Jeda

Seorang Introvert Bermimpi Menjadi Pemimpin

Hilmi Amin Sobari - detikNews
Minggu, 05 Jan 2020 12:15 WIB
Ilustrasi: Internet
Jakarta - Suatu kali aku pernah mengikuti psikotes kepribadian dan potensi kepemimpinan. Hasilnya sudah kuduga. Aku berkepribadian introvert. Itu aku sudah tahu sejak masih duduk di bangku sekolah. Namun yang tak pernah kuduga adalah hasil potensi kepemimpinan. Aku didiagnosis berkepribadian lemah sehingga tidak direkomendasikan untuk menjadi seorang pemimpin.

Saat itu aku masih terlalu muda untuk mengerti konsekuensinya. Aku tentu saja merasa khawatir, tapi tidak seserius seperti beberapa tahun kemudian. Masa depanku masih panjang, pikirku. Aku meyakini bahwa aku akan berubah seiring waktu. Pengalaman akan membentukku menjadi seorang pemimpin.

Aku kemudian bermimpi menjadi seorang pemimpin. Aku membaca berbagai buku motivasi. Aku memasang pilar-pilar positif di dalam bangunan mentalku. Aku membangun harapan-harapan indah tentang masa depanku.

Aku ingat pernah begitu mengidolai Mario Teguh. Aku berusaha meniru gayanya berbicara dan berperilaku di muka umum. Membeli buku-bukunya saat berkunjung ke toko buku. Mengikuti pola pikirnya yang saat itu kupercayai sebagai kunci kesuksesan. Menghafal dan menerapkan tips dan trik yang diajarkannya. Bahkan dalam salah satu sesi training karyawan tempatku bekerja beberapa waktu kemudian aku pernah secara khusus meminta kepada panitia untuk memberiku kesempatan memberikan sesi motivasi, dan tadaaaa...aku berperan ala Mario Teguh.

Aku juga membaca buku-buku serius dari Malcolm Gladwell tentang fenomena sosial yang langka --lebih tepatnya luput dari amatan ilmuwan sosial saat itu-- tentang orang yang sukses dengan cara yang tak biasa atau tentang fenomena luar biasa yang tak terduga atau peristiwa anomali. Berharap aku adalah salah satu dari Outliers itu. Berusaha menemukan resep jitu yang akan mengubah peruntunganku secara ajaib di buku The Tipping Point-nya. Dan berkeinginan secara mendadak memiliki intuisi seorang pengambil-keputusan yang efektif setelah menghabiskan bacaan buku Blink-nya.

Aku juga menghabiskan waktu dengan menonton beragam video motivasi, merenungi berbagai kalimat bijak para pengusaha dan pemimpin sukses, menyelami biografi mereka dan menghayatinya, terkadang meniru apa yang mereka lakukan. Singkatnya aku bekerja keras menjadi seorang pemimpin. Saat itu aku begitu yakin hal yang kulakukan itu akan menuntunku pada perubahan.

Bertahun-tahun kemudian inilah yang terjadi. Aku telah memiliki pengalaman bekerja di beberapa perusahaan. Aku merasa telah cukup banyak berubah. Saat itu aku mendapat peluang promosi di perusahaan tempatku bekerja. Aku mengikuti psikotes yang sama. Hasilnya sungguh di luar harapan. Setelah bertahun-tahun berusaha ternyata aku masihlah seorang introvert yang sama dan aku pun masih lemah dalam aspek kepemimpinan sehingga aku belum layak dipromosikan.

Aku sangat kecewa saat mengetahuinya. Kata orang waktu adalah obat terbaik, tapi nyatanya ia tidak dapat mengobatiku. Sejak saat itu aku belajar menerima kenyataan bahwa aku seorang introvert dengan kualitas kepemimpinan yang lemah. Waktu ternyata memberiku pelajaran lain yaitu aku mesti belajar menerima hidupku apa adanya dan merelakan diriku menjalani hidup dengan "vonis" itu.

Hidupku tidak selalu berjalan mulus. Adakalanya pikiranku melawan. Aku melewati pergulatan demi pergulatan dalam batinku. Aku merasa aku layak menjadi seorang pemimpin --bukankah aku telah berusaha dengan keras? Aku juga ingin hidup "normal" seperti orang lain di sekitarku. Namun panggang ternyata jauh dari api. Semakin keras berusaha meredamnya justru semakin terasa berat.

Aku terkadang merasa tidak diterima di lingkungan kerja ala kantoran yang dalam pandangan subjektifku terlalu kaku dalam menerapkan hasil psikotes. "Kamu introvert, potensi kepemimpinanmu rendah. Kamu tidak layak menjadi pemimpin!" Seakan-akan suara itu terus berbicara di kepalaku.

Aku terkadang merenungi nasib. Aku terkadang mengeluh saat sunyi dan pada saat yang sama menggali ingatan tentang usahaku mengubah diri, menyangkal dengan mengatakan pada diri bahwa kepemimpinan tidaklah didasarkan pada tipe kepribadian. Aku juga secara perlahan meyakini --itu caraku memotivasi diri, bahwa kepemimpinan merupakan style, gaya memimpin, yang bisa berbeda-beda antara satu dan lain orang.

