Kolom

Belajar dari Transformasi Banyuwangi

Maya Retno Sari - detikNews
Rabu, 15 Jan 2020 12:20 WIB
Salah satu lokasi wisata di Banyuwangi (Foto: Ardian Fanani)
Salah satu lokasi wisata di Banyuwangi (Foto: Ardian Fanani)
Jakarta -
Leadership tentunya berbeda dengan manajer; kedua memang sama-sama memahami bisnis organisasi dengan baik. Seorang pemimpin tentu memiliki peranan menciptakan visi organisasi, konsep bisnis, rencana, serta program guna mencapai tujuan dari organisasi, sementara manajer bertanggung jawab atas penerapan dan pencapaiannya. Manajer tentunya lebih berfokus pada tugas analitis dalam mencari solusi, sedangkan pemimpin lebih menekankan pada aspek insting dalam menghadapi pekerjaannya. (Ancok, 2012).

Bisa mempengaruhi banyak orang juga merupakan salah satu karakter yang dimiliki oleh pemimpin, dan ada pula tipe pemimpin dengan gaya kepemimpinannya memberikan peluang kepada pegawainya untuk terlibat pada saat pengambilan keputusan. Gaya kepemimpinan tersebut merupakan peluang bagi pegawai untuk menyalurkan ide gagasan mereka dalam mengembangkan organisasi, terlebih pegawai bisa menghasilkan produk inovasi.

Era masa kini dibutuhkan kemampuan kepemimpinan yang bisa menyesuaikan dengan situasi. Stimulasi intelektual merupakan sikap pemimpin yang mampu meningkatkan kreativitas dan inovasi pegawai sehingga mereka dapat memecahkan permasalahan secara tepat. Gaya kepemimpinan transaksional adalah gaya kepemimpinan yang dimiliki oleh manajer, sedangkan kepemimpinan transformasional merupakan kepemimpinan dengan gaya leader. Pemimpin dengan gaya transformasional bisa menstimulasi dan mendorong pegawai untuk lebih berinovasi, sehingga menciptakan lingkungan kerja yang aspiratif.

Kabupaten Paling Inovatif

Pada 2018 Kemendagri telah menetapkan Banyuwangi sebagai kabupaten yang paling inovatif melalui kompetisi Innovative Government Award (IGA). Pada 2019 penghargaan tersebut kembali diraih oleh Kabupaten Banyuwangi dan mendapatkan dana insentif sebesar Rp 9 miliar. Ada beberapa hal yang menjadikan kabupaten terinovatif ini kembali mendapatkan penghargaan. Yang menjadi kriteria penilaian yaitu inovasi daerah kelola pemerintah daerah, inovasi pelayanan publik, dan inovasi lainnya sesuai dengan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah.

Inovasi sudah tidak asing lagi di lingkup birokrasi saat ini. Gebrakan inovasi dalam pelayanan umum dilakukan agar mempermudah masyarakat dalam mendapatkan hak yang mereka peroleh. Bukan hal baru bagi pemerintah Kabupaten Banyuwangi dalam hal inovasi pelayanan publik, dengan didapatkannya penghargaan-penghargaan yang diperoleh hingga kini. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi sudah berbenah diri dan lebih baik semenjak Bupati Azwar Anas menjabat.

Perjuangan yang cukup panjang menjadikan Banyuwangi dengan kondisi geografis yang bertempat di sisi paling timur provinsi Jawa Timur ini memberikan dobrakan dan menjadikan daerah Banyuwangi sebagai salah satu destinasi wisata yang diminati wisatawan. Untuk menjadikan Banyuwangi seperti sekarang ini tentunya membutuhkan proses dalam rangka mengaktualisasikannya. Sang Bupati tentu membuat prioritas pembangunan lebih matang terlebih untuk pembangunan di bidang pariwisata.

