Sentilan Iqbal Aji Daryono

Angkringan, Rumah Joglo, dan Media Sosial

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Selasa, 17 Des 2019 13:21 WIB
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta - Sudah lama saya melirik warung angkringan di depan gereja itu. Tiap pagi, saat saya melintas sepulang mengantarkan anak ke sekolah, tempat itu selalu riuh. Bukan jenis keriuhan sebagaimana orang berbelanja makanan sambil terburu-buru, tapi keriuhan yang tenang, hangat, penuh perbincangan.

Orang-orang itu duduk mengelilingi meja memanjang. Di hadapan mereka tampak gelas teh poci, kopi susu, atau minuman yang lain. Asap tembakau sesekali mengepul, di sela bibir merekah yang tertawa atau berceramah entah apa.

Ketika akhirnya saya sempat mampir, terbuktilah kesan selintas yang selalu saya tangkap itu.

Sembari menyesap teh panas yang saya pesan, tak sampai dua batang rokok saya habiskan, sudah saya telan sejilid tebal cerita. Bahwa lelaki di hadapan saya adalah pedagang gas melon yang berkeliling ke warung-warung setiap pagi. Bahwa teman-teman nongkrong lainnya adalah tukang becak, sopir ojek, juga pekerja serabutan macam-macam. Bahwa sebagian di antara mereka nongkrong di situ sejak tahun 1996, sejak perjaka hingga bercucu. Bahwa selama mereka nongkrong di situ "anggota" mereka datang dan pergi, juga sudah ada 20-an teman yang meninggal.

Juga bahwa mereka merasakan kondisi ekonomi yang, menurut mereka, sejelek apa pun tetap saja membaik. "Obah mamah itu ya sekarang, Mas. Kalau mau kerja, sedikit banyak ada hasilnya. Lha kalau dulu, sudah obah pun belum tentu mamah."

Obah mamah adalah konsep dalam tradisi Jawa. Obah adalah bergerak, mamah adalah mengunyah. Artinya, siapa pun yang mau bekerja akan bisa makan. Boleh saja Anda yang kritis-kritis itu tidak sepakat dengan mas tukang becak yang menyatakan itu tadi. Tapi memang itulah yang dia katakan, dan sebenarnya bukan soal-soal begitu pula yang di tulisan ini saya ingin ceritakan.

Saya cuma mau menggambarkan hal sederhana, yaitu bahwa di warung-warung angkringan tercipta interaksi merdeka, tanpa sekat-sekat sosial, perbincangan yang hangat dan menyenangkan, bahkan di antara orang-orang yang sebenarnya tidak saling mengenal.

Buktinya, setelah satu jam lebih percakapan berjalan dan saya harus segera pulang, barulah bapak berumur 60-an di hadapan saya bertanya, "Njenengan asmane sinten, Mas? Namanya siapa, Mas? Tinggal di mana?"

Kita tidak mungkin mengalami model interaksi seperti itu di restoran, misalnya. Atau di kafe-kafe. Di kafe kita bisa saja nongkrong lama, berjam-jam dari sore sampai dini hari. Tapi yang kita ajak berbincang ya teman-teman sendiri, yang memang sudah janjian nongkrong sejak semula. Kalaulah Anda bisa mengobrol dengan orang-orang di meja sebelah, kemungkinan semacam itu saya kira cuma satu banding seratus, atau bahkan banding lima ratus.

Kenapa angkringan beda? Jawabannya terletak pada arsitektur interiornya. Bangku-bangku yang panjang, tempat orang-orang duduk bergabung bersama siapa pun yang ada, bukan dengan kursi-kursi yang terpisah dan menciptakan "jarak sosial", adalah penjelasan dari atmosfer komunikasi sebagaimana yang saya gambarkan di atas tadi.

***

Arsitektur memang menciptakan dan menentukan karakter budaya, pola interaksi, bahkan struktur sosial. Dalam bukunya Selamat Tinggal Mitos, Selamat Datang Realitas, Profesor Kuntowijoyo pun menyinggung hal itu. Dia membandingkan antara rumah joglo Jawa dan rumah gedhong alias rumah batu modern.

Dalam rumah joglo, ada ruangan-ruangan berkonsep khas yang sangat terkait dengan pandangan dunia spiritual Jawa. Ada pendhapa (beranda), pringgitan (ruang antara), dalem (ruang santai keluarga), senthong (ruang dalam), gandhok (ruang berangin-angin), dan seterusnya. Bapak-ibu tidur di senthong, anak-anak tidur beramai-ramai di dalem yang terbuka itu.

Dengan penataan ruangan ala joglo, orangtua bisa setiap saat mengawasi anak-anak mereka. Itulah kenapa sifat keluarga Jawa adalah parent-centered family, keluarga yang berpusat di orangtua. Karakter ini bisa berkembang lebih jauh lagi dalam hampir segala hal. Makanan terenak disajikan untuk bapak, anak-anak menikah dengan jodoh pilihan orangtua, dan sebagainya. Hasilnya, tradisi paternalisme tumbuh dari rumah-rumah Jawa klasik.

Iklim semacam itu beda dengan keluarga yang tinggal di rumah-rumah gedhong atau rumah modern yang menjamur sejak tahun 1950-an. Rumah modern tidak dibangun berlandaskan konsep mistis apa pun, selain kebutuhan praktis. Tak ada aturan harus menghadap ke utara atau selatan, misalnya. Yang diperlukan hanyalah menghadap ke jalan, mau ke arah mana pun itu.

Kepraktisan pula yang melandasi pembagian ruangan di dalam. Tak ada kekhususan ini-itu. Orangtua dan anak-anak bebas memakai kamar mana saja, tak ada ruang terbuka tempat orangtua bisa mengawasi anak-anak mereka dalam sekali pandang, dan tak usah menunggu menikah pun anak-anak sudah bisa mendapatkan kamar mereka sendiri.

