Meluruskan Makna Jihad (6)

Perbedaan adalah Sunnatullah

Nasaruddin Umar - detikNews
Kamis, 09 Jan 2020 16:32 WIB
Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA (Ilustrasi: M. Fakhry Arrizal/detikcom)
Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA (Ilustrasi: M. Fakhry Arrizal/detikcom)
Jakarta - Salah satu kekeliruan pemaknaan jihad jika didoktrinkan agar semua umat manusia itu harus hidup seragam dalam akidah. Allah sendiri menegaskan bahwa: Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kalian (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya? (Q.S. Yunus/10:99). Ayat ini menggunakan kata lau (wa lau sya' Rabbuka), bukannya in atau idza yang memiliki arti yang sama, yaitu "jika". Kekhususan penggunaan lau adalah isyarat sebuah pengandaian yang tidak akan pernah mungkin terjadi atau terwujud.

Sebaliknya kata idzkinan menisyaratkan makna kepastian akan terjadinya sesuatu, sedangkan kata in mengisyaratkan kedua-duanya, bisa terjadi atau bisa tidak terjadi. Ayat di atas menggunakan kata lau lalu dipertegas dengan potongan ayat berikutnya dengan menggunakan shigat istifhamiyyah, tanda tanya: Apakah kalian (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya? Dalam ilmu Balaghah, salah satu cabang ilmu bahasa Arab, shigat istifhamiyyah tersebut menegaskan ketidakmungkinannya hal yang dipertanyakan.

Banyak ayat yang mendukung bahwa perbedaan dan pluralitas di dalam masyarakat sudah merupakan ketentuan Tuhan, seperti yang dinyatakan di dalam ayat: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian. (Q.S. A-Hujurat/49:13).

Kita tidak perlu mempertanyakan mengapa Allah menciptakan hambanya tidak seragam. Semuanya itu sesungguhnya sebagai perwujudan nama-nama-Nya (al-asma' al-husna') yang bermacam-macam. Setiap nama-nama tersebut menuntut pengejawantahan di dalam realis alam raya (hal ini dibahas lebih mendalam di dalam buku saya Pintu-pintu Syurga).

Di dalam ayat lain Allah lebih tegas menekankan bahwa perbedaan setiap umat sudah dirancang sedemikian rupa: Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. (Q.S. al-Maidah/5:48). Dalam ayat lain Allah memberikan suatu pernyataan indah: Janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain. (Q.S. Yusuf/12:67).

Kedua ayat tersebut menunjukkan bahwa jalan menuju Tuhan memang tidak tunggal. Mungkin karena itu Allah selalu mengingatkan kita: Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). (Q.S. al-Baqarah/2:256). Di dalam menyampaikan dakwah dan ajakan Allah menegaskan agar kita menghindari cara-cara kekerasan dan pemaksaan kehendak. Berdakwah memerlukan kesabaran dan ketekunan seperti yang ditunjukkan Rasulullah SAW. Allah sendiri menurunkan Al-Quran selama 23 tahun, padahal Ia bisa menurunkannya dalam waktu sekejap. Ini menunjukkan bahwa memanusiawikan manusia memerlukan waktu, proses, strategi, dan metode.

Jika perbedaan atau masalah muncul maka di situlah seninya hidup bermasyarakat. Allah menyarankan menyelesaikan setiap perbedaan dan pertikaian yang muncul dengan dengan cara mengedepankan musyawarah, sebagaimana dinyatakan: Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. (Q.S. Ali 'Imran/3:159).

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta

(mmu/mmu)