Pembangunan yang saling terintegrasi satu dengan yang lain memberikan dampak positif terhadap perekonomian di Banyuwangi. Masyarakat pun dapat melihat peluang yang muncul dengan kepopuleran Banyuwangi saat ini dan pariwisata alam yang menjual seperti Kawah Ijen, Sukamade, dan Pantai G Land. Dapat dilihat dari Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Daerah (MP3ED) Kabupaten Banyuwangi, salah satu tujuannya yaitu mengidentifikasi potensi sumber daya alam dan identifikasi potensi pembangunan kawasan produktif di Banyuwangi.

Selain itu, konsep ecotourism yang ada di Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Banyuwangi 2005-2025 tertuang dalam masterplan. Ketenaran Banyuwangi bukan hanya pariwisata alamnya saja. Hingga saat ini pun masih mempertahankan dan mengedepankan budaya sehingga wisatawan yang datang tetap bisa melihat ciri khas budaya-budaya yang disuguhkan melalui festival-festival yang diadakan.

Semenjak bertranformasi, pemerintah Banyuwangi juga sadar adanya pariwisata yang semakin populer di tengah wisatawan kini banyak bermunculan investor-investor yang ingin menanamkan modalnya. Untuk melindungi warganya, pemerintah Kabupaten Banyuwangi membuat regulasi yang tercantum dalam Peraturan Bupati Nomor 27 Tahun 2010 mengenai Pedoman Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern di Kabupaten Banyuwangi.

Inovasi Bidang Ekonomi

Kabupaten Banyuwangi semakin menunjukkan tren positif, hal ini dikarenakan Banyuwangi banyak melakukan berbagai inovasi di bidang ekonomi. Pada 2014 pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Banyuwangi menyentuh angka 5,91 selanjutnya naik 6,01 pada 2015, kemudian terjadi penurunan angka pada 2016 menjadi 5,38, lalu naik pada 2017 menjadi 5,60, dan naik kembali pada 2018 menjadi 5,70. Sedangkan angka pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada 2018 di bawah Kabupaten Banyuwangi yaitu menyentuh angka 5,51 (banyuwangikab.go.id).

Pencapaian Banyuwangi bukan hanya sekadar angka pertumbuhan ekonomi saja, tetapi dalam perjalanan tranformasi menuju pencapaian saat ini Bupati Azwar Anas pun memiliki kiat-kiat yang sudah dibukukan dan menjadi karya kedua setelah buku pertamanya. Buku yang berjudul 20 Jurus Anti-Mainstream Marketing itu menjelaskan mengenai strategi pemasaran. Dari 20 jurus marketing ampuh itu, ada beberapa strategi yang menarik untuk dikutip.

Pertama, Azwar Anas menyebutkan setiap dinas merupakan dinas pariwisata. Kedua, setiap tempat adalah destinasi, program adalah atraksi. Ketiga, setiap yang datang merupakan endorser, cerita adalah segalanya. Keempat, kesan pertama begitu menggoda, kesan terakhir adalah kenangan untuk selamanya. Kelima, merawat dan meruwat. Keenam, dari kota santet menjadi kota internet. Ketujuh, setiap nama harus bermakna.

Sebagai sosok pemimpin yang transformasional, Bupati Banyuwangi mampu membawa semua dinas bisa berkolaborasi dengan baik. Mengidentifikasi berbagai peluang dapat dihasilkan melalui prioritas pembangunan daerah. Semua OPD digerakkan dengan prinsip Whole of Government untuk suksesnya payung besar pariwisata sesuai dengan peran masing-masing. Sebagai sosok pemimpin yang terbilang sukses mengubah Kabupaten Banyuwangi menjadi seperti saat ini, inovasi dan keberanian memanglah harus berjalan secara beriringan agar perubahan dapat diraih.


Simak Video "Awal Tahun 2020, Banyuwangi Ekspor Ikan Sidat Senilai Rp 13 M"

[Gambas:Video 20detik]

(mmu/mmu)