Kolom Nasaruddin Umar

Meluruskan Makna Jihad (2): Makna Semantik

Nasaruddin Umar - detikNews
Jumat, 03 Jan 2020 10:45 WIB
Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA (Ilustrasi: M. Fakhry Arrizal/detikcom)
Jakarta - Jihad berasal dari akar kata jahada (bersungguh-sungguh) membentuk tiga kata kunci yang dapat mengantar manusia meraih predikat tertinggi sebagai manusia paripurna.

Pertama, kata jihad berarti perjuangan yang dilakukan seseorang dengan mengandalkan unsur fisik atau otot, meskipun perjuangan non-fisik juga masuk kategori jihad di tempat lain. Jihad secara fisik tidak mesti harus diukur kemampuan seseorang untuk mengangkat senjata melawan musuh-musuh Islam, tetapi juga melakukan berbagai usaha secara fisik untuk terwujudnya keamanan, keselamatan, dan ketinggian martabat manusia juga termasuk jihad.

Bahkan menyingkirkan batu kerikil di jalanan yang dapat membahayakan orang lain termasuk cabang dari jihad, kata Rasulullah SAW. Unsur lain yang harus ada dalam jihad ialah motivasi kuat yang didorong oleh niat tulus hanya untuk Allah. Tanpa niat dan motivasi ini jihad sulit mencapai tujuan yang diharapkan. Mungkin secara fisik berhasil, misalnya menaklukkan musuh, tetapi harus pula berhasil di sisih Tuhan yang diukur berdasarkan niat suci tadi.

Kedua, ijtihad berarti perjuangan secara intelektual seseorang. Tidak semua orang dapat melakukan ijtihad. Orang yang ahli di dalam berijtihad disebut mujtahid. Unsur-unsur yang harus dipenuhi seseorang baru dapat disebut mujtahid tergantung dalam berbagai konteks. Jika dalam konteks fikih, seorang mujtahid harus menguasai bahasa Arab, 'Ulumul Qur'an, Ulumul Hadits, muslim, dan praktisi muslim.

Dalam konteks sosiologi Islam, seorang mujtahid difigurkan sebagai seorang yang mampu memberikan sumbangan intelektual dalam membela dan mengangkat derajat umat Islam dalam berbagai segi.

Seorang ilmuwan muslim yang ahli dalam bidang ekonomi dapat menyumbangkan konsep-konsepnya dalam memberantas kemiskinan umat. Seorang fisikawan muslim dapat menyumbangkan teknologi perang untuk kejayaan umat manusia. Seorang ahli obat-obatan dapat menyumbangkan ramuan dan resep untuk kesehatan manusia, dan seorang dokter muslim dapat mengupayakan penyembuhan pasien dengan cara-cara islami, dan seterusnya.

Ketiga, mujahadah berarti perjuangan secara batin atau spiritual. Kata mujahadah tidak lebih populer daripada kata jihad atau ijtihad, padahal beberapa riwayat menyebutkan bahwa ijtihad lebih utama daripada jihad, dan mujahadah lebih utama dari pada ijtihad. Aukamaqala Rasulullah SAW: "Goresan tinta para ulama lebih utama dari pada tumpahan darah para syuhada."

Artinya, setetes tinta orang yang berjuang melalui logika para ulama (mujtahid) lebih utama daripada tumpahan darahnya para syuhada (yang lebih dominan menggunakan otot). Dalam bahasa militer, seorang jenderal sebanding dengan seribu prajurit. Namun masih ada yang lebih utama dari ijtihad, yakni mujahadah. Mujahadah ialah perjuangan yang mengandalkan unsur batin atau kalbu.

Jihad, ijtihad, dan mujahadah masing-masing memiliki kekhususan. Unsur yang harus ada dalam jihad antara lain, adanya keterlibatan fisik di dalamnya, ada perhitungan dan perencanaan yang matang, baik untuk jangka pendek maupun untuk jangka panjang, harus lebih banyak manfaat daripada mudaratnya menurut ukuran-ukuran universal tujuan syariah (maqashid al-syari'ah).

Ijtihad lebih bersifat strategis dan berjangka panjang. Sementara perjuangan melalui jihad lebih berjangka pendek. Kesulitan yang dihadapi antara keduanya tergantung kondisi yang dihadapi. Boleh jadi tingkat kesulitan dan tantangan jihad lebih berat, terutama pada waktu kekacauan dan peperangan. Tetapi perjuangan ijtihad dituntut lebih banyak pada masa damai, terutama untuk memikirkan kualitas hidup umat yang lebih layak.

Sedangkan mujahadah lebih bersifat terbuka, siapapun boleh mengaksesnya yang penting ada kesungguhan batin untuk melakukannya. Mujahadah bisa mengantar manusia meraih predikat tertinggi sebagai manusia paripurna.

Idealnya seseorang yang mendambakan kualitas hidup paripurna tidak bisa hanya mengandalkan salah satu di antara ketiga kualitas perjuangan tadi, tetapi ketiga-tiganya harus sinergi di dalam diri, sebagaimana ditampilkan Rasulullah. Beliau sangat terampil di dalam perjuangan fisik, terbukti dirinya sering terlibat sebagai panglima angkatan perang yang sangat disegani kawan dan lawan. Beliau juga seorang yang cerdas pikirannya.

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta

(mmu/mmu)