Dalam rumah gedhong begini, karakter yang ditumbuhkan adalah child-centered family. Anak-anak mendapatkan fasilitas terbaik. Ada makanan dan minuman khusus anak, ada bacaan untuk anak-anak, dan sebagainya. Yang terbaik bukan lagi dikuasai orangtua khususnya bapak, namun untuk anak-anak. Tiba waktunya anak-anak menikah, mereka pun mencari pasangan hidup sendiri, bukan lagi hasil pilihan tak terbantahkan dari orangtua.

Hasilnya, tradisi yang lahir dari rumah-rumah gedhong adalah demokrasi, bukan lagi paternalisme. Setidaknya, seperti itulah pembacaan Pak Kuntowijoyo.

***

Apakah keterbukaan dan kesetaraan selalu melahirkan kultur demokratis? Saya sempat tergoda menyimpulkan itu, setelah membandingkan antara angkringan dan rumah gedhong. Kesetaraan dalam rumah batu modern, juga keterbukaan yang tidak dibekali dengan hirarki apa pun sebagaimana di angkringan, terbukti membentuk karakter-karakter manusia yang egaliter.

Namun, tiba-tiba saya meragukannya, karena teringat model angkringan di era digital. Angkringan 4.0 itu bernama media sosial, tentu saja.

"Arsitektur" media sosial sesungguhnya sangat mirip dengan arsitektur interior angkringan. Tak ada sekat-sekat di sana. Orang duduk dan berkerumun dengan bebas, tak ada jarak sosial dan jarak psikologis, dan orang yang tidak saling mengenal pun bisa saling berbincang dengan riuhnya. Kita dan teman-teman medsos kita tak bedanya dengan saya dan pedagang gas melon yang rutin nongkrong di angkringan depan gereja sejak 23 tahun lalu itu.

Masalahnya, iklim yang seharusnya demokratis di dalam bangunan bernama medsos itu ternyata justru bergeser jadi anarkis. Orang bukan cuma bebas berbincang dengan siapa pun, tapi (merasa) bebas pula memaki siapa pun. Orang bukan hanya merdeka tertawa bersama dengan orang lain tanpa harus saling mengenal, namun (merasa) merdeka pula menertawakan orang-orang yang tidak dikenal, persis di depan hidung mereka.

Saya sendiri sering iseng melakukan eksperimen sosial untuk membuktikan hal-hal semacam itu. Contoh kecil, kemarin akun medsos sebuah koran daring memberitakan kisah terdamparnya ribuan penis fish di California. Itu ikan berbentuk mirip alat kelamin laki-laki. Saya pun menaruh komentar di kolom komennya. "Inilah tanda-tanda akhir zaman, peringatan Tuhan agar manusia Amerika lebih menjaga kelamin mereka."

Hanya selang dua-tiga menit, bermunculanlah komen-komen balasan yang dahsyat-dahsyat. Satu yang terdahsyat berteriak, "Lu kalo habis ngaibon jangan komen daah! Itu ikan druun, ikan! Kalo lu goblok jangan kelewatan juga druun!!"

Saya mengingat-ingat apakah saya memang habis ngaibon. Ternyata tidak, dan saya berani bersumpah memang tidak. Maka saya ingin bertanya saja, mungkinkah kalimat segalak di komen itu muncul di angkringan, meskipun yang kita ajak bicara juga orang-orang yang tidak kita kenal, dan sama-sama tak ada urusan apa pun dengan kehidupan kita?

Tentu tidak. Kenapa? Apakah semata karena di angkringan ada kemungkinan orang yang kita damprat bisa seketika menyambar ceret panas lantas menuangkan isinya ke mulut kita, sedangkan di medsos tidak? Belum tentu juga, saya rasa, sebab toh risiko-risiko konkret akibat celetukan di medsos sudah berkali-kali kita saksikan.

Yang terjadi lebih karena kita, tanpa sadar, merasa impersonal. Akun kita jelas, nama dan identitas kita juga sering jelas, namun ada bius ilusi yang membuat kita di media sosial seolah-olah merasa bukan manusia. Kita merasa seperti sedang memainkan saja tokoh-tokoh dalam game online yang menembaki musuh-musuh yang juga sama-sama bidak online, padahal sebenarnya yang sedang kita gerakkan adalah akun riil dengan nama kita. Anda pernah merasakannya?

Itulah sebenarnya akar dari segala kekacauan di media sosial. Bukan kurangnya kesadaran-kesadaran kognitif, apalagi sekadar minimnya pemahaman-pemahaman hukum ITE.

***

Sudah beberapa kali saya diminta berbagi di beberapa institusi, mulai sipil hingga tentara. Kantor-kantor itu ingin agar anggota dan para staf mereka benar-benar diberi pemahaman tentang peta chaos di medan digital, khususnya media sosial. Kasus persekusi online, kasus istri perwira yang itu, juga kasus-kasus lainnya, kerap membuat mereka kehabisan akal bagaimana mengelola dan mengantisipasi segalanya.

Selama itu pula saya menjelaskan dengan sangat kognitif. Tentang impersonality, echo chamber, filter bubble, click culture, juga permainan emosi publik digital demi kepentingan para pedagang politik dan pedagang isu.

Saya lupa, bahwa sebenarnya terapi psikologis bisa dijalankan dengan sangat sederhana, untuk mengembalikan impersonalitas menjadi personalitas, untuk memulihkan dehumanisasi menjadi humanisasi: sering-seringlah nongkrong di warung angkringan ala Jogja.

Iqbal Aji Daryono esais, tinggal di Bantul

(mmu/mmu)