Jeda

Orang yang Membenci Bayangannya

Mumu Aloha - detikNews
Minggu, 12 Jan 2020 12:43 WIB
Mumu Aloha (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Dalam khasanah Taoisme, ada cerita menarik tentang orang yang membenci bayangannya sendiri. "Pergi, aku benci kamu!" hardiknya. Ia pun mulai berjalan lebih cepat ketika dilihatnya sang bayangan masih menempel di tumitnya. Tapi, semakin ia bergegas, bayangannya juga bergegas mengikutinya. Ia pun mulai berlari hingga akhirnya terjatuh, dan...mati!

Mirip dengan cerita tersebut, ada orang yang membenci jejak kakinya. "Menjijikkan," gumamnya ketika menoleh ke belakang dan melihat barisan jejak-jejak kakinya. Ia pun mulai berlari lebih cepat untuk membebaskan diri dari jejak kaki itu. Tapi, semakin cepat ia bergerak, semakin banyak jejak kaki yang tercetak di tanah. Akhirnya, ia mati kelelahan. "Orang bodoh!" komentar seseorang yang melihatnya.

Dua kisah yang tragis itu mungkin terkesan karikatural dan bahkan bisa jadi mengada-ada. Tapi, bila kita renungkan, kelakuan sebagian manusia sebenarnya menyerupai tindakan orang yang membenci bayangan dan jejak kakinya sendiri itu. Sebenarnya mudah menyingkirkan bayangan: beristirahat di tempat yang teduh, dan bayangan pun akan hilang.

Namun, kebanyakan manusia lebih memilih berjalan cepat dan berlari, terus-menerus tiada henti, tidak beristirahat, mengejar tujuan-tujuan, entah itu puncak karier, kekayaan, jabatan, ataupun kebahagiaan.

Lebih-lebih kita yang hidup di era digital sekarang ini, dipicu dan didorong untuk "berjalan" lebih cepat lagi, "berlari" lebih cepat lagi. Kita tak ubahnya pembenci bayangan dan jejak kaki sendiri, yang dengan bodohnya mempercepat laju langkah kita, mempercepat setiap gerak-gerik kita, demi untuk melenyapkan bayangan kita, menghapus jejak kaki kita, tanpa kita sadari, semua itu berujung pada kelelahan dan bencana.

Kita kini hidup pada masa penuh tekanan. Masa yang menuntut kita untuk senantiasa tersambung dan terhubung dengan seluruh dunia. Menuntut kita untuk senantiasa tahu berita terbaru setiap saat, dan tidak ketinggalan dalam perkembangan teknologi yang bergerak dengan kecepatan memabukkan, perubahan gaya hidup, dan norma-norma budaya populer baru.

Kita bergerak dalam kecepatan yang tidak wajar dalam upaya mengimbangi pencapaian orang lain agar tetap relevan, dan tidak tertinggal di belakang. Kita senantiasa merasakan dorongan internal untuk melawan berbagai tekanan eksternal di sekeliling kita --dunia kerja, lingkaran pergaulan, grup WA alumni, grup WA keluarga, dan masyarakat.

Kita tergelincir dari jalur alamiah kita. Kita terintegrasi dalam dunia berteknologi tinggi, dan keponthal-ponthal mengikuti lajunya yang deras seperti terpaan badai. Kita tak lagi memegang kendali atas diri kita sendiri. Kita didikte oleh algoritma. Kita tak berdaya perilaku kita dimanipulasi oleh sebuah kekuatan yang tidak kasat mata. Kita kehilangan kehendak bebas kita.

Kapan terakhir kali Anda berjalan hanya demi untuk berjalan itu sendiri, tanpa dibebani oleh tujuan-tujuan, target-target, rencana-rencana, tuntutan-tuntutan? Menyaksikan keajaiban-keajaiban di sekitar kita, yang telah lama kita lupakan --secercah sinar matahari yang menerobos pepohonan, selembar daun jatuh di tanah, sekuntum bunga di balik batu di pinggir jalan, obrolan ringan dengan para sahabat, gelak tawa, desir angin, dan tetes hujan.

