Kolom Kang Hasan

Melakukan "Kaizen" untuk Anggaran

Hasanudin Abdurakhman - detikNews
Senin, 13 Jan 2020 11:24 WIB
Hasanudin Abdurakhman (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - APBN kita selalu defisit. Setiap tahun selalu defisit, dengan nilai defisit bervariasi sekitar 1,9% - 2,9% produk domestik bruto (PDB). Apa maknanya? Dalam bahasa sederhana, kita kekurangan uang untuk membiayai hidup kita sendiri. Lalu apa yang dilakukan pemerintah untuk menutupi kekurangan biaya itu? Berutang.

Konyolnya, jumlah defisit tadi hampir setara dengan bunga utang yang harus kita bayar dalam satu tahun anggaran. Misalnya, pada APBN 2019, angka defisit (semula) adalah sekitar 290 triliun, sedangkan nilai bunga utang yang harus dibayar tahun tersebut adalah Rp 275 triliun. Kita berutang untuk membayar bunga utang. Dalam kampung, kita hidup dengan cara gali lubang tutup lubang.

Para pakar ekonomi pemerintah mungkin punya penjelasan yang rumit untuk meyakinkan bahwa situasi seperti itu bukan masalah. Tapi bagi orang awam, itu sangat bermasalah. Mau pakai teori apapun, berutang untuk membayar utang itu bukanlah situasi yang membahagiakan.

Sementara itu, cara pemerintah baik di pusat maupun daerah, dalam membelanjakan uang tidak mencerminkan sikap prihatin. Para pejabat negara berlomba melengkapi diri mereka dengan perlengkapan mewah. Mereka naik mobil mewah, tinggal atau membangun rumah dinas mewah, bepergian naik pesawat kelas bisnis, dan menginap di hotel mewah. Juga membuat kegiatan-kegiatan mewah. Bupati membeli mobil Rubicon, gubernur membuat acara balap mobil dengan anggaran triliunan rupiah. Itu semua adalah tindakan melawan akal sehat.

Apa yang seharusnya dilakukan? Kalau kita kekurangan uang untuk membiayai hidup, yang seharusnya kita lakukan adalah menambah penghasilan (bukan utang), atau mengurangi pengeluaran. Tapi tidakkah boleh kita berutang kalau dengan utang itu kita bisa berinvestasi untuk masa depan? Boleh. Tapi sekali lagi, tidakkah lebih baik bila kita tidak berutang?

Bisakah kita cukupkan anggaran dengan dana yang ada tanpa berutang? Bisa atau tidak sangat tergantung dari pola pikir dan kemauan. Untuk berhemat memang diperlukan kerja keras dan disiplin. Dengan pola pikir dan gaya kerja aparat pemerintah yang sekarang, penghematan mustahil dilakukan. Karena itu harus ada perubahan perilaku aparat negara.

Di perusahaan, khususnya perusahaan Jepang, orang terbiasa melakukan penghematan atau cost down melalui berbagai langkah kaizen. Apa itu kaizen? Secara ringkas kaizen adalah usaha untuk memperbaiki segala sesuatu. Dengan kaizen, pekerjaan bisa dilakukan lebih cepat, lebih aman, lebih murah, dengan mutu lebih baik.

Bagaimana kaizen dilakukan? Langkahnya sebenarnya sederhana. Rumusnya adalah hilangkan (eliminate), gabungkan (combine), kurangi (reduce), sederhanakan (simplify). Sulitkah melakukannya? Saya harus katakan, tidak mudah. Tapi tidak mustahil. Kenyataannya, banyak yang bisa melakukannya.

Bagian terbesar dan utama pada kaizen adalah menghilangkan. Hilangkan kegiatan atau tindakan yang tidak perlu. Apa ukuran perlu atau tidak? Ukurannya sederhana, yaitu tujuan. Kita harus berani secara kritis mempertanyakan apa tujuan sesuatu dilakukan. Kegiatan yang tidak jelas tujuannya, hapuskan. Proses-proses yang tidak memberi nilai tambah, hilangkan. Belanja-belanja yang tidak perlu, tiadakan.

Kalau sudah lolos dari seleksi itu, hal-hal yang masih diperlukan tetap harus dipertanyakan lebih lanjut. Pertanyaannya meliputi siapa, kapan, di mana, kegiatan itu harus dilakukan. Yang tidak mendesak tidak perlu dilakukan atau dibeli sekarang. Demikian pula, yang biayanya sekian bisa dipertanyakan lagi, perlukah biaya sebesar itu dikeluarkan. Yang masih bisa dikurangi, kurangi. Proses yang panjang dan berbelit, disederhanakan, untuk menghemat waktu. Hemat waktu pada umumnya juga adalah hemat biaya.

Tidakkah itu sudah dilakukan oleh pemerintah? Entahlah. Kalau kita lihat perilaku para pejabat tadi, saya ragu kalau itu sudah dilakukan. Demikian pula kalau kita lihat perilaku aparat pemerintah. Terlebih, kaizen bukan soal sudah dan belum. Tidak ada istilah sudah dalam kaizen. Tidak ada istilah kaizen sudah selesai. Kaizen itu adalah proses atau gerakan yang berkesinambungan. Setiap saat kaizen harus dilakukan. Hal-hal yang sudah dianggap baik pun harus dibongkar, ditinjau ulang, untuk diperbaiki.

Hambatan terbesarnya adalah rendahnya kesadaran. Di negeri ini orang terbiasa berpikir dengan prinsip "itu bukan uang saya". Selama bukan uang saya, tak masalah bila dihamburkan. Lebih parah lagi, "Kalau bukan saya, nanti orang lain yang menikmatinya." Jadi orang berlomba-lomba menghamburkan anggaran, dan menikmatinya.

Kaizen artinya melakukan perubahan. Ada banyak hal yang harus berubah. Pola pikir harus berubah. Tindakan harus berubah. Kebiasaan harus berubah. Perubahannya pada skala kecil, mulai dari tingkat individu.

Kaizen yang efektif biasanya berangkat dari bawah. Di perusahaan manufaktur kami punya kegiatan kelompok kecil (small group activity), yang menggerakkan kegiatan kaizen kecil-kecil. Sekilas tampak seperti tak banyak kontribusinya. Tapi hal kecil yang dilakukan oleh orang banyak terbukti membawa perubahan besar. Di samping itu, kegiatan kelompok kecil ini penting untuk mengubah kesadaran orang-orang secara kolektif.

Tapi dari banyak hal yang harus dilakukan, yang pertama harus berubah tentu saja pucuk pimpinan negara. Selama pola pikirnya masih lama, yaitu menutup defisit dengan utang, orang-orang di bawahnya pun tidak akan mungkin berubah.

(mmu/mmu)