Analisis Zuhairi Misrawi

Suka Cita Natal di Timur-Tengah

Zuhairi Misrawi - detikNews
Kamis, 26 Des 2019 14:06 WIB
Zuhairi Misrawi (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Perayaan Natal di Timur-Tengah selalu meriah dan penuh suka cita. Semua warga turut merayakan, apapun agama mereka. Saya tidak pernah mendengar ada polemik soal hukum mengucapkan selamat Natal di seantero Timur-Tengah. Mereka terhanyut dalam suka cita Natal, karena di dalamnya ada pesan kedamaian dan kebahagiaan. Mereka menjadikan Natal sebagai momentum berbagi dalam solidaritas dan persaudaraan sejati.

Di Bethlehem, Palestina, tanah kelahiran Yesus atau yang dikenal dengan Isa al-Masih dalam khazanah Islam, Natal dirayakan oleh seluruh warga dengan penuh suka cita. Umat Kristiani dari berbagai penjuru dunia juga turut serta dalam perayaan Natal di Tepi Barat. Mahmoud Abbas sebagai Presiden Palestina juga hadir dalam misa perayaan Natal. Sekali lagi, tidak ada ulama yang mengharamkan atau mengafirkan Mahmoud Abbas.

Semua tahu dan sadar, bahwa Yesus adalah warga Palestina. Ia lahir di tanah Arab, yang memberkati agama-agama yang tumbuh sebelum dan setelah kelahiran Yesus. Faktanya, agama-agama samawi (Yahudi, Kristen, dan Islam) dan agama-agama non-samawi bisa hidup berdampingan dengan damai di Timur-Tengah. Nama Yesus sangat diagung-agungkan dalam kitab-kitab suci mereka. Bahkan, kita umat Islam pun beriman kepada Isa al-Masih sebagai utusan Tuhan.

Yesus menebarkan kasih di Timur-Tengah, dan memberi jalan bagi pertumbuhan Islam. Milad Hanna dalam al-A'midah al-Sab'ah li al-Syakhshiyyah al-Mashriyyah menjelaskan betapa Kristen Koptik menjadi saksi sejarah bagi masuknya Islam ke Mesir. Amr bin 'Ash yang diutus oleh Umar bin Khattab untuk menjadi panglima dan pemimpin pada waktu itu sama sekali tidak menghancurkan gereja dan situs-situs bersejarah umat Yahudi. Buktinya, di Fustat, kota lama Mesir, kita bisa melihat gereja dan sinagog tua yang sampai sekarang masih dipertahankan sebagai saksi sejarah, betapa agama-agama samawi bisa hidup berdampingan dengan damai. Nama Mesir dalam bahasa Inggris, Egypt, merujuk pada Kristen Koptik yang dalam bahasa Arabnya dikenal al-Qibthiyyah.

Maka dari itu, menurut para sejarawan, tidak tepat jika memahami Arab adalah Islam. Arab adalah entitas kebudayaan dan agama-agama. Yahudi, Kristen, dan Islam adalah agama-agama yang lahir di Arab. Yesus adalah orang Arab. Dan kita dengan mudah mendengarkan orang-orang Kristen Arab menyebut kata: shalat, dzikir, subhanallah, astaghfirullah, alhamdulillah, dan lain-lain.

Natal tahun ini terasa sangat istimewa bagi warga Timur-Tengah, karena mereka bisa melaluinya dengan suka cita, terbebas dari ancaman terorisme, khususnya ISIS dan al-Qaeda yang sudah melemah pengaruhnya. Ancaman terorisme menjadi momok serius bagi warga Kristiani di Timur-Tengah dalam beberapa tahun terakhir, karena mereka tidak bisa merayakan Natal secara terbuka. Situs-situs bersejarah Kristen di Suriah dan Irak dihancurkan oleh ISIS, termasuk gereja Kristen awal yang didirikan oleh murid-murid Yesus.

Di Tepi Barat, Bethlehem tahun ini menjadi tahun kegembiraan, karena situasinya lumayan kondusif, meski situasi politik masih belum mendukung bagi kebebasan beribadah akibat konflik dengan Israel yang makin tidak jelas juntrungannya. Tahun 2019 ada sekitar 1,9 juta wisatawan yang berkunjung ke Bethlehem, termasuk mereka yang ikut merayakan Natal di kota kelahiran Yesus.