Kapan terakhir kali Anda hadir untuk diri Anda sendiri, merasakan bahwa kita ada di sini, hidup; kita di sini menapaki jalan pada planet mungil nan indah yang terselip di ketakterbatasan galaksi? Berjalan seolah mencium bumi dengan ujung sepatu sport mahalmu, seolah kamu memijati bumi dengan kakimu.

Rasanya kita sudah lama sekali kehilangan kesadaran itu. Kita berjalan sambil memelototi gadget. Kita bertemu teman, duduk semeja, dan asyik dengan HP masing-masing. Kita makan di warung tenda kaki lima, tangan kanan kita mencocolkan secuil daging ikan lele pada sambel lalu melahapnya dengan lalapan, dan tangan kiri kita sibuk skrol-skrol timeline media sosial.

Kita mengharuskan diri kita untuk selalu terlibat dalam setiap obrolan di Twitter, Facebook, dan Instagram; kita merasa perlu untuk terus-menerus mengatakan sesuatu, dan mengomentari apa saja. Kita terus-menerus menyampaikan pendapat terhadap topik yang tidak menarik bagi kita. Kita melontarkan pendapat untuk pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawab secara instan. Kita selalu terburu-buru untuk memberikan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan yang rumit.

Otak kita, yang menurut teori evolusi tidak berkembang selama 50 ribu tahun, dipaksa untuk terus-menerus beropini, berpendapat, berkomentar, "nimbrung", mengenai apa saja sambil pada saat yang sama dipaksa untuk melahap segala macam informasi yang mengalir dari segala penjuru, mendatangi kita tanpa kita minta --tapi, sekali lagi, kita dengan senang hati dan suka rela melahapnya selayak orang yang kelaparan.

Kita tak lagi memiliki "ruang kosong" dalam pikiran kita, untuk diri kita sendiri. Kita kehilangan autentisitas kita, keunikan kita, dan bahkan mungkin keistimewaan individual kita. Oke, kita mungkin memang tidak seistimewa itu. Tapi, hari-hari ini, kita hanya melakukan hal-hal yang dilakukan semua orang. Kita mati-matian berhemat, menabung, agar bisa traveling dan memasang fotonya untuk pic profile Tinder kita, agar sama dengan orang lain.

Kita melakukan sesuatu demi orang lain, untuk membuat orang lain terkesan, untuk mendulang "like", dan bukannya sebagai bagian dari usaha untuk membahagiakan diri sendiri. Kita menikah bukan karena kesiapan, tapi semata-mata untuk memenuhi tuntutan sosial dan menyenangkan orangtua. Kita bekerja keras sampai lupa waktu agar masa depan kita nanti terjamin. Hidup jadi seperti sebuah pendakian, atau "maraton pencapaian" --begitu sampai puncak atau garis akhir, kita akan mendapatkan medali.

Kita lupa pada hidup hari ini. Kita tinggalkan momen yang kita miliki, dengan bergegas dan berlari, seperti si pembenci bayangan dan jejak kaki. Sampai akhirnya, ketika kita sudah tersadar, momen kita telah berlalu, dan kita telah kehabisan energi.

Kita pastilah memang tidak seistimewa itu. Tapi, seperti diingatkan oleh penulis Korea Baek Se Hee lewat bukunya I Want to Die But I Want to Eat Tteokpokki: hanya ada satu "aku" di dunia ini. Diriku adalah sesuatu yang harus kujaga, harus kubantu secara perlahan, kutuntun selangkah demi selangkah dengan penuh kasih sayang dan kehangatan. Diriku adalah sesuatu yang butuh istirahat sesaat sambil menarik napas...

Kosongkan pikiranmu. Lihatlah langit dan awan yang berarak. Lihatlah ke dalam dirimu. Berjalanlah lebih pelan. Berkomentarlah lebih sedikit.

Mumu Aloha wartawan, penulis, editor

(mmu/mmu)