Kolom

Yuk, Tukar Baju!: Tampil Keren Sambil Menjaga Bumi

Selly Florentina - detikNews
Jumat, 27 Des 2019 16:20 WIB
Foto: Dok. iStock
Jakarta -

Pernahkah Anda merasa semua pakaian yang Anda miliki sudah tidak up to date? Atau pernahkah Anda membeli pakaian karena harga yang ditawarkan cukup murah, padahal Anda tidak sedang membutuhkannya? Tak sedikit di antara kita pernah mengalaminya. Seringkali kita merasa pakaian yang kita miliki sudah ketinggalan zaman dan perlu diganti dengan model yang baru. Hal ini disebabkan oleh begitu dinamisnya tren fashion yang diiringi dengan perkembangan fast fashion industry di dunia.

Fast fashion industry merupakan industri fashion yang memproduksi pakaian ready-to-wear. Industri fast fashion memproduksi pakaian secara cepat, mencapai 40-50 koleksi setiap tahunnya kemudian menjualnya dengan harga yang cukup murah. Di balik harga murah yang ditawarkan, ada nilai besar yang dikorbankan. Beberapa waktu yang lalu, isu kemanusiaan dalam industri fast fashion sempat hangat diperbincangkan karena terdapat pelanggaran praktik perburuhan.

Namun ternyata efek samping dari industri fast fashion tidak hanya itu, tetapi juga mencakup isu lingkungan. Industri fashion merupakan industri penyumbang polusi terbesar kedua di dunia. Industri ini menghasilkan 8-10% dari emisi karbon dunia, melebihi emisi dari semua penerbangan internasional dan transportasi laut. Industri fashion juga mengonsumsi air dalam jumlah yang sangat besar. Sebagai contoh, untuk membuat satu kaos katun diperlukan kurang lebih 2.700 liter air atau setara dengan jumlah air minum manusia selama 3 tahun.

Saat ini, industri fashion lebih banyak menggunakan material polyester sebagai bahan dasar dibandingkan dengan katun. Namun faktanya, polyester memiliki dampak yang lebih besar daripada katun. Polyester merupakan bahan non-biodegradable atau sulit terdegradasi secara alami. Selain itu, mencuci pakaian berbahan polyester akan merontokkan ribuan serat plastik (microplastics) yang akan mengalir ke saluran pembuangan, kemudian menuju selokan, dan berakhir di lautan luas.

Hal ini tentunya akan mencemari lautan dan ekosistem di dalamnya, terlebih lagi microplastics dapat masuk ke tubuh manusia melalui rantai makanan. Microplastics menyumbang komposisi 31% limbah plastik yang ada di lautan. Lantas, bagaimana strategi yang dapat kita ambil untuk dapat tampil fashionable, namun tetap turut ambil bagian dalam menjaga bumi?

Berdasarkan The Buyerarchy of Needs yang dikemukakan oleh Sarah Lazarovic, ada enam tingkatan yang perlu dilewati sebelum memutuskan untuk membeli sesuatu, termasuk pakaian. Pertama, Use What You Have. Gunakan apa yang sudah kita miliki, atau perbaiki dahulu jika rusak. Jika merasa bosan dengan pakaian yang itu-itu saja, dapat disiasati dengan melakukan mix and match atau sekedar menambahkan aksesoris.

Kedua, Borrow. Jangan gengsi untuk meminjam pakaian ke orang lain, terutama saat membutuhkan pakaian yang sekiranya tidak akan digunakan lagi. Atau jika tidak memungkinkan, kita dapat mengambil opsi untuk menyewa pakaian. Ketiga, Swap. Menukar pakaian dengan orang lain. Dengan cara ini, kita dapat memiliki pakaian baru tanpa harus membeli. Cara ini dapat dilakukan dengan sederhana, yaitu bertukar pakaian dengan sahabat atau orang-orang terdekat.

