Pustaka

Inilah Teror Untukmu, Patriarki!

Fahri Hilmi - detikNews
Sabtu, 04 Jan 2020 13:04 WIB
Jakarta - Judul Buku: Membunuh Hantu-Hantu Patriarki; Penulis: Dea Safira; Penerbit: CV Jalan Baru, 2019; Tebal: 196 halaman

Pernah lihat lelaki kurang ajar yang matanya jelalatan melihat perempuan? Sering lihat cowok aktivis gerakan mahasiswa yang godain cewek di medan aksi? Sudah tahu kalau perempuan tak menikah itu dianggap tidak taat aturan agama? Atau, sering dengar perempuan yang sedang menstruasi itu dilarang masuk rumah ibadah?

Saya yakin Anda pernah dan sering menyaksikan fenomena-fenomena yang saya sebut barusan di lingkungan sekitar. Namun, apakah pernah membaca sebuah pembahasan yang menggugat fenomena-fenomena tersebut? Saya yakin tak semuanya pernah. Wacana yang mempertanyakan isu-isu di atas seringkali dianggap tabu.

Sebagai manusia merdeka, kita dikekang oleh pengetahuan yang semuanya disetir laki-laki. Dea Safira adalah oase di tengah dahaga pengetahuan akan isu-isu tersebut. Usai menutup akhir bab, saya yakin pembaca akan menerima sebuah senjata yang "diberikan" Dea untuk membunuh hantu-hantu patriarki. Sebagaimana judulnya, Membunuh Hantu-Hantu Patriarki. Senjata itulah yang disebut feminisme.

Buku setebal 196 halaman ini tak hanya curahan hati penulis yang sudah pengap hidup di dalam kerangkeng patriarki, tetapi sekaligus memuat petunjuk penggunaan senjata untuk menerornya. Dalam sebuah diskusi, saya pernah mendengar analogi mengenai ini. Kira-kira begini. Sejak dahulu, kita semua hidup dalam sebuah toples kaca yang isinya dipenuhi oleh fragmen-fragmen kekerasan seksual dan misoginisme yang jumlahnya ribuan.

Kita sesak napas karena dihimpit oleh fragmen-fragmen tersebut. Namun, ketika kita hendak lari keluar, jalan kita ditutup oleh penutup toples yang begitu sulit dibuka. Penutup toples itulah yang disebut patriarki. Apa yang ditulis Dea merupakan oksigen bahkan penghancur tutup toples tersebut. Buku ini tak hanya sebuah kumpulan esai, tetapi sebuah surat bagi seluruh manusia bahwa teror patriarki telah dekat.

Dengannya, kita akan merasa bahwa kita tak sendirian mengalami kesengsaraan karena diteror oleh patriarki. Kita akan merasa ditemani oleh kemarahan penulis. Lebih jauh dari itu, buku ini akan menjadi penerang bahwa kita memiliki kekuatan untuk meneror balik. Buku terbitan Jalan Baru ini seakan mengatakan: Sudah cukup kita diam. Ayo, lawan balik!

Begitu runyamnya persoalan yang ditimbulkan oleh patriarki membuat kita seakan-akan sulit melawan balik. Namun, Dea tak demikian. Keluasan pengetahuannya terhadap semesta feminisme menjadikan buku ini kuat. Pengalaman perempuan yang juga berprofesi sebagai dokter gigi ini juga sangatlah kokoh. Pengalaman-pengalaman tersebut seperti menjadi wakil dari setiap fragmen-fragmen ide dalam semesta feminisme.

Keluasan pengetahuan tersebut didapatkan dari sikap terbukanya penulis. Semua apa yang dialami oleh Dea seperti tumpah ruah dalam 38 esai. Kalis Mardiasih dalam pengantar menyebut Dea sebagai ulamanya intersectional feminism. Saya sepakat. Di muka buku, esai berjudul Apakah Feminisme dari Barat menjadi pembuka yang epik. Esai tersebut menjadi semacam deklarasi bahwa feminisme adalah paham yang sebenarnya sudah mengakar dalam diri setiap manusia sejak berabad lamanya.

Feminisme adalah paham yang menghendaki kesetaraan di antara manusia. Tidak muluk-muluk. Sayangnya, dunia tak mau paham. Feminisme dituding anti ketimuran dan berasal dari Barat. Feminisme dibuat seakan-akan sebuah paham berbahaya yang dapat menghancurkan dunia. Tenang, tudingan bahwa feminisme berasal dari Barat dan tidak sesuai dengan nilai-nilai ketimuran seketika runtuh dihajar habis-habisan oleh Dea.

Kata Dea, paradigma tersebut hanya akan membuat feminisme menjadi eksklusif dan justru mengekang perempuan untuk bebas berpengetahuan. "Hal ini seolah-olah menyiratkan, perempuan tidak mampu memiliki pemikiran." (hlm. 3). Isi dari Bab 1 yang dibuka oleh esai epik itu juga tak kalah seru. Judul babnya Pemikiran Perempuan.