Di Jalur Gaza, yang selama ini dikenal sebagai kota paling panas akibat gempuran rudal-rudal Israel, warga pun turut merayakan Natal meski dalam bayang-bayang Israel. Pohon Natal menjadi bukti warga ingin kasih Yesus hadir di tanah yang tak pernah damai itu, karena meyakini Yesus tidak akan meninggalkan Gaza dalam suasana konflik panjang.

Memang, perayaan Natal di tanah Palestina tidak semeriah di beberapa kawasan Timur-Tengah lainnya, karena Israel masih memberlakukan pengamanan ketat bagi warga Kristen. Di Jerusalem, Israel memberikan izin perayaan Natal pada detik-detik akhir karena khawatir dengan penumpukan massa. Suasana inilah yang menyebabkan warga Kristen di Palestina selalu penuh waswas setiap menjelang perayaan Natal.

Maka dari itu, hambatan perayaan Natal di Palestina bukan kaum radikal dan fatwa yang aneh-aneh itu, melainkan Israel yang setiap saat sangat mengganggu aktivitas keagamaan yang dapat mengumpulkan umat dalam jumlah besar, termasuk umat Kristiani di Jerusalem, Tepi Barat, dan Jalur Gaza.

Sedangkan perayaan Natal di beberapa kawasan lainnya di Timur-Tengah cenderung meriah. Libanon menjadi satu wilayah yang paling gegap-gempita. Maklum, umat Kristiani merupakan warga mayoritas. Pohon-pohon Natal didirikan di depan masjid. Bahkan, mereka mempunyai tradisi jamuan makan bersama di alun-alun kota. Di mana semua umat agama-agama tumpah ruah menikmati makanan bersama sebagai rahmat Tuhan, di hari kelahiran Yesus.

Di Libanon, Natal menjadi momen kasih Yesus hadir di tengah-tengah umat, apapun agama mereka. Saya berkhayal momen perayaan Natal seperti di Libanon ini juga bisa dilaksanakan di Tanah Air, di mana Natal menjadi ekspresi kasih yang membangun persaudaraan dan persahabatan di antara sesama warga.

Perayaan Natal di Libanon tahun ini mempunyai makna empiris-profetis. Di tengah suasana politik yang gonjang-ganjing, Natal menjadi momen membangun kesadaran, bahwa politik pada hakikatnya mempersatukan dan mengedepankan kepentingan bersama. Mereka pun hanyut dalam suasana Natal, libur sejenak dalam hiruk-pikuk politik dan demonstrasi yang menghiasi ruang publik Libanon dalam dua bulan terakhir.

Di Mesir, Irak, dan Iran, pun suasana Natal penuh suka cita. Ali Khomenei, Pemimpin Tertinggi Iran, mengucapkan selamat Natal langsung kepada umat Kristiani Iran dengan mengundang dan memberikan jamuan khusus kepada mereka. Imam Besar al-Azhar Mesir, Syaikh Ahmed Tayyeb mengucapkan Natal secara langsung kepada Paus Fransiskus, Vatikan dan kepada seluruh umat Kristiani. Kita melihat Mohammad Salah, bomber Liverpool membuat pohon Natal di rumahnya, sebagai bukti suka cita Natal, yang tidak hanya dirayakan oleh umat Kristiani, tetapi juga dirayakan oleh umat Islam.

Dengan demikian, perayaan Natal di Timur-Tengah membuktikan betapa hubungan antara Islam dan Kristen begitu erat. Mereka tidak hanya mengucapkan selamat Natal, melainkan turut serta merayakan Natal. Sebab merayakan Natal tidak meruntuhkan keyakinan, melainkan justru menjadikan pemahaman kita pada kasih Tuhan sangat kokoh, dan semakin kuat.

Zuhairi Misrawi cendekiawan Nahdlatul Ulama, analis pemikiran dan politik Timur-Tengah di The Middle East Institute, Jakarta

(mmu/mmu)