Sentilan Iqbal Aji Daryono

Industrialisasi Kondangan Manten

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Selasa, 14 Jan 2020 14:13 WIB
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta - Kemarin, seorang kawan menghujani saya dengan keluh kesah. Sebentar lagi dia akan menikah, tapi merasa berat dengan estimasi biaya pesta yang akan dia gelar sendiri. Berbagai detail kebutuhan hajatan perkawinannya ternyata memusingkan kepala. Maklum, untuk segenap urusan pendanaan dia tidak dibantu siapa-siapa, selain Allah Subhanahuwata'ala.

Saya sudah bilang ke dia, lebih baik bersikap apa adanya. Kuatnya dia seberapa, itulah yang dieksekusi. Namun, selalu saja nongol pertimbangan macam-macam. Terutama, ya terkait faktor tuntutan sosial.

Kawan saya itu bukan jenis orang yang sok-sokan, apalagi gengsi-gengsian. Namun dia punya satu kelemahan fatal, yakni pakewuhan. Gampang sungkan, gampang merasa nggak enak hati sama orang. Sementara, saya tahu pasti, orang yang gampang ewuh-pakewuh selalu jadi mangsa empuk predator brutal bernama pesta pernikahan.

Itulah kenapa, dalam istilah Jawa, kondangan disebut juga dengan ewuh. Ini pas banget, sebab perasaan ewuh dan pakewuh senantiasa berperan signifikan dalam penentuan-penentuan keputusan di setiap unsur hajatan.

***

Kalau kita kepingin bernostalgia, pada awalnya yang namanya hajatan pernikahan (sebagaimana beraneka rupa hajatan lainnya) memang berlandaskan spirit paguyuban. Seorang warga kampung yang ewuh mantu alias menggelar pesta untuk menikahkan anaknya akan dibantu oleh para warga lainnya secara bergotong royong.

Maka, dalam kultur Jawa, ada istilah rewang. Ibu-ibu berbondong-bondong datang membantu memasak di dapur. Berdandang-dandang nasi ditanak, berekor-ekor ayam dimasak. Adapun bapak-bapak sibuk di depan rumah si empunya hajat, merangkai janur, kembar mayang, dan entah aksesori apa lagi.

Memang ada beberapa item pekerjaan yang mengandalkan profesional berbayar. Misalnya paes alias juru rias, juga pawang hujan. Namun, selebihnya yang berperan adalah para tetangga yang bergerak secara sukarela.

Betul bahwa tuan rumah tetap menyediakan bahan baku segala sajian. Tapi harap diingat, nantinya para tetangga itu juga akan nyumbang, memberikan partisipasi finansial sewajarnya kepada si empunya hajat. Artinya, beban pembiayaan utama yaitu bahan makanan, pun jadi jauh lebih ringan.

Nah, sebagai gantinya adalah balas budi di saat para tetangga itu giliran punya hajat. Orang yang pernah dibantu dengan rewang akan ganti membantu rewang, orang yang pernah disumbang akan ganti menyumbang. Kalaupun si tetangga tak punya anak yang akan dinikahkan karena sudah pada mentas semua, proses balas budi silih berganti itu akan diteruskan hingga ke anak-cucu, atau ke hajatan-hajatan lain tak terkecuali kematian.

Karena itulah, muncul pula mekanisme sanksi sosial. Tetangga yang tidak pernah ikut gotong royong rewang, ya nantinya tidak akan dibantu, bahkan dalam taraf paling ekstrem bisa-bisa saat dia meninggal pun tak ada yang mau mengangkat keranda jenazahnya.

Itu semua penting saya utarakan, karena tidak semua orang dari generasi seadik saya pernah mengalami proses-proses demikian. Kebanyakan sejak lahir mereka sudah menyaksikan hasil metamorfosis paling liar dari kondangan, dalam wujud yang melenyapkan spirit paguyuban. Kulitnya sih masih seolah-olah berbau tradisi, namun diam-diam sudah penuh kerakusan industri.

***

Saya rasa, semua dimulai ketika orang-orang sudah mulai sibuk berkarier. Pada masa sebelumnya, dalam masyarakat agraris, konsep jam kerja "modern" belum ada. Perawatan tanaman pangan bukannya enteng dan tidak memakan tenaga. Tapi ritme hidup bertani selalu memberikan celah waktu yang jauh lebih fleksibel. Nah, saat sawah-sawah sudah mulai ditinggalkan, dan orang-orang desa bekerja di sektor-sektor industri di kota, keluwesan dalam pengelolaan waktu pun pelan-pelan menghilang.

Akibatnya, tradisi rewang lambat laun berkurang. Semakin sedikit orang yang punya waktu untuk itu. Sebagai gantinya, karena para tamu yang akan menghadiri pesta tetap saja wajib disuguhi kudapan, muncullah makhluk baru bernama katering. Perusahaan-perusahaan katering segera menjamur, menjawab kebutuhan lama yang tak lagi dapat diatasi dalam situasi baru.

