Kolom

Stereotip "Generasi Lembek"

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Selasa, 17 Des 2019 13:59 WIB
Rakhmad Hidayatulloh Permana (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Mantan Wapres Jusuf Kalla (JK) belakangan ini jadi sorotan publik usai menyatakan pendapatnya soal penghapusan Ujian Nasional (UN). JK menyebut, apabila UN dihapus maka otomatis generasi muda sekarang akan jadi lembek.

Pertama, saya tetap sangat menaruh hormat pada Pak JK sebagai seorang negarawan, meskipun ia tak lagi menjabat. Kedua, saya tak hendak berlarat-larat masuk ke pusaran perdebatan penghapusan UN. Saya tahu kapasitas saya, maka biarlah itu jadi tugas para pakar pendidikan.

Saya hanya ingin menyoroti kata 'lembek' yang dipakai Pak JK, untuk menggambarkan bagaimana nasib generasi muda apabila UN dihapuskan. Ungkapan 'lembek' ini membawa ingatan saya pada peristiwa yang pernah saya alami bertahun-tahun lalu.

Saya pernah bekerja di bank hingga akhirnya memutuskan resign. Saya membuat keputusan itu, karena saya merasa pekerjaan itu hanya membikin tengkuk saya sering terasa sakit, saking stresnya. Tapi, bos saya menanggapi keputusan saya dengan nada nir-empati.

Ketika saya menyodorkan surat resign itu, bos saya memasang wajah keruh dan berkata: generasi sekarang ini lembek-lembek. Baru setahun kerja, tapi sudah menyerah dan resign.

Beberapa hari sebelum menyodorkan surat itu, seorang senior juga menasihati saya dengan nada yang sama. Menurutnya, generasi sekarang itu lembek. Berbeda dengan generasinya saat itu. Padahal, zaman itu susah sekali. Semuanya masih sering dikerjakan secara manual tanpa bantuan komputer.

Dia bercerita, untuk membuat slip pembayaran nasabah misalnya, masih dilakukan dengan tangan. Dia menyebutnya "tanganisasi", bukan otomatisasi. Bukan dengan bantuan komputer yang bisa langsung di-print. Komputer saat itu juga masih menggunakan sistem DOS yang super-ribet, bukan Windows yang lebih praktis dan mudah dipahami.

Tapi hal itu tak membuat generasinya memutuskan resign. Mereka tetap teguh menghadapi pekerjaannya. Ringkasnya, kata senior saya itu, generasinya jauh lebih liat dalam menghadapi tekanan pekerjaan.

Ternyata, olok-olok 'generasi lembek' itu bukan hanya saya temukan di industri perbankan saja. Seorang kawan (sesama) wartawan pernah bercerita tentang pengalamannya yang mirip dengan saya.

Dia pernah dimarahi habis-habisan oleh atasannya gara-gara tak becus dalam menulis berita. Atasannya itu lantas mendongenginya soal betapa susahnya menjadi wartawan pra zaman digital. Ketika para wartawan masih mentranskrip pernyataan narasumber di buku tulis dan mobilitas mereka lambat karena belum ada ojek online.

Menurut wartawan senior itu, generasinya kerap bertungkus lumus dengan kesusahan dan marabahaya, namun mereka tak jadi lembek dan terus belajar agar bisa menulis berita yang bagus.

Dari situ saya tahu, fenomena cap generasi ternyata tak terjadi di satu bidang pekerjaan saja. Barangkali, olok-olok generasi lembek itu juga terjadi di banyak tempat.

Dan belakangan, olok-olok ini dilawan oleh para generasi muda dengan meme. Tanggapan generasi muda, yang sebagian menamakan milenial dan gen Z, terjewantah dalam ungkapan meme yang lugas saja: ok, boomer. Meme itu pun viral.

Salah satunya, meme yang berisi percakapan antara generasi baby boomer tentang 'keharusan memiliki rumah'. Si baby boomer mengenang masa mudanya, ketika di usia itu ia sudah bisa mencicil rumah. Si milenial hanya menjawabnya singkat: "ok, boomer," sembari menyodorkan data statistik kenaikan harga rumah dari tahun ke tahun.

