopi Dangdut tertulis dalam blantika musik dangdut. Dunia seni-aktivisme menukil nama Wanda Hamidah bin Syekh Abu Bakar (1977). Najwa Shihab (1977), putri ulama tafsir dunia dari Indonesia, Muhammad Quraish Shihab, serta kakak-adik Rahma Sarita al-Jufri (1975) dan Khadijah al-Jufri (1974) tertera dalam etalase para anchor di televisi.

Opet Alatas (1977), pendiri grup musik Tiket dan mantan pembetot bass GIGI, terpahat dalam peta besar perkembangan musik pop Tanah Sir. Sedangkan Andi Soraya Assegaf (1976) tercantum dalam daftar para selebritis berbakat dengan "catatan miring" terkait sejumlah kontroversi dalam kehidupannya.

Generasi tahun 1980-an menyumbangkan berbilang nama. Atiqah Hasiholan Alhady (1982) wajib dibariskan di sini. Ia merupakan aktris film Berbagi Suami (2006), Jamila dan Sang Presiden (2009), dan film-film terkenal lainnya. Atiqah adalah putri habib Achmad Fahmy Alhady, pendiri Tanamur, diskotek legal pertama terbesar di Jakarta pada masa Ali Sadikin. Fahmy menikahi aktivis Ratna Sarumpaet pada 1972 dan bercerai pada 1985.

Selain Atiqah, ada Husein Alatas (1989), juara kedua Indonesian Idol 2014 yang baru-baru ini menjadi vokalis "pinjaman" PAS Band, grup musik rock besar Indonesia dari Bandung. Nama-nama lain dapat terus ditambah beriringan dengan Fauziah atau Zee Zee Shahab (1988), aktris film Roh (2007), Cahaya Cinta Pesantren (2017), dan berbagai sinetron.

Sedangkan generasi 1990-2000-an, selain Ayudia dan Adzana yang telah diulas di atas, sejauh ini masih menyumbangkan nama Veryal Eisha Aqila Basyaiban atau Veve Zulfikar (2003) dan Alwi Assegaf (2006). Veve terkenal lewat senandung salawat yang ia rekam dan sebarkan di Youtube. Sedangkan Alwi dikenal lewat wajah imutnya dalam sinetron Raden Kian Santang (2012). Nama-nama lain dari generasi ini pasti akan bertambah seiring dengan perjalanan waktu.

Para habaib estetik di atas adalah orang-orang yang telah memeras jasa untuk pembangunan rumah-rumah kebudayaan dalam bingkai kebangsaan. Mereka tampil dengan wajah manusia biasa. Tidak mengkudus layaknya para habaib dalam dunia mimbar dan majelis-majelis pengajian. Mereka justru menunjukkan bahwa mereka juga mengalami jatuh-bangun dalam menghadapi kenyataan. Riwayat mereka ada baiknya dijadikan judul besar dalam bergelar-gelar persamuhan dan percakapan harian tentang para habaib di Indonesia. Setidaknya nama-nama mereka dapat diolah untuk mengimbangi ledakan narasi tentang para habaib yang "problematik" dalam bingkai keislaman-keindonesiaan kita hari ini.

MY Arafat dosen Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

(mmu/mmu)