Kolom

Menjadikan Natuna sebagai Geopark UNESCO

Husnul Kausarian Anizar Saleh - detikNews
Jumat, 10 Jan 2020 13:00 WIB
Indahnya laut Natuna (Foto: Eduardo Simorangkir)
Indahnya laut Natuna (Foto: Eduardo Simorangkir)
Jakarta -

Belakangan ini isu Natuna menjadi sangat krusial, penting, dan cenderung memanas akibat dari intervensi Tiongkok di perairan Natuna yang menjadi kekuasaan pemerintah Indonesia. Peristiwa ini tentu mengusik kedaulatan wilayah NKRI. Untuk menyikapi hal ini, kita harus bersikap tegas dan berstrategi yang apik untuk mempertahankan wilayah kedaulatan kita.

Salah satu strategi yang bisa dilakukan oleh pemerintah Indonesia adalah dengan membuat wilayah kedaulatan ini menjadi perhatian dunia, agar pihak asing juga tidak bisa dengan mudahnya melakukan intervensi di wilayah kedaulatan NKRI. Salah satu upayanya saya ulas di tulisan berikut ini.

Keindahan Alam

Selama berada di Kabupaten Natuna selama kurang lebih satu minggu melakukan pekerjaan pemetaan geologi, kata-kata yang sesuai untuk saya gambarkan tentang Natuna adalah Wow! What a great creation from the God! Di sini terhampar bentangan alam yang luar biasa indahnya, dilengkapi dengan bukti-bukti sejarah pembentukan bumi secara geologi. Hamparan keindahan alam yang diberikan Natuna sungguh luar biasa, dengan laut berwarna biru terang dan hijau, terasa semakin lengkap dengan tampilannya yang tembus pandang hingga menunjukkan morfologi dasar laut yang menjadi lantainya.

Pemandangan alam luar biasa yang disuguhkan Natuna sesungguhnya bisa dijadikan nilai jual yang berujung untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hal ini jika dikemas dengan baik bisa menjadikan Natuna sebagai daerah yang maju, bukan hanya dalam skala lokal, regional, maupun nasional saja, tapi juga internasional. Tentunya dalam mempersiapkan Natuna menjadi daerah yang maju, perlu disiapkan dengan matang dan baik. Salah satu peluang internasional yang sangat mudah didapat oleh Natuna adalah menjadikan Natuna sebagai daerah Geopark.

Sebagai proyek internasional PBB di bawah UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization), Geopark adalah sebuah kawasan yang memiliki unsur-unsur geologi di mana masyarakat setempat diajak berperan serta untuk melindungi dan meningkatkan fungsi warisan alam, termasuk nilai arkeologi, ekologi dan budaya yang ada di dalamnya. Geopark merupakan singkatan dari "Geological Park" yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai Taman Geologi atau Taman Bumi.

Menurut penjelasan UNESCO, unsur utama di dalam Geopark terbagi tiga yaitu Geodiversity, Biodiversity, dan Cultural Diversity. Konsep dasar Geopark menurut UNESCO adalah pembangunan ekonomi secara mapan melalui warisan geologi atau geotourism. Tujuan dan sasaran dari Geopark adalah untuk melindungi keragaman Bumi (geodiversity) dan konservasi lingkungan, pendidikan, dan ilmu kebumian secara luas.

Kelengkapan unsur-unsur yang ditetapkan oleh UNESCO secara lengkap telah dimiliki oleh Natuna. Hal ini menunjukkan bahwa Natuna saat ini telah siap untuk mendapatkan perhatian dan pengakuan oleh UNESCO.

Geologi di Natuna

Sebagai salah satu syarat penilaian yang diberikan oleh UNESCO untuk menjadikan suatu wilayah bisa diakui menjadi kawasan Geopark adalah lengkapnya informasi geologi yang terdapat di wilayah tersebut. Natuna menyediakan kelengkapan informasi tersebut. Di pulau ini, semua informasi geologi tersingkap dengan sempurna.

Di Natuna tersaji bukti-bukti geologi yang terekam dengan sangat baik mulai dari jenis batuan hingga ke struktur geologi. Dalam ilmu geologi, terdapat tiga jenis batuan utama, yaitu batuan beku/igneous, batuan sedimen, dan batuan metamorf. Kelengkapan bukti-bukti geologi disini dibuktikan dengan representasi seluruh batuan yang menjadi unsur penting dalam sebuah informasi geologi.

Di Natuna, semua jenis batuan geologi bisa ditemui. Mulai dari batuan tertua yang menjadi penyusun awal dan dasar Pulau Natuna, yaitu batuan mafik dan ultramafik yang dipresentasikan oleh batuan gabro (berbutir kasar) hingga basalt (berbutir halus). Batuan mafik dan ultramafik ini merupakan batuan dasar/lantai dari Pulau Natuna. Dari batuan ini jelas menggambarkan bahwa Pulau Natuna pada zaman purbanya merupakan daerah yang berada di laut dalam. Batuan jenis ini tersebar di kawasan selatan hingga ke barat Pulau Natuna dan juga tersingkap di Desa Air Lengit dengan usia perkiraan batuan ini adalah 200 juta hingga 100 juta tahun.

