Kolom

Sepak Bola yang Terlunta-Lunta

Dwi Purwohartono - detikNews
Kamis, 12 Des 2019 15:46 WIB
Timnas U-22 kalah di SEA Games 2019 (Foto: Sigid Kurniawan/Antara)
Timnas U-22 kalah di SEA Games 2019 (Foto: Sigid Kurniawan/Antara)
Jakarta -
Seorang teman mem-posting komentar di laman Facebook-nya merespons kegagalan Timnas U-22 merebut emas sepak bola SEA Games 2019. Isinya kurang lebih sebagai berikut. Emas sepak bola terakhir diraih saat saya berumur 8 tahun, sekarang anak saya berumur 8 tahun timnas gagal lagi, masih menunggu berapa lama lagi?

Kegagalan Timnas U-22 menambah panjang puasa gelar sepak bola Indonesia di kawasan Asia Tenggara. Untuk kesekian kalinya harapan di partai pamungkas dipupuskan para rival yang sekaligus menunjukkan kemