Kolom

Harimau Sumatera Bukan Teroris

Ihsannudin, Haryo T. Wibisono - detikNews
Selasa, 07 Jan 2020 15:58 WIB
Ilustrasi: Andhika Akbaryansyah
Ilustrasi: Andhika Akbaryansyah
Jakarta -
Baru-baru ini lebih sering muncul lagi pemberitaan teror harimau di Sumatera baik yang menyebabkan korban luka bahkan tewas. Sebenarnya kasus ini bukanlah hal baru. Selama rentang 2008-2018 telah terjadi 1069 kasus konflik harimau-manusia (human-tiger conflict) dan 130 ekor harimau keluar dari habitatnya. Konflik ini berakibat bukan saja pada manusia, namun juga pada ternak bahkan pada harimau itu sendiri yang terluka ataupun tewas.

Serangan harimau pada manusia dalam dua dekade terakhir dominan terjadi di luar kawasan hutan atau di area yang menjadi aktivitas manusia seperti permukiman, lahan perkebunan, dan bahkan tempat wisata.

Harimau sumatera yang saat ini populasinya diperkirakan sekitar 600 ekor tersebar dari Aceh hingga Lampung. Keberadaan harimau dinilai penting karena perannya sebagai indikator dan regulator ekosistem, pemenuhan hukum-kebijakan baik nasional dan internasional, serta aspek sosial-ekonomi dan budaya. Demikian pula, dikarenakan sulitnya mempelajari harimau di alam liar, harimau sumatera juga menjadi pemicu perkembangan metodologis keilmuan.

Habitat

Di daratan Sumatera, harimau menempati setidaknya 23 petak habitat dengan luasan sekitar 12,9 juta hektar. Awalnya terbentang koridor yang menghubungkan petak-petak hutan tersebut. Namun hasil kajian menunjukkan adanya tren hilangnya tutupan hutan (forest lost trend) yang memprihatinkan. Catatan Margono (2014) menyatakan, hilangnya tutupan hutan primer (primary forest lost) 2000-2012 sebesar 2.857 kha. Kondisi ini menjadikan area habitat harimau terfragmentasi dan tereduksi pada kisaran 20%.

Demikian pula berkaca pada kajian di Hutan Lindung Bukit Batabuh, telah terjadi peningkatan ketidaksesuaian habitat harimau dari 20% menjadi 30% selama rentang 2002-2013. Kegiatan pengembangan pertanian/perkebunan diindikasikan menjadi penyebab utama.

Kondisi demikian berpengaruh pada teritori dan daya jelajah harimau. Sebagai gambaran, harimau memiliki teritori 15-20 kilometer persegi dan mampu menjelajah 236 kilometer persegi untuk memperoleh mangsa, istirahat, reproduksi, berlindung, dan aktivitas lain.

Keberadaan satwa mangsa menjadi variabel penting bagi habitat harimau. Saat satwa mangsa jarang tersedia, harimau memperluas area jelajah. Kasus di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, salah satu dari satwa mangsa harimau (muntjak) distribusinya sudah tidak berpengaruh signifikan dalam menopang pakan harimau.

Tak ayal, forest lost dan fragmentasi lahan harus dihentikan. Ini dilakukan untuk menjamin teritori, wilayah jelajah, interkoneksi koridor serta kesediaan satwa mangsa. Jika tidak, maka kejadian harimau memasuki kawasan di mana manusia beraktivitas adalah sebuah kewajaran.

Perilaku

Pada dasarnya, harimau dikenal sebagai satwa yang memiliki sifat adaptif pada berbagai tipe habitat baik hutan tropis, rawa, bakau hingga padang rumput. Demikian pula harimau memiliki fleksibilitas dalam merespons perubahan habitat.

Sifat adaptif dan fleksibilitas harimau di antaranya ditopang karakteristik yang melekat. Criptif, harimau memiliki sifat samar dan tersamarkan atau mampu berkamuflase dalam melakukan perburuan. Elusif, harimau cenderung menghindari dari pandangan dan interaksi dengan manusia.

Dalam konteks seringnya terjadi konflik antara manusia dan harimau di tempat dan kondisi yang tak wajar menunjukkan bahwa harimau sumatera telah mengalami anomali perilaku. Terlebih, semakin merangseknya aktivitas manusia ke wilayah habitat harimau.

Tradisi

Dalam konteks pemahaman masyarakat, sebenarnya telah ada sistem kognitif yang diekspresikan melalui bahasa, tradisi lisan, keterikatan tempat, kenangan, spiritualitas, dan wawasan yang ditampilkan dalam kompleksitas nilai dan kepercayaan, seremonial, praktik sosial atau kelembagaan dan organisasi sosial atau yang dinamakan traditional ecological knowledge (TEK) sebagaimana yang telah diakui UNESCO mulai 2007.

Harimau sumatera memiliki kedudukan yang dihormati. Sebut saja orang Batak yang memanggil harimau dengan sebutan ompung yang mengimplementasikan panggilan penghormatan. Demikian juga dengan daerah lain seperti Padang dan Jambi yang menyebutnya datuak, inyiak balang, dan ampang limo.

Namun, nyatanya tradisi tersebut terlihat semakin luntur. Perburuan dan perlakuan negatif kepada harimau kerap terjadi. Ini sangat patut diduga menjadi salah satu penyebab terjadinya konflik harimau-manusia. Dokter hewan BKSDA Bengkulu Erni Yanti yang berpengalaman menangani konflik harimau-manusia saat perhelatan Konferensi Karnivora Indonesia di Banyuwangi menyatakan, dari 9 kasus konflik harimau-manusia, ada 6 kasus bahwa korban/keluarga korban/ rang terdekat korban pernah melakukan interaksi negatif dengan harimau seperti membunuh atau mengambil anakan.

Manusia hidup damai berdampingan dengan harimau bukan hal mustahil. Setidaknya dapat dilihat pada sebuah kawasan di Bengkulu. Masyarakat di kawasan tersebut menyadari bahwa mereka hidup di wilayah teritori harimau. Maka saat ternaknya dimangsa harimau, mereka dengan rela meletakkan sisa ternak yang dimakan tersebut di pinggir hutan untuk dihabiskan oleh sang harimau.

Bahkan masyarakat memiliki semacam satgas mandiri dalam penanganan konflik harimau. Beberapa individu harimau yang menempati wilayah yang sama dalam permukiman tersebut aman bahkan berkembang biak. Terbukti ada satu individu harimau yang beranak lebih dari sekali, karena saat tertangkap camera trap pada 2016 harimau tersebut bersama anak-anaknya di permukiman itu.

Kemudian pada 2019, harimau yang sama tertangkap camera trap lagi dengan anak yang masih kecil. Lebih ekstrem lagi kejadian pada 1992, di HPH PT Bina Samakta di Air Bikuk ditemukan anak harimau yang terjerat dan diselamatkan. Tak lama induk harimau datang memberi kijang hidup yang telah dipatahkan kakinya dan diantar di dekat pondokan hutan.

Manusia yang telah memulai konflik dengan harimau harus berpikir untuk berdamai. Sederhana saja: harimau itu kawan, bukan teroris!

Ihsannudin dosen PemberdayaanMasyarakat untuk Konservasi Departemen Agribisnis Universitas Trunojoyo, kader Konservasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan; Haryo T. Wibisono Direktur Save Indonesian Nature & Threatened Species (SINTAS) Indonesia

(mmu/mmu)