Meluruskan Makna Jihad (10)

Dilema Eksternal Dunia Islam

Nasaruddin Umar - detikNews
Rabu, 15 Jan 2020 17:00 WIB
Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA (Ilustrasi: M. Fakhry Arrizal/detikcom)
Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA (Ilustrasi: M. Fakhry Arrizal/detikcom)
Jakarta - Pada 2007 Gallup's World Poll, sebuah lembaga survei internasional yang sangat terkenal di AS membuat laporan yang kemudian dibukukan oleh John L. Esposito dan Dalia Mogahed yang diberi judul Who Speaks for Islam? Yang artinya kira-kira ialah siapa yang berhak berbicara atas nama Islam? Buku ini menampilkan sejumlah data yang menarik untuk diperhatikan.

Di antara isi buku ini ialah bagaimana membaca Islam's Silenced Majority? Kenapa demokrasi absen di sejumlah besar negara Islam? Apakah mereka memperjuangkan demokrasi atau teokrasi, dan apakah yang terjadi benturan atau keberadaan ganda? Bagaimana pendapat 1,3 miliar muslim terhadap demokrasi? Bagaimana posisi kelompok muslim demokrat? Siapa yang sesungguhnya yang disebut umat Islam? Siapa yang paling berhak mengatasnamakan komunitas Islam?

Salah satu yang menarik dari buku ini ialah laporannya, dengan mengambil sampel 35 negara mayoritas muslim dengan puluhan ribu responden secara acak dan dengan metodologi khusus, menemukan muslim mainstream di dalam menanggapi persoalan aktual, khususnya dilema eksternal dunia Islam, menunjukkan bahwa kelompok silent majority, yakni kelompok mainstream, lebih mengharapkan kehidupan masa depan yang lebih tenang, terutama untuk mendapatkan job/pekerjaan yang layak. Disusul kemudian dengan suasana demokratis dan dengan tetap mengharapkan agama menjadi nilai-nilai sosial yang hidup.

Yang menarik dari poll ini, kelompok mainstream mengharapkan ulama lebih fokus membimbing umat, tidak perlu terlibat langsung dalam dunia politik, meskipun pada satu sisi pemimpin pemerintahan diharapkan mengedepankan moral dan etika agama. Jihad dalam Islam agar diarahkan kepada hal-hal yang konstruktif, tidak setuju dengan cara-cara kekerasan apalagi teroris. Jika harus terjadi perang jangan sampai penduduk sipil jadi korban. Kaum perempuan muslim mengharapkan kesetaraan gender. Dunia Barat agar lebih membuka diri dan respek terhadap dunia Islam.

Khusus di AS pasca 11/9 misalnya, sikap orang-orang AS non muslim ditemukan dalam survei 44% sangat ekstrem di dalam menjalankan agamanya, dalam konotasi bisa negatif bisa positif. Terdapat sejumlah 22% di antara mereka tidak mau bertetangga dengan orang-orang Islam, dan kurang dari 50% umat Islam AS memberikan loyalitas penuh kepada AS.

Namun pada saat bersamaan diungkapkan kebanyakan umat Islam di AS menghendaki penyebaran Islam yang moderat; umumnya mereka menolak kelompok garis keras. Mereka tidak serta merta menyalahkan Barat sepenuhnya di dalam berbagai kasus teror yang dilakukan oknum-oknum yang kebetulan beragama Islam; mereka merasa tidak mau diwakili oleh kelompok garis keras yang selalu mengatasnamakan diri sebagai umat Islam.

Mereka sesungguhnya lebih menginginkan ketenangan hidup, mendidik anak-anak mereka dengan baik dan secara profesional sebagaimana halnya anak-anak muda Amerika --tentu saja plus iman. Mereka sudah terbuka menerima konsep kesetaraan gender, toleransi beragama, hak asasi manusia, dan mendukung semua kelompok yang menggagas perdamaian.

Peran umat Islam di AS di dalam melaksanakan rekonsiliasi nasional pasca 11/9 sangat besar. Sikap yang arif dan terbuka komunitas Islam yang hidup di AS (American muslims) membuat warga AS menyimpulkan bahwa Islam tidak identik dengan teroris. Bahkan Islam di AS semakin disadari sebagai nilai-nilai universal yang amat kompatibel dengan zaman modern. Karena itu wajar kalau di sana semakin banyak mualaf.

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta

(mmu/mmu)