ADVERTISEMENT

Kolom

Bagaimana Sensus Penduduk Menyelamatkan Dunia?

Febria Ramana - detikNews
Senin, 16 Des 2019 15:44 WIB
Jakarta -
Menurut perhitungan para ahli, planet bumi masih layak ditinggali dengan syarat jumlah maksimum penduduknya sekitar 4,7 miliar jiwa. Namun faktanya, bumi saat ini telah menampung lebih dari 7 miliar jiwa. Bahkan, pada tahun 2050 penduduk bumi diproyeksikan akan berjumlah 9 miliar jiwa. Secara matematis, hal ini berarti pada tahun 2050 kita perlu membuat satu bumi lagi agar masing-masing bumi tetap layak untuk dihuni. Tentunya ini misi yang mustahil dilakukan.

Kegentingan isu membludaknya jumlah penduduk ini telah membelalakkan mata para pemimpin dunia. Informasi ini memacu mereka mengontrol setiap pembangunan untuk tidak merusak bumi. Tidak cukup dengan itu, pemangku kebijakan dunia juga berusaha meningkatkan produktivitas untuk tetap mencukupi kebutuhan 7 miliar penduduk dunia yang terus bertambah.

Dua hal ini bertujuan agar bumi tetap layak huni meski dengan kapasitas berlebih. Jika permasalahan ini tidak menjadi perhatian bersama, bumi dapat hancur dan pada akhirnya membinasakan seluruh manusia di dunia. Ide inilah yang menjadi dasar pentingnya dibentuk Sustainable Development Goals (SDG's) atau tujuan pembangunan berkelanjutan.

Ide ini tentu bukan hanya dibangun atas dasar khayalan dan imajinasi para peneliti, tetapi dibangun berdasarkan informasi kependudukan yang dikumpulkan oleh seluruh negara di bumi. Pada 2010 lalu, 214 dari 235 negara di dunia telah berpartisipasi melakukan pengumpulan data di negaranya masing-masing, termasuk Indonesia. Pengumpulan data dan informasi kependudukan ini dikenal dengan sensus penduduk.

Pendataan lengkap seluruh penduduk di sebuah negara ini dilakukan 10 tahun sekali di hampir semua negara. Di Indonesia, tahun berakhiran 0 ditetapkan menjadi satu titik peng-update-an kembali karakteristik data kependudukan bersama 54 negara lainnya di belahan dunia. Keterbatasan waktu, SDM, dan anggaran menjadikan pendataan skala besar ini tidak dapat dilakukan setiap tahun.

Sensus penduduk 2020 merupakan sensus penduduk ke-7 bagi Indonesia setelah kemerdekaan. Sebelum kemerdekaan, pemerintah Hindia Belanda bahkan sudah melakukan sensus pada tahun 1920 dan 1930 di Indonesia karena pentingnya data kependudukan.

Pada dasarnya, metode pengumpulan data kependudukan di dunia dibagi menjadi tiga, yaitu metode tradisional, metode kombinasi, dan metode data berbasis registrasi. Semakin maju dan tingginya kesadaran penduduk suatu negara terhadap data, negara tersebut akan menuju metode pengumpulan data berbasis registrasi. Pengumpulan data yang hemat, cepat, dan akurat. Tentu dengan catatan, data yang diregistrasi merupakan data yang sebenarnya.

Di Indonesia, pengumpulan data sensus pada periode lalu masih menggunakan metode tradisional dengan melakukan pendataan door to door. Petugas masih harus membawa dokumen kertas dan pensil di setiap daerah di Indonesia. Pendataan ini tentunya menyebabkan biaya pendataan yang mahal. Selain itu, peningkatan mobilitas penduduk menjadikan beberapa penduduk menjadi sulit untuk dijangkau.

Berbagai permasalahan tersebut dan didukungnya kualitas data registrasi kependudukan dari dukcapil yang semakin membaik, pada Sensus Penduduk 2020, metode yang dilakukan adalah metode kombinasi. Metode ini dilakukan dengan memanfaatkan data administrasi kependudukan sebagai basis data pengupdatean seluruh data penduduk. Peng-update-an data ini akan dilakukan oleh petugas Badan Pusat Statistik (BPS) secara door to door.

Kemajuan internet dan infrastruktur teknologi informasi di Indonesia juga dimanfaatkan BPS untuk meringankan proses door to door petugas lapangan. Pada Februari hingga Maret 2020, BPS menyediakan pilihan kepada masyarakat untuk mengisi data kependudukannya secara online melalui web sensus.bps.go.id.

Sensus online ini dimaksudkan untuk penduduk Indonesia yang telah melek teknologi dan mampu mengisi data identitas diri. Besarnya penggunaan telepon genggam dan media sosial di Indonesia diharapkan menjadi sinyal besarnya partisipasi masyarakat dalam sensus penduduk online. Semakin besar partisipasi masyarakat pada sensus online ini, semakin besar pula biaya sensus yang dapat ditekan dan semakin besar cakupan penduduk Indonesia. Hal ini juga dapat meringankan beban tugas petugas lapangan pada Juli nantinya.

Selain pendataan online, kemajuan teknologi juga digunakan saat peng-update-an di lapangan. Petugas di daerah perkotaan akan menggunakan gadget sebagai alat bantu wawancara. Oleh karena itu, pendataan tahun depan akan menjadi lebih paperless.

Hampir sama dengan tujuan sensus penduduk pada periode sebelumnya, Sensus Penduduk 2020 bertujuan untuk menyediakan data jumlah penduduk, komposisi, distribusi, dan karakteristik penduduk Indonesia. Tetapi, tahun 2020 juga menjadi aksi awal terwujudnya satu data kependudukan Indonesia.

Kemajuan teknologi dan informasi memang sangat berguna dalam mempercepat dan mempermudah proses sensus tahun depan. Tetapi, pemain utama yang mengendalikan itu semua tetaplah manusia. Oleh karenanya, partisipasi penduduk Indonesia dalam sensus ini tetap menjadi poin utama keberhasilan Sensus Penduduk 2020

Dalam skala nasional, informasi kependudukan yang didapat dari sensus ini berkaitan erat dengan isu SDM yang menjadi salah satu fokus pembangunan Indonesia lima tahun ke depan. Lengkap dan akuratnya informasi dapat memudahkan pemerintah untuk menyiapkan kebijakan yang tepat di setiap daerah.

Kesuksesan sensus penduduk tidak hanya menjadi salah satu penentu keberhasilan pembangunan Indonesia, tetapi juga kesuksesan setiap penduduk dalam misi penyelamatan dunia. Hal ini karena informasi yang dikumpulkan akan menentukan arah kebijakan para petinggi dunia dalam mempertahankan bumi untuk tetap layak huni. Tidak perlulah berandai menjadi avengers, partisipasi kita pada sensus penduduk 2020 pun mampu berkonstribusi dalam misi penyelamatan dunia.

Febria Ramana, SST statistisi BPS Kabupaten Kaur



(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT