Mimbar Mahasiswa

Ekonomi Digital dan Ketimpangan Literasi Teknologi

Boy Angga - detikNews
Rabu, 15 Jan 2020 13:40 WIB
Foto: Istimewa
Jakarta -

Saat ini geliat ekonomi dunia telah mengalami proses transformasi. Dunia perekonomian sedang aktual dengan konsep ekonomi digital. Ekonomi digital merupakan praksis ekonomi yang merupakan hasil akulturasi antara teknologi digital dengan sistem ekonomi. Tampak bahwa ketika ekonomi terintegrasi dengan sistem teknologi, proses ekonomi berlangsung semakin cepat dan memiliki daya jangkau yang luas.

Dalam ekonomi digital, batas-batas geografis bukan lagi menjadi hambatan bagi setiap pelaku ekonomi untuk melakukan transaksi ekonomi. Sifat yang demikian menjadi pembuka asa bagi berkembangnya perekonomian dunia teristimewa di negara-negara berkembang. Ekonomi digital menjadi momentum bagi akselerasi pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang.

Ekonomi digital mampu mengubah secara fundamental berbagai bentuk aktivitas ekonomi. Perubahan fundamental ditandai dengan transisi pola-pola kegiatan ekonomi dari yang konvensional menuju ke pola yang tersistem memanfaatkan teknologi dalam jaringan. Transisi pola kegiatan ekonomi ini akan berdampak pada perubahan perilaku masyarakat dalam melakukan transaksi ekonomi. Contohnya adalah meningkatnya pengguna jasa pembayaran berbasis uang elektronik seperti GoPay, DANA, LinkAja, serta meningkatnya perdagangan melalui e-commerce.

Keberadaan ekonomi digital akan ditandai dengan semakin maraknya perkembangan bisnis atau transaksi perdagangan yang memanfaatkan internet sebagai medium komunikasi, kolaborasi, dan kooperasi antara perusahaan ataupun individu (Wirabrata, 2016). Proses komunikasi, kolaborasi, ataupun korporasi dapat dilakukan dengan siapa saja. Dampak dari keterbukaan ini adalah munculnya berbagai macam varian bisnis.

Pada saat ini, ekonomi digital diejawantahkan melalui e-commerce dan perusahaan start up. Perkembangannya begitu pesat dan mampu melumpuhkan industri-industri konvensional. Mereka mampu memperoleh share yang besar dari sebuah pangsa pasar.

Gagasan ekonomi digital telah menjadi ikon baru dari diskursus prospek perekonomian domestik maupun perekonomian global. Ekonomi digital diyakini menjadi pioner bagi pembangunan ekonomi yang lebih progresif karena sifat keterbukaannya. Ekonomi digital merupakan ikon inovasi yang sangat inklusif. Konsekuensi logis dari sifat inklusif ini adalah semua entitas ekonomi memiliki kesempatan yang setara untuk terlibat dalam berbagai bentuk kegiatan ekonomi. Keterlibatan yang semakin masif akan berimplikasi pada pertumbuhan ekonomi yang semakin meningkat.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan bahwa revolusi digital menyediakan kesempatan yang besar bagi negara-negara berkembang untuk mempercepat pembangunan ekonomi, memperbaiki pelayanan publik, dan menciptakan ekonomi inklusif. Ekonomi digital berpotensi menjadi medium akselerasi pembangunan ekonomi bagi negara-negara berkembang. Melalui ekonomi digital, upaya mengejar ketertinggalan ekonomi yang dialami oleh negara berkembang semakin terbuka.

Dalam praksisnya, ekonomi digital memiliki spirit kolaborasi dan sinergi di antara berbagai pelaku ekonomi. Pelaku ekonomi diberi ruang untuk melakukan hubungan kerja sama yang inklusif dengan pelaku ekonomi yang lain. Semakin masif hubungan kerja sama yang dibangun, implikasinya terhadap pembangunan ekonomi semakin tinggi.

Keutamaan lain ekonomi digital adalah mampu menjangkau pelaku usaha kecil, mikro, dan menengah (UMKM). Pelaku UMKM tidak perlu menginvestasikan modal yang besar untuk membangun gedung sebagai ikon usahanya. Dalam ekonomi digital, ruang untuk melapak telah tersedia. Konsep yang demikian menyebabkan ekonomi digital diasosiasikan dengan sharing economy.

Namun, ekonomi digital bukan tanpa persoalan. Persoalan mendasar dalam implementasi ekonomi digital adalah menyangkut kesiapan pelaku-pelaku ekonomi terutama di wilayah-wilayah yang terbelakang. Persoalan mendasar yang dialami oleh pelaku ekonomi adalah rendahnya literasi teknologi. Ini kemudian menjadi bumerang bagi praksis ekonomi digital di daerah-daerah terpencil.

Menjembatani Ketimpangan

Bagi pelaku ekonomi yang less developed, munculnya ekonomi digital akan membantu performa ekonominya sehingga mampu keluar dari kondisi yang demikian. Persoalan yang mengiringi praksis ekonomi digital adalah rendahnya literasi teknologi. Pelaku ekonomi memiliki kemampuan yang rendah dalam menguasai dan memanfaatkan platform ekonomi digital. Di negara-negara berkembang persoalan rendahnya literasi teknologi sangat nyata.

Tipe penduduk negara-negara berkembang dengan tingkat pendidikan yang rendah turut menyulitkan diseminasi teknologi. Selain itu, persoalan lain menyoal literasi adalah pemanfaatan teknologi yang tidak tepat guna. Pemanfaatan teknologi tanpa menghasilkan nilai tambah merupakan salah satu persoalan literasi teknologi.

Persoalan rendahnya literasi teknologi merupakan buntut dari persoalan ketersediaan infrastruktur teknologi yang minim. Bagaimana orang memiliki peralatan teknologi jika infrastruktur pendukungnya terbatas. Implikasinya adalah literasi teknologi yang rendah semakin langgeng.

Rendahnya literasi teknologi ini jika tidak dijembatani dengan baik akan melangggengkan kondisi ketimpangan. Bahkan akan tercipta ketimpangan yang semakin lebar. Maka upaya untuk mengatasi persoalan-persoalan dasar ekonomi makro seperti pengangguran dan kemiskinan semakin sulit. Menyikapi ini, sinergi dan kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat sangat dibutuhkan untuk menciptakan akselerasi penguasaan dan pemanfaatan teknologi.

Untuk mengatasi ketimpangan ini, beberapa hal yang perlu diperhatikan; pertama, pemerintah seyogianya mempersiapkan infrastruktur teknologi yang memadai secara merata. Infrastruktur teknologi yang memadai membuka peluang bagi masyarakat untuk meningkatkan penguasaan dan pemanfaatan teknologi. infrastruktur teknologi juga menjamin setiap orang untuk terhubung ke dalam jaringan. Dengan demikian, peluang untuk memanfaatkan akses pada ekonomi digital semakin terbuka.

Kedua, mempersiapkan masyarakat dengan melakukan pengenalan terhadap teknologi. Masyarakat mesti difasilitasi untuk memahami platform teknologi digital. Semisal bagi para pelaku UMKM, pengenalan terhadap marketplace berbasis digital sangat penting. Di lingkungan pendidikan, literasi teknologi terutama untuk mengubah kecenderungan pemakaian teknologi hanya untuk bermedia sosial.

Ketiga, berbagai inovasi ekonomi digital mesti memiliki payung hukum. Pemerintah mesti menyediakan perangkat hukum yang jelas pada berbagai inovasi digital. Tujuannya untuk menjamin keamanan dan kenyamanan pelaku ekonomi dalam melakukan transaksi.

Tahun 2020 ekonomi digital akan berkembang kian pesat. Ketidaksiapan dan ketidaksigapan kita menyongsong inovasi teknologi terutama di bidang ekonomi akan membuat kita semakin tertinggal, dan persoalan-persoalan mendasar ekonomi pun semakin menggurita. Harapan bersama kita bahwa ekonomi digital di tahun-tahun yang akan datang mampu menyingkap berbagai persoalan mendasar ekonomi yang selama ini cukup sulit untuk dientaskan.

Boy Angga mahasiswa Ekonomi Pembangunan Universitas Nusa Cendana, Kupang

(mmu/mmu)