Keempat, Thrift. Membeli pakaian bekas (preloved). Di zaman yang serba terhubung saat ini, sangat mudah untuk mencari barang bekas namun dengan kualitas yang masih baik, dapat melalui marketplace ataupun media sosial yang kita gunakan. Kelima, Make. Membuat suatu barang sendiri dipercaya dapat menjadikan kita lebih menghargai barang tersebut karena berperan langsung dalam proses pembuatannya.

Membuat pakaian sendiri mungkin terdengar sulit bagi sebagian orang, namun hal ini dapat dilakukan dengan melibatkan orang lain yang memiliki keterampilan khusus, seperti penjahit. Kita dapat membawa beberapa pakaian lama kita ke penjahit untuk dirombak dan dijadikan pakaian baru.

Keenam, Buy. Membeli pakaian baru adalah langkah terakhir jika memang kelima hal di atas tidak dapat dilakukan. Namun jangan lupa untuk mempertimbangkan life cycle produk tersebut, mulai dari bahan yang digunakan, proses pembuatannya sampai bagaimana produk tersebut akan berakhir, dan carilah pakaian yang memiliki kualitas baik sehingga dapat bertahan lama.

Sebagai bentuk perhatian kepada kelangsungan hidup bumi, beberapa komunitas di Indonesia membuat gerakan mengurangi sampah, salah satunya adalah kampanye Tukar Baju yang diinisiasi oleh Zero Waste Indonesia. Seperti dilansir situsnya, kampanye ini bertujuan memberi alternatif untuk tetap bergaya dan mengikuti mode, namun tidak dengan mengkonsumsi hal baru.

#TukarBaju memberikan makna baru untuk sebuah kata 'baru' dan menjadi solusi hemat dan ramah lingkungan untuk tetap berganti-ganti gaya fashion tanpa mengeluarkan biaya untuk membeli pakaian baru. Kampanye ini mulai diluncurkan pada tanggal 4 Mei 2019. Selama 2019, Zero Waste Indonesia telah melaksanakan beberapa kali acara #TukarBaju di beberapa kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Yogyakarta, Tangerang, Bandung, dan Bali.

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan mengikuti langsung acara #TukarBaju yang diadakan oleh komunitas Zero Waste Indonesia bekerja sama dengan Greenpeace Indonesia bertempat di Museum Nasional, Jakarta. Pada acara #TukarBaju setiap peserta dapat membawa maksimal 5 baju yang dapat ditukar. Pada tahap awal, baju yang akan ditukar harus melewati tahapan kurasi terlebih dahulu.

Kurator akan memeriksa setiap detail baju yang dibawa oleh peserta sehingga pakaian yang lolos adalah pakaian yang masih layak pakai, tidak rusak, tidak bernoda, dan tidak lusuh. Kemudian peserta akan diberikan token sejumlah baju yang lolos tahap kurasi. Setelah memperoleh token, peserta dapat mencari baju yang sesuai dengan selera pribadi. Namun perlu diingat bahwa panitia tidak menyediakan kamar pas, sehingga peserta harus cermat dalam memilih ukuran.

Langkah terakhir, peserta diarahkan menuju kasir untuk dilakukan pengecekan kesesuaian jumlah baju yang akan dibawa pulang dengan jumlah token yang dimiliki. Setelah melewati tahap-tahap di atas, peserta sudah dapat membawa pulang baju baru tanpa harus membeli.

Menurut saya, #TukarBaju merupakan salah satu strategi beretika dalam fashion. Kampanye ini merupakan sarana edukasi sekaligus menawarkan solusi terkait sampah fashion. Kita dapat tampil fashionable namun tetap beretika dengan ikut serta memperhatikan dan menjaga lingkungan. Dengan menukar baju, kita dapat memperpanjang usia pakaian hingga 9 bulan dan mengurangi jejak emisi karbon, pencemaran dan limbah air hingga 30%.

Diharapkan kampanye seperti ini akan semakin menjamur di Indonesia, sehingga semakin banyak yang turut berpartisipasi dalam mengurangi sampah fashion. Mungkin terlihat kecil, namun dengan melakukannya secara konsisten kita dapat menumbuhkan budaya "zero waste" dalam kehidupan sehari-hari.

(mmu/mmu)