"Common Sense" Ishadi SK

Morowali yang Berubah

Ishadi S.K - detikNews
Sabtu, 28 Des 2019 10:19 WIB
Ishadi SK (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Morowali telah berubah. Sulawesi Mining Industry di wilayah Kabupaten Sulawesi Tengah selama puluhan tahun telah menjadi kawasan pertambangan bouksit dan nikel terbesar ke enam di dunia (menurut US Geological Survey). Dalam sejarahnya sejak zaman Majapahit abad ke-16 para pedagang Kerajaan Belanda dan Inggris telah membeli tembaga yang bahan dasarnya nikel dan bouksit untuk kepentingan logam, senjata, mata tombak, pedang, dan panah.

Di masa pasca kemerdekaan RI tahun 1945 tidak terdengar adanya aktivitas penambangan nikel dan bouksit secara besar-besaran. Baru pada tahun 1965 di era Presiden Soeharto dua perusahaan tambang raksasa dunia PT Rio Tinto dan PT Inco diberi kontrak karya pertambangan generasi ke-3 setelah PT Freeport di tanah Papua. Kegiatan tersebut diperkuat dengan ditanda tanganinya modal asing lewat Undang-Undang No.1 tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing, disusul dengan Undang-Undang No.11 tahun 1967 tentang Pokok-Pokok Pertambangan.

Kedua perusahaan besar tersebut secara serius dan eksplosional mengelola pertambangan nikel dan bouksit di Sulawesi Tengah. Dalam perjalanannya PT Rio Tinto yang sebagian dimiliki oleh perusahaan pribumi belum sempat berproduksi. Berbeda dengan PT Inco yang terus melakukan langkah-langkah strategis di antaranya mendapatkan (KK) Kontrak Karya di wilayah tersebut berkat persetujuan Presiden Republik Indonesia B/91/pres/7/1968 di Era Orde Baru. Produksi komersial berlangsung mulai 1 April 1978 hingga 31 Maret 2008 berlaku selama 30 tahun.

Sementara itu PT Inco Limited berganti nama menjadi CVRD Inco Limited yang berlaku semenjak 3 Januari 2007. Selanjutnya CRVD Inco Limited berganti nama menjadi PT Vale Indonesia. Hal ini dilakukan karena saham Compahia Vale do Rio Doce (CRVD) telah menjadi pemilik mayoritas (87,78 persen). Ada 10 perusahaan sekelas Inco Limited beroperasi di kawasan industrial yang di kelola oleh PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di kabupaten Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah.

PT IMIP merupakan perusahaan pengelola kawasan industri terintegrasi, kerja sama antara Tsinghan Group dari Tiongkok dan Bintang Delapan Group dari Indonesia. Setelah itu ada 10 perusahaan besar dari Indonesia maupun dari China dan Jepang, masing-masing lewat berbagai pusat smelter guna membuat stainless steel, slab, nikel pick iron, verro chrome, pabrik kapur, pabrik cocas, carbon steel dan CRC Carbon atas berbagai ragam produk industri berbasis nikel dan bouksit, yang paling menjanjikan adalah produk olahan cobalt serta lithium sebagai bahan baku pembuatan baterai untuk kendaraan listrik.

Temuan lithium sebagai bahan baku utama mobil listrik dan membuat para investor bersemangat untuk melakukan investasi baterai lithium sebagai bahan dasar untuk memproduksi mobil listrik. Didukung oleh investasi yang dipicu oleh potensi pasar, khususnya mobil listrik terlebih lagi didukung oleh investor Elon Musk pendiri pabrik Tesla dan CATL berkongsi dengan LG, VW hingga Mercedez dengan investasi $ 4 Miliar. Diperkirakan dalam waktu 10 tahun diperlukan tenaga kerja 100 ribu tenaga kerja, 15% di antaranya tenaga kerja asing China.

Para pakar pertambangan memperkirakan Morowali mempunyai prospek yang luar biasa besar karena di bawah tanahnya tersedia materi lithium 40 persen dari produksi lithium dunia. Menyadari bahwa masih diperlukan tenaga kerja terampil pada persaingan kerja. Luhut Binsar Pandjaitan pada saat berkunjung ke Morowali pada pertengahan 2019 meminta para perusahaan-perusahaan besar membangun Sekolah Menengah dan Sekolah Teknik Menegah Atas untuk memproduksi tenaga-tenaga yang mempunyai kemampuan dan keterampilan bekerja di pusat-pusat pertambangan bouksit dan nikel di kawasan Morowali.

Lewat Undang-Undang No.4 tahun 2019 berbagai larangan ekspor nikel dilarang diekspor dalam bentuk mineral mentah. Pasal 103 tertulis pengolahan dan pemurnian hasil tambang wajib dilakukan di dalam negeri.

Saat ini sedang dibangun dua pabrik besar yang sedang berlangsung. Pertama proyek pemerasan bijih nikel murni dan cobalt oleh PT. Huayen Nikel Cobalt berkapasitas 11 juta ton bijih-bijih nikel per tahun. Hasilnya berupa nikel murni 60.000 per tahun dan 78.00 ton cobalt per tahun dengan investasi $ 1,28 Miliar dengan target 2021 sudah berproduksi.

Kedua, proyek smelter QMB Bahadopi di Morawali Tengah dengan memproses sedikitnya 5 juta ton bijih nikel untuk menghasilkan 50.000 ton nikel murni dan 4.000 ton cabalt dengan investasi $ 1 Miliar.

Ketiga, PT Harita Prima Abadi Mineral (HPAM), memproses 8,3 juta biji nikel per tahun menghasilkan 278.534 ton dalam bentuk Mix Hidroxide Preciptate (MHP) Nikel Sulfat dan Cobalt Sulfat dengan nilai investasi $ 10,61 Miliar.

Keempat, PT Smelter Nikel Indonesia kapasitas input 2,4 juta net ton bijih nikel per tahun dengan kapasitas output 76.500 ton dalam bentuk Mix Hidroxide Preciptate (MHP) Nikel Sulfat dan Cobalt Sulfat dengan investasi $ 10,64 Miliar. Kalau semuanya lancar menurut Menko dalam waktu 10 tahun ke depan Morowali akan menjadi Tuan Rumah Utama dalam pembangunan pabrik yang akan memproduksi material energi baru dari Nikel Laterit untuk memenuhi kebutuhan lithium generasi kedua tahun 2025 target kita 20 % dari total produksi mobil di Indonesia berbasis elektrik. Kalau akan ada 2 juta unit per mobil per tahun diproduksi, dipastikan akan diproduksikan 400 ribu mobil listrik per tahun yang diproduksi.

Dan dipastikan 80% di antaranya dibuat di Morowali di mana tempat pesat bahan bakar listrik utama di Indonesia. Morowali akan sekaligus menjadi lokasi mobil listrik terbesar di dunia yang di dukung para investasi dari Jerman, Korea, Jepang, China dan Indonesia. Morowali yang 30 tahun lalu merupakan Kabupaten terbelakang yang tidak dikenal kini berubah menjadi kabupaten masa depan bagi Industri Listrik Laterit dunia.

Ishadi S.K Komisaris Trans Media

(mmu/mmu)