Kolom

Labuan Bajo, Sudah Tepatkah Strategi Kita?

Pandu Laksono S.P - detikNews
Kamis, 09 Jan 2020 12:46 WIB
Kanawa, salah satu resort di kawasan Labuan Bajo
Kanawa, salah satu resort di kawasan Labuan Bajo
Jakarta -

Desir ombak melintasi hamparan pasir terbentang sepanjang garis pantai di kala itu, kupandangi dan kurenungi, betapa tanpa terasa telah lima tahun kuabdikan waktuku di daratan Flores yang indah nan asri ini, dengan keunikan budaya dan keindahan alamnya yang tidak mudah direplikasikan di mana pun. Labuan Bajo, sebuah tempat dengan segala keindahan dan keajaiban alam yang ditawarkannya, kini sudah harus kutinggalkan karena tugas yang mewajibkanku kembali menghadapi kerasnya ibu kota.

Labuan Bajo yang dulu pertama kali kupijak pada awal 2014 bukanlah seperti sekarang. Belum ada foto-foto yang memamerkan keelokan panoramanya beredar di Instagram, belum ada hashtag serta cuitan di Twitter menarasikan keasriannya, belum ada posting-an yang menunjukkan betapa menawannya Labuan Bajo pada linimasa Facebook pada masa itu, yang ada hanyalah keindahan alam nan mempesona, belum terjelajah oleh khalayak luas, hanya sejumlah wisatawan asing yang telah terpikat oleh pesona tempat ini.

Menurut cerita orang setempat, tanah lapang yang dulunya hanya dihargai seekor kuda, telah menjadi tanah berharga yang kini banyak terdapat sengketa demi hak kepemilikannya. Desa di ujung barat wilayah Kabupaten Manggarai Barat itu kini telah bermetamorfosis menjadi penarik perhatian dunia, belum mencapai taraf jagoan pariwisata kita, Bali, namun juga tidak dapat dipandang sebelah mata. Buktinya, banyak event yang diselenggarakan di Labuan Bajo mulai dari Sail Komodo, garis finis Tour de Flores, hingga yang berkelas dunia seperti IMF-WBG Annual Meeting.

Bandaranya yang dulu tidak lebih besar dari sebuah terminal angkot dengan patung komodo yang bertengger di dekat landasannya, kini telah disulap menjadi bandara internasional bernuansa modern. Jalan Soekarno Hatta, jalan utama di Labuan Bajo yang dulunya sempit dan kotor, kini tampak seperti jalanan di Kuta, Bali dengan toko-toko pernak-perniknya. Tanah-tanah kosong penuh ilalang kini menjadi penopang hotel dari kelas melati hingga berbintang empat. Warung-warung kecil tergantikan oleh restoran-restoran mentereng. Mau restoran bernuansa elegan seperti di Eropa? Ada. Restoran bergaya oriental seperti di Asia Timur? Ada. Restoran di tengah laut dengan suasana sunset yang romantis? Tentu ada. You name it.

Gambaran bahwa Labuan Bajo hanyalah sebuah desa pelabuhan kecil dengan pasar ikannya yang kumuh sudah tidak kentara lagi. Dari tempat ini, pemerintah menampung devisa dari para wisatawan yang terus meningkat tiap tahunnya. Sebuah strategi alternatif yang diperlukan bangsa kita untuk bersaing di pangsa dunia tanpa harus bergantung pada eksklusivitas sumber daya alam yang terbatas.

The Next Bali

Apabila dunia bertanya pada kita, di manakah destinasi wisata di Indonesia yang mampu engkau tawarkan? Hampir semua dari kita akan menjawab, Bali tempatnya. Nama Bali sudah terkenal dan diakui oleh masyarakat dunia dengan segala kematangan dan pelestarian budaya secara masif yang ditawarkan, di mana hal ini tentu menjadi sebuah kualitas distingtif yang menjadi keunggulannya.

Lalu bagaimana dengan Labuan Bajo dan destinasi wisata lainnya di Indonesia? Apakah akan selamanya hanya menjadi bayang-bayang yang terus mengekor di balik nama besar sang Pulau Dewata? Satu hal yang pasti, Labuan Bajo bukanlah Bali. Bila diibaratkan, Bali adalah orang dewasa yang telah mandiri dan berlari jauh, sedangkan Labuan Bajo adalah anak kecil yang baru belajar berjalan. Kita menyadari, Labuan Bajo masih jauh dari kata matang.

Labuan Bajo memiliki kekurangan, namun juga diimbangi dengan daya tarik istimewa yang bahkan tidak dimiliki oleh Bali sekalipun. Yang menjadi permasalahan, haruskah pemerintah mengembangkan Labuan Bajo dengan strategi yang telah terbukti sukses pada Bali, sebagai peraih berbagai penghargaan destinasi wisata terbaik dunia, ataukah Labuan Bajo akan menjadi wisata tersendiri, dengan originalitasnya serta seluruh keunikannya agar dapat berdiri sendiri? Bukan sebagai pesaing, namun saling bersinergi menunjukkan identitas negara ini.

