Sentilan Iqbal Aji Daryono

Dari Reynhard Sinaga ke Muslim yang Selalu Terzalimi

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Selasa, 07 Jan 2020 16:33 WIB
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta - "Ini kasus kebrutalan semengerikan ini, sudah terbongkar sejak 2017, tapi kenapa selama ini seolah tak ada yang bersuara? Kenapa media diam saja? Saya merasakan ada yang disembunyikan dari ini semua."

Pagi ini saya membaca satu unggahan medsos dengan nada begitu, dari sebuah akun pesohor yang ber-follower ratusan ribu. Keruan saja, tulisan demikian sangat menggoda untuk dibagikan oleh banyak sekali orang. Seksi. Bombastis. Sensasional. Memicu asumsi atas misteri konspirasi yang menegangkan.

Dan tak perlu menunggu berlama-lama, langsung ada yang menyambar dengan komentar dahsyat, "Coba pelakunya bernama Ahmad, Ismail, Musa, pasti langsung digoreng habis-habisan ya."

Waduh!

***

Mulai hari-hari ini, Indonesia punya "duta" yang akan dibicarakan namanya di segenap penjuru dunia: monster predator seksual bernama Reynhard Sinaga. Itu kita semua sudah tahu, dan kita semua jijik dan marah melihat itu.

Sialnya, rasa jijik dan marah kita sampai hari ini tak pernah dibarengi dengan sedikit kemauan untuk piknik, membaca, atau minimal googling. Buktinya ya itu tadi, baru digelarnya segenap cerita kebrutalan Reynhard ke hadapan publik setelah 2,5 tahun serta-merta dituduh sebagai diskriminasi kepada umat Islam.

Saya sudah mual membaca deskripsi aksi-aksi Reynhard. Sekarang mual saya bertambah karena melihat kelakuan malas googling yang membawa banyak orang kepada imajinasi yang hebat-hebat.

Tentu, golongan yang reaktif itu bukannya tanpa "alasan".

Bayangkan, Reynhard ditangkap sejak Juni 2017, tapi semua kejahatannya baru kita ketahui 2,5 tahun sejak penangkapan! Jadi, selama 2,5 tahun itu ngapain aja? Pasti kejahatan itu ditutup-tutupi. Oh pantesan, pelakunya non-muslim! Coba kalau muslim, pasti langsung meledak beritanya sejak hari pertama!

Kalau mau instan, tentu kita bisa semata-mata langsung menyalahkan massa buih yang terpancing dengan fabrikasi kecurigaan berbasis kemalasan googling. Tapi saya justru melihat ada pihak lain yang bisa dilirik sebagai awal mula pembentuk fondasi kecurigaan. Pihak tersebut adalah media massa di Indonesia.

Selama ini, dalam berbagai kasus, ada banyak media yang tidak menjalankan etika jurnalistik dengan baik dalam pemberitaan kabar kriminal. Konkretnya, satu norma jurnalisme untuk menyamarkan identitas pelaku selama statusnya masih tersangka seringkali tidak dijalankan. Akibatnya, seorang tersangka sudah ditelanjangi habis-habisan di hadapan mahkamah jalanan, jauh sebelum vonis dijatuhkan oleh pengadilan.

Situasi demikian berlangsung terus-menerus dan menjadi hal yang lazim, bahkan dianggap sudah semestinya, bagi publik di Indonesia. Di sisi lain, kompetisi media dalam perebutan rating dan traffic tak dapat dihindari, sehingga pelanggaran-pelanggaran etika terus terjadi.

Sepaket dengan minimnya literasi media, situasi ini juga menyebabkan publik di Indonesia tidak memahami bahwa ada realitas lain yang lebih ideal, yang berjalan jauh di seberang lautan sana. Namun, realitas yang sebenarnya ideal itu justru dianggap salah, terutama karena membawa efek penundaan atas pembongkaran kejahatan yang dilakukan oleh orang dari lain golongan keyakinan. Lengkaplah sudah.

***

Saya tidak tahu, siapa yang mesti merespons semua itu dengan tindakan-tindakan konkret demi peningkatan kecerdasan masyarakat secara signifikan. Apakah Mas Nadiem Makarim? Atau Pak Menteri Kominfo yang masih disibukkan dengan pemblokiran situs-situs nonton gratisan?

Pak Menkominfo bisa memperketat aturan agar media di Indonesia semakin taat etika. Mas Nadiem bisa membuat kampanye yang menyasar berbagai kelompok usia agar masyarakat googling dulu sebelum berkomentar di medsos.

Dengan membuka Google, tak sampai sejam kita bisa langsung memahami bahwa di Inggris ada aturan ketat agar media tidak menyebarluaskan kasus pidana tertentu selama proses peradilan masih berjalan, apalagi jika fasenya masih penyidikan.

Lebih jauh lagi, lewat Google pula kita bisa tahu bahwa peradilan di Inggris menggunakan sistem juri, berbeda dengan di Indonesia. Dengan sistem tersebut, para juri yang dipilih dari warga masyarakat akan memberikan penilaian atas bersalah atau tidaknya si terdakwa, kemudian hakim menentukan vonis dan hukumannya.

Para juri adalah wakil masyarakat yang secara filosofis diposisikan mewakili kedaulatan masyarakat. Otomatis, sebagai anggota masyarakat pula, mereka rentan terpengaruh dengan opini publik. Itulah kenapa pemberitaan perlu ditahan dulu, agar opini publik tidak meledak sebelum tuntasnya proses peradilan, terutama untuk kasus sedahsyat kasus Reynhard.

Kita tidak perlu membahas seberapa ganas opini publik bisa mempengaruhi proses peradilan. Di negeri kita sendiri, yang begitu sudah berkali-kali terjadi. Pemberitaan yang masif sebelum proses hukum tuntas, dukungan publik yang menggumpal condong ke satu pihak, sampai pengerahan massa yang mau tak mau menciptakan tekanan psikologis, acap membuat hakim tak bisa sepenuhnya merdeka dengan keputusan-keputusannya.

Tak usah saya sebutkan satu-dua contohnya, nanti sampeyan marah.

Belum lagi kasus di Manchester City ini membawa kondisi khusus, yakni kecurigaan bahwa korban Reynhard sebenarnya jauh lebih banyak daripada dugaan awal. Hampir semua korban Reynhard tidak sadar waktu diperkosa, baru tahu saat polisi datang membawa video dari HP si predator. Maka, penyebarluasan kabar kejahatan itu dikhawatirkan justru menciptakan hambatan psikologis bagi para korban untuk menyampaikan kesaksian mereka. Publikasi kasus gila ini pun baru diizinkan oleh pengadilan setelah gelar perkara tuntas dan vonis dijatuhkan.

Lantas, apakah setelah semuanya dibongkar ke publik, ada pembelaan kepada Reynhard karena dia bukan muslim?

Sama sekali tak ada yang begitu-begitu. Justru media-media, mulai Dailymail, Telegraph, hingga The Guardian menggambarkan dengan terang sekali bahwa Si Reyn itu berasal dari keluarga Katolik yang taat, bahkan di Manchester pun dia rajin ke gereja.

Gongnya adalah pemberitaan besar-besaran atas pernyataan hakim yang menyebut Reynhard sebagai "predator seksual setan", juga bahwa kasus itu adalah kasus pemerkosaan paling mengerikan di sepanjang sejarah Inggris!

Lalu, bagian buruk mana yang ditutup-tutupi karena Reynhard bukan muslim, Mas, Mbak?

***

Maaf, saya sebenarnya tidak menyampaikan gagasan dan sudut pandang genuine apa pun pada catatan kali ini. Semuanya cuma penyampaian ulang hasil googling. Tapi tetap harus saya sampaikan, karena Anda-Anda ternyata memang malas sekali untuk googling.

Akhirulkalam, jangan sampai mualnya kita melihat kebrutalan Reynhard memunculkan kemualan-kemualan baru, sebab naga-naganya sudah mulai ada yang memainkan sentimen-sentimen nggak bermutu semacam itu.

Iqbal Aji Daryono penggemar Google

(mmu/mmu)