Sang baby boomer tak memahami masalah si milenial. Ceritanya soal bisa membeli rumah di masa muda tak relevan lagi, ketika kenaikan harga rumah begitu tinggi. Ok, boomer adalah sindiran untuk generasi yang tak paham terhadap realitas zaman. Ia adalah olok-olok untuk mereka yang berpikiran usang.

Jika pun baby boomer ingin berusaha memahami milenial atau Gen Z, itu pun hanya kulitnya. Namun yang sering saya lihat, mereka melulu hanya ingin memahami gayanya. Bukan masalahnya.

Itu terbukti dalam Pemilu 2019 lalu. Selain diskursus soal hoaks dan politik identitas, tema soal pemilih milenial dan Gen Z begitu gencar digaungkan para politikus pada masa itu. Hampir semua politikus latah bicara bla bla bla soal dua tema itu. Apalagi kalau bukan untuk menggaet para pemilih dari dua generasi gemuk ini?

Saya sendiri pun muak dengan lagak para politikus yang sebagiannya sudah gaek. Mereka sering memaksakan diri untuk bergaya a la milenial. Ya, hanya gaya saja. Mereka membiasakan diri memakai sneakers atau jaket yang sedang hits.

Jika pun bicara tentang masalah milenial, mereka terjebak dalam mindset: bahwa pekerjaan idaman milenial itu cuma jadi influencer atau pemain game profesional. Maka dari itu mereka butuh internet yang secepat kilat.

Mereka lupa bahwa generasi milenial atau Generasi Z adalah manusia. Sama seperti generasi baby boomer. Kebutuhan dasarnya pun sama: pangan, sandang, dan papan.

Stereotip Generasi

Roby Muhamad, sosiolog idola saya, pernah mencuit di akun Twitter-nya, bahwa secara ilmiah, generasi milenial itu tidak ada. Juga generasi lain seperti baby boomers, X, Y, dan Z hanya fiksi belaka. Mereka adalah kategori-kategori yang memudahkan konsultan dan marketer, tapi sebetulnya tidak ada.

Roby sebetulnya hanya menyarikan apa yang ditulis oleh David Costanza, seorang profesor bidang organisasi dari Universitas George Washington. Dalam tulisannya yang berjudul Can We Please Stop Talking About Generations as if They Are a Thing?, David menegaskan bahwa kategori generasi memang hanya dipakai untuk memudahkan pembagian target pasar atau penelitian saja. Secara ilmiah memang tak ada.

Maka, kata dia, sungguh tak relevan jika kita berdebat "apakah milenial itu suka narsis?" atau "apakah baby boomer itu egois"?

Sementara itu, seorang profesor komunikasi dari Universitas Tanpa, Florida, Paul Hillier menulis dengan lebih nyinyir lagi dalam tulisan berjudul Millennials? Baby Boomers? Gen Z? Let's stop with these nonsense buzzwords yang terbit di The Guardian. Pengkategorian generasi, kata dia, hanya omong kosong yang menyedihkan. Pengkategorian itu cuma tipu-tipu para marketer di era kapitalisme lanjut.

Dari pendapat-pendapat para pakar itu, saya berusaha meringkasnya dalam satu pendapat: setiap generasi pada dasarnya melewati fase yang sama. Hanya kondisi zamanlah yang membedakan. Karena kita semua merupakan manusia.

Mestinya kini kita bisa berinisiatif untuk mengakhiri semua olok-olok generasi ini. Mari kita saling melihat setiap generasi sebagai manusia, bukan cuma kategori yang penuh stereotip. Bukan generasi lembek atau generasi kolot.

Jika pun stereotip itu masih sukar untuk dienyahkan, marilah kita belajar saling maklum dulu. Milenial belajar maklum dengan nasihat bernada olok-olok dari baby boomer. Mungkin mereka memang sedang terjangkit gejala post power. Atau jangan-jangan itu sejenis pelarian mereka, karena menjadi tidak relevan adalah penderitaan.

Untuk generasi baby boomer, saya tak mau memberi nasihat, karena takut dianggap tak sopan atau lancang. Cukup saya kutipkan sepenggal lirik dari band Silampukau:

Hei, orang tua, jangan umbar kata.
Ingatlah bahwa kau juga pernah muda,
pernah lucu, pernah lugu, dan tak bijaksana.
Lalu, perlahan, jadi guru tanpa perlu mirip buku.

Rakhmad Hidayatulloh Permana wartawan detikcom
(mmu/mmu)