Itu semua berjalan seiring perkampungan yang kian padat penghuni, juga masyarakat yang kian jor-joran dalam memiliki kendaraan. Hasilnya, warga tak lagi merasa pantas mengundang tetamu ke rumah sendiri, gara-gara ruang lapang di halaman rumah telah lenyap. Padahal, para tamu membutuhkan tempat parkir yang lapang bagi mobil-mobil dan sepeda motor mereka.

Maka, hadirlah konsep baru, yaitu kondangan manten dengan menyewa gedung besar. Gayung bersambut, kantor-kantor yang memiliki aula besar pun menyewakan tempat mereka, dengan harga sewa ratusan ribu hingga puluhan juta. Mulai kantor kelurahan, instansi pemerintah yang lain, hingga kampus-kampus. Itu merebak jauh sebelum datang tren yang lebih belakangan dan lebih mewah, yang disabet hotel-hotel dan restoran.

Seiring perusahaan-perusahaan katering yang terus bersaing dan menciptakan kelas-kelas mereka sendiri, demikian pula gedung manten. Misalnya di daerah saya, Jogja, pada masanya muncul citra bahwa resepsi pernikahan paling jempolan itu, ya kalau dihelat di gedung Grha Sabha Pramana UGM. Sampai-sampai UGM diplesetkan menjadi "Usaha Gedung Mantenan", bukan lagi Universitas Gadjah Mada.

Sejak pergeseran itu, mulai terbiasa pertanyaan berbunyi, "Ooo dia mau mantenan ya? Di gedung mana? Pakai katering apa?" Harap tahu, pertanyaan model demikian dulunya tidak pernah ada.

Itu tadi baru yang besar-besar. Yang kecil-kecil pun menyusul.

Dulu kala, kalau seseorang ingin mengundang tetangga atau saudaranya untuk menghadiri hajatan, dia akan datang sendiri atau mengirim utusan. Si utusan akan mengatakan, "Permisi, Pak, Bu saya kemari diutus oleh Pak Santoso untuk menghaturkan undangan pernikahan putri beliau insya Allah pada Sabtu Wage depan..." dan seterusnya. Sembari menyampaikan undangan lisan, kadangkala utusan itu juga membawa serat ulem, surat undangan sederhana.

Setelah waktu luang semakin hilang, prosesi mengirim utusan itu pun turut lenyap, serat ulem sederhana malih rupa menjadi undangan mewah-mewah yang dikirim lewat pos, percetakan-percetakan undangan dengan berbagai desain pun pasang iklan di mana-mana. Bahkan pada suatu masa ada "rumus": bikinlah surat undangan yang bagus, karena semakin bagus undangannya, semakin banyak pula isi amplop sumbangannya. Hahaha.

Kemudian, mendadak lahir juga satu produk peradaban yang aneh dan belum pernah dikenal di zaman Mataram, yaitu suvenir manten! Apa lagi yang lebih ajaib dari itu?

Di masa kecil saya, ketika saya diajak datang kondangan oleh orangtua, yang saya jalani tak lebih dari datang ke rumah tempat hajatan, ibu saya menyerahkan amplop sumbangan sambil bersalaman dengan tuan rumah yang berdiri di depan, lalu kami duduk dan menunggu sajian makanan dan minuman. Sekarang, orang datang langsung mengisi buku tamu, memasukkan amplop ke kotak (karena tuan rumah sudah duduk di panggung bersama pengantin), dan setelah memasukkan amplop itu mereka meminta suvenir.

Suvenir manten adalah inovasi terbesar dalam industri hajatan pengantin, karena di masa sebelumnya sama sekali tidak ada yang serupa dengan itu. Beda dengan katering dan gedung sewaan, yang memang merupakan adaptasi dari kebutuhan lama yang sudah sulit terakomodasi. Bahkan ketika muncul konsep buffet dan gubuk siomay, juga persepsi publik bahwa mantenan berkelas itu kalau mengandung unsur zuppa soup, semua itu tak ada yang mampu mengalahkan keajaiban fenomena suvenir manten.

***

Kawan saya masih terus mengeluh. Sebenarnya dia sudah bersyukur karena zaman digital telah datang. Walhasil, ada satu elemen pembiayaan yang dapat dia kepras, yakni pencetakan undangan. Desain undangan cukup dia JPEG-kan, lalu dikirim via Whatsapp kepada sasaran.

Namun ternyata, era 4.0 melenyapkan satu masalah sambil melahirkan masalah baru.

"Bayangkan, Bal. Si Anu, Si Itu, Si Dia, Cah Kae juga pada ngotot minta diundang. Padahal ketemu sama aku aja baru sekali. Tapi mereka merasa sering komen di Facebook-ku, jadi pada protes keras kalau nggak kuundang."

Tawa saya meledak keras sekali.

Iqbal Aji Daryono esais, tinggal di Bantul

(mmu/mmu)