Sebagai lelaki, saya tak menutup diri untuk membaca ini. Bagi saya, lelaki juga memiliki tanggung jawab besar terhadap perjuangan kesetaraan. Masuk dalam pemikiran perempuan adalah bagian dari proses untuk mempelajari itu. Kita akan memahami bahwa diamnya perempuan terhadap penindasan yang dialaminya bukanlah sifat alamiah perempuan. Sikap diam tersebut hadir dari struktur penindasan yang sudah tumbuh dan terpatri sejak berabad-abad silam sehingga membuat perempuan tak berani membuka suara.

Mayoritas isi buku ini juga berasal dari bab pertama. Keluasan gagasan Dea terkait feminisme terarsip dalam bab pembuka ini. Ada 17 bab yang membicarakannya. Pembahasan melalui pengalaman pribadi penulis menjadikan luasnya ide dalam semesta feminisme menjadi renyah dan mudah dipahami. Dengan kalimat-kalimat yang begitu personal, kita akan dibawa masuk dan berkelana ke dalam pemikiran Dea. Jika Anda membacanya, saya berpesan, bebaslah, jangan takut.

Dea juga bilang, Perempuan Berkelanalah! (hlm. 43). Pada Bab 2, kita akan dibawa bertamasya melihat-lihat bodohnya patriarki dalam memandang cinta. Persoalan-persoalan yang sering dialami oleh sepasang kekasih, macam kekerasan dalam pacaran, struktur hierarki dalam sebuah hubungan, atau mitos terkekangnya perempuan usai menikah dibombardir oleh esai-esai Dea yang saya lebih suka menyebutnya sebagai esai-esai pencerah.

Seperti yang dibahas dalam esai berjudul Membangun Cinta Setara. Esai tersebut menjelaskan bahwa kesetaraan dalam sebuah hubungan kasih bukanlah sebuah hal yang sulit dicapai. Kita seringkali memahami bahwa kebahagiaan perempuan wajib dijamin oleh sang lelaki jika keduanya sudah menikah. Namun, itu hanyalah jalan menuju penindasan terhadap perempuan. Dea memperjelas bagaimana kebahagiaan kedua pasangan yang diraih dari relasi penindasan macam itu hanyalah kebahagiaan semu.

Menurut Dea, kita tidak bisa mengandalkan orang lain untuk mendapatkan kebahagiaan. Kita harus dapat menghadirkan kebahagiaan itu oleh diri kita sendiri. Sehingga, kita akan membawa orang lain turut ke dalam kebahagiaan yang kita miliki. Dengan begitu, kebahagiaan akan berlipat ganda. Bab 2 akan membuka mata kita bahwa cinta memiliki dua mata pisau.

Pertama, ia akan menjadi alat kuasa laki-laki terhadap perempuan. Kedua, ia akan menjadi medium kebahagiaan yang setara untuk laki-laki maupun perempuan. Agar tak menjadi pisau yang menggorok manusia, Dea membuat cinta menjadi alat perjuangan menuju kesetaraan. Kemudian, Bab 3, inilah favorit saya. Bagi saya yang seorang lelaki, autokritik adalah barang yang amat sangat langka. Lingkungan saya seringkali menuntut saya diam dan tertutup terhadap perilaku misoginis.

Lingkungan tersebut seakan menjadi tabir yang menutupi saya memahami perilaku kurang ajar laki-laki. Bab 3 ini akan membuka tabir-tabir tersebut. Dengan begitu, ia akan menjadi bahan introspeksi yang tepat bagi para lelaki, selain menjadi edukasi bagi kawan-kawan perempuan. Memang benar, bab ini cenderung dipenuhi oleh kalimat-kalimat konfrontatif terhadap laki-laki.

Namun, jika kita mau membuka pikiran, maka kita akan melihat bahwa bab ini adalah sebuah ekskavator pemikiran yang akan menghancurkan tembok bernama patriarki. Bab ini, juga tentunya buku ini, bukanlah alat penghancur harga diri lelaki. Dengannya, kita akan memahami betapa kita, para lelaki, telah lama menjadi teror bagi perempuan, yang adalah sama-sama manusia, dengan semua perilaku kurang ajar kita.

Jika saja kita mau introspeksi, maka kita akan memahami bahwa patriarki bukanlah musuh bagi perempuan saja, melainkan juga musuh laki-laki. Ia hadir di antara relung-relung kehidupan kita. Meneror ibu, adik, kawan, saudara, bahkan putri kita kelak. Untuk itu, pahamilah bahwa patriarki adalah musuh bersama.

Membaca buku ini justru tak membuat saya marah. Walau ibarat masuk ke dalam kandang macan, tapi saya jadi tahu bahwa telah begitu lama dan kokohnya patriarki mengekang perempuan dan memaksa perempuan tunduk di bawah kaki laki-laki. Dengan begitu, saya paham bahwa kritik bahkan cemoohan terhadap laki-laki dalam buku ini tak muncul dari ruang kosong.

Tentunya, saya tak boleh balik menyerang sebagaimana para penindas berperilaku. Justru kritikan dan cemoohan itu menjadikan saya sadar, bahwa apa yang telah dilakukan oleh kaum lelaki selama ini adalah tindakan yang sama sekali tidak manusiawi. Kita telah membunuh ibu dan saudara kita sadar atau tak sadar. Kepadamu wahai patriarki, saya persembahkan buku ini. Inilah teror untukmu, patriarki!

(mmu/mmu)