Bukti batuan beku lain yang bisa ditemui adalah batuan igneous atau batuan beku yang bersifat asam; dengan mudahnya bisa ditemui di sini, di Gunung Ranai. Gunung ini merupakan representasi dari magma yang membeku di dalam perut bumi pada waktu 70 juta tahun yang lalu hingga 300 ribu tahun yang lalu. Batuan hasil dari pembekuan magma ini dulunya berada di dalam perut bumi hingga kemudian terangkat ke permukaan bumi seperti yang bisa kita lihat saat sekarang ini.

Batuan beku ini juga memberikan pemandangan alam yang luar biasa, seperti wujudnya bongkahan-bongkahan granit raksasa yang memberikan fitur yang sangat menarik seperti yang bisa dilihat sepanjang Gunung Ranai hingga ke arah pantai; Alif Stone, Batu Sindu, Air Terjun di Ceruk, dan lain-lain.

Jenis batuan geologi berikutnya yang bisa ditemui adalah batuan sedimen. Di Natuna, jenis batuan ini sangat banyak ditemui; ada sekitar 4 jenis formasi utama yang mewakili kewujudan batuan jenis ini di Natuna. Batuan sedimen yang terdapat di Natuna memberikan interpretasi geologi yang sangat menarik. Wujudnya batuan sedimen di pulau ini menunjukkan bahwa dulunya pulau ini terendam di dalam laut, lalu dengan adanya proses pengangkatan tektonik dan juga surutnya air laut, akhirnya pulau ini kini menjadi daratan secara utuh.

Selain itu turut serta kita temui batuan sedimen jenis tuf, batuan ini terbentuk karena pengikisan batuan gunung api yang kemudian teralterasi menjadi batuan sedimen. Kewujudan batuan sedimen memberikan pemandangan yang luar biasa karena turut serta membawa struktur geologi yang indah. Di batuan sedimen yang terdapat di Natuna, kita bisa menemukan berbagai macam strutktur geologi. Beberapa struktur geologi yang menarik adalah adanya kontak antar-setiap formasi yang ditunjukkan dengan struktur ketakselarasan. Struktur-struktur ini tersingkap jelas pada batuan yang bisa kita lihat di sepanjang jalan yang telah dibuat oleh pemerintah.

Di batuan jenis ini juga ditemukan struktur lapisan yang sangat baik. Ada lapisan yang sangat menarik di sini, yaitu lapisan awal pembentuk perangkap minyak bumi. Saat menemukannya, saya sungguh takjub; lapisan perangkap minyak bumi ini seharusnya berada di dalam perut bumi, namun di Natuna tidak, justru ia tersingkap dengan baik di permukaan bumi, dan bisa dilihat dengan mata telanjang, sungguh luar biasa! Ini menjadi suatu penemuan penting tentang lapisan perangkap minyak bumi yang bisa diamati di permukaan.

Jenis batuan geologi terakhir yang bisa diamati di pulau ini adalah batuan metamorf. Batuan metamorf memiliki pengertian sebagai batuan yang terjadi karena pertemuan batuan yang sudah ada yang dipengaruhi oleh suhu dan tekanan. Batuan jenis ini bisa kita temukan akibat adanya kontak antara batuan mafik yang mengalami kontak dengan magma yang membeku yang merupakan bagian dari batuan pembentuk Gunung Ranai. Kontak antara magma dengan batuan yang sudah ada tersebut menghasilkan batuan yang baru yang dikenali dengan batuan metamorf.

Konsep Wisata Baru

Georpark atau Taman Bumi menjadi konsep wisata baru yang saat ini tengah dikembangkan oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. Tentunya peran aktif Pemerintah Kabupaten Natuna sangat memegang kunci demi terciptanya Natuna Geopark.

Untuk menjadi anggota Global Geopark Network (GGN) UNESCO ada persyaratan tertentu yang harus dipenuhi. Wilayah tersebut sudah ditetapkan sebagai Geopark Nasional terlebih dahulu oleh Pemerintah RI, dalam hal ini Kementerian Pariwisata dengan memiliki batas-batas yang ditetapkan oleh pemerintah setempat secara jelas dan memiliki kawasan yang cukup luas untuk pembangunan ekonomi lokal serta minimal ada tiga kegiatan yang berlangsung disana yaitu konservasi, pendidikan, dan geowisata.

Saat ini telah ada 35 negara yang bergabung dalam GGN dengan jumlah geopark yang paling banyak ada di negara China. Sedangkan geopark di Indonesia saat ini memiliki dua taman geologi yang diakui GGN, yaitu Batur Global Geopark dan Gunung Sewu Geopark. Harapan kita tentunya Natuna menjadi bagian dari jaringan geopark sehingga kesejahteraan masyarakat Natuna juga ikut semakin maju.

Husnul Kausarian Ph.D Associate Professor di Universitas Islam Riau

(mmu/mmu)