Beberapa tokoh kelas dunia seperti Einstein si fisikawan jenius itu, Bill Gates si maestro perangkat lunak (juga orang terkaya di dunia saat ini), Mark Zuckerberg yang penemu dan pemilik Facebook itu, mereka dikenal sebagai introvert. Aha! mereka panutanku, dan lebih penting lagi, berkepribadian sepertiku. Jangan tepikan pula seorang Mahatma Gandhi. Nama-nama yang aku sebut itu dicatat dalam sejarah sebagai orang yang sukses menginspirasi banyak orang.

Inspirasi, mungkin kamu pernah dengar kalimat ini dengan redaksi yang serupa, adalah kualitas yang terpancar dari seorang pemimpin. Tepatnya aku ingin mengatakan bahwa mereka ini adalah potret manusia introvert bertipe pemimpin. Aku merasa dengan menjadikan mereka sebagai role model maka aku akan memiliki peluang untuk memiliki kualitas kepemimpinan yang lebih baik.

Seorang introvert sepertiku --begitulah aku merasa dipahami-- cenderung sibuk dengan dunianya sendiri, tidak nyaman jika harus terlibat aktif dalam sebuah acara yang ramai dengan orang yang tak dikenal, cenderung menghindari konflik dan mencari solusi jalan tengah bahkan hingga rela mengalah, lebih senang untuk dipimpin daripada memimpin, tidak ingin menunjukkan dirinya ke depan publik karena takut ditertawakan jika berbuat salah, tidak ingin menjadi pusat perhatian banyak orang karena tidak percaya diri, dan hal-hal dengan kualitas "rendahan" lainnya.

Sering dikatakan kepadaku sebagaimana kupahami dalam buku-buku yang kubaca itu bahwa seseorang dapat menjadi pemimpin hebat manakala memiliki kualitas "tinggi", seperti pandai berkomunikasi dan bisa menyenangkan lawan bicara bahkan orang yang baru dikenal sekalipun, pintar membujuk dan mengarahkan orang lain ke tujuan tertentu, tegas saat terlibat konflik dan tidak lembek ketika dalam tekanan, secara konstan dapat menunjukkan semangat yang alami saat diminta terlibat aktif dalam sebuah kelompok, tak pernah nampak ragu untuk menyampaikan pendapat di muka umum, secara alamiah terlihat senang untuk memimpin orang lain, dan hal-hal lain yang kontras dengan karakterku sebagai seorang introvert.

Aku merasakan hal-hal yang terakhir kusebut itu memang bukan bagian dari karakter dasar kepribadianku. Meskipun begitu aku pun bisa tampak hangat dan ramah pada beberapa situasi tertentu. Aku bisa saja menjadi seorang yang humoris, banyak berbicara atau mendominasi dalam sebuah diskusi, dan bersemangat menyampaikan usulan. Namun hal itu hanya bisa dilakukan saat aku sedang berada di dalam situasi yang sangat nyaman secara psikologis; katakanlah jika sedang curhat pada teman dekat, berdiskusi dengan anggota tim yang sudah lama saling mengenal, atau singkatnya untuk sampai di titik itu aku memerlukan hubungan personal yang sangat baik.

Pekerjaan menuntut situasi yang berbeda. Secara profesional aku dituntut untuk menerapkan kualitas "tinggi" itu di setiap momen, kapan pun dan di mana pun. Setiap saat harus tampil prima. Aku terkadang terbebani. Aku perlu menyingkir dari semua kebisingan itu. Seorang introvert sepertiku membutuhkan "me-time" untuk mengisi ulang energi.

Aku tidak akan menyalahkan siapapun yang menyimpulkan, apalagi jika dia seorang psikolog, bahwa aku tidak memiliki kualifikasi untuk menjadi seorang pemimpin. Bahkan setelah upayaku yang begitu keras untuk berubah. Aku harus bersikap pragmatis dan realistis guna menjaga kondisi keuanganku dan juga agar tetap dapat "diterima" --aku ragu ini kata yang tepat bagi seorang introvert.

Secara sosial dan profesional, aku harus menerima keputusan itu. Lagi pula hal itu berlandaskan penelitian ilmiah. Aku merasa tidak bijak mengadu argumen dengan para pakar kepribadian itu karena bukan ranah keahlianku.

Sebagai seorang introvert, yang bisa kulakukan adalah berusaha menjalani apa yang bisa kujalani. Melakukan hal yang bisa kulakukan. Sebaik-baiknya. Semampunya. Menerima kekurangan pada diri dan menggunakan kekuatan yang kumiliki untuk melangkah maju setapak demi setapak. Belajar menjadi seseorang yang mengenal dirinya kini terasa sangat penting. Menghindari obsesi yang membuat lupa bahwa diri ini hanyalah manusia dengan segala kekurangan dan kelebihannya.

Hilmi Amin Sobari seorang introvert

(mmu/mmu)