Pemerintah berinvestasi besar pada Labuan Bajo. Pembangunan infrastruktur dilaksanakan secara masif, mulai dari proyek Marina Bay, penataan Puncak Waringin, penataan kawasan Kampung Baru, penataan integrasi Tempat Pelelangan Ikan dengan kawasan wisata kuliner Kampung Ujung, peningkatan trotoar dan Jalan Soekarno Hatta, pengembangan kawasan wisata Goa Batu Cermin, serta pengembangan sektor air minum dan sanitasi Labuan Bajo. Bahkan untuk 2020 telah dianggarkan dana sejumlah Rp 822 miliar untuk pengembangan Labuan Bajo.

"Saya berharap, nanti di akhir tahun 2020, semua infrastruktur --calendar of event, produk ekonomi kreatif, dan cenderamata-- yang akan mendukung destinasi wisata baru ini akan selesai." Demikian sepotong kalimat yang diunggah oleh Presiden Joko Widodo dalam akun resmi Instagram @jokowi pada 1 Desember 2019 , menunjukkan keseriusan pemerintah dalam pengembangan kawasan wisata di Indonesia, salah satunya adalah Labuan Bajo.

Infrastruktur Saja Tidak Cukup

Bicara mengenai infrastruktur, sering kita artikan sebagai tolok ukur kemajuan. Suatu daerah baru bisa dikatakan lebih "maju" dari daerah lain kalau infrastruktur yang tersedia di daerah tersebut lebih lengkap, lebih modern, dan lebih "wah". Hal ini tidak sepenuhnya salah, karena penyediaan infrastruktur seperti di kawasan wisata Labuan Bajo memang sebuah langkah mandatorial yang harus diambil pemerintah untuk mencapai visi dan misi petinggi bangsa ini.

Akan percuma apabila kita telah mempersiapkan konsep serta ide untuk menawarkan berbagai event dan segala atraksi kepada dunia, namun terhambat infrastruktur yang belum memadai. Namun, di balik masifnya proyek penyediaan infrastruktur, sering terlupa pada benak kita satu hal esensial yang harusnya mendapat perhatian, yaitu bagaimana kesiapan warga Labuan Bajo sebagai host dalam menghadapi perubahan drastis ini.

Tentu dalam praktiknya kita dapat mendatangkan berbagai tenaga ahli kelas dunia untuk mengelola Labuan Bajo, tetapi kearifan lokal tetap memegang peran dalam implementasi strategi pemerintah tersebut. Warga lokal-lah yang menentukan bagaimana kultur asli suatu daerah yang sesuai dengan identitas masyarakatnya, mulai dari bagaimana berinteraksi, kebiasaan, dan mentalitas dalam bermasyarakat sehari-hari.

Ketika Labuan Bajo dibuka untuk wisatawan, maka interaksi dengan warga lokal tidak terelakkan, mengingat merekalah yang telah menempati Labuan Bajo dan menjalani kehidupan berdasarkan adat istiadat lokal sejak puluhan generasi yang lampau. Pemerintah harus dapat memastikan bahwa kultur dan kebiasaan masyarakat sekitar sejalan dengan konsep-konsep yang telah dicanangkan, dan dapat mengajak masyarakat lokal bersama-sama bersinergi mensukseskan Labuan Bajo sebagai destinasi wisata premium yang layak bangsa Indonesia persembahkan kepada dunia.

Sebenarnya tidak perlu terlalu jauh berpikir bahwa warga lokal harus sempurna seperti dalam kisah utopia. Kita mulai saja dari hal-hal kecil, misalnya kesadaran menjaga kebersihan lingkungan dengan membuang sampah pada tempatnya, karena tentu kita tidak menginginkan wisata premium kelas dunia kita dicemari oleh sampah bukan?

Menanamkan kebiasaan-kebiasaan baik yang sehat dan bermartabat, tanpa melupakan kultur sebagai identitas keramahan lokal dapat membuat wisatawan semakin betah di Labuan Bajo. Selain itu, kapabilitas warga yang menjalankan bisnis lokal dalam beradaptasi terhadap pangsa pasar internasional, seperti kemampuan dasar berbahasa Inggris sebagai sarana berkomunikasi dengan wisatawan asing agar tercipta rasa feel welcome, juga perlu disiapkan.

After all, it's the next Bali. Semoga!

Pandu Laksono S.P ASN yang pernah bertugas di Labuan Bajo pada 2014-2019

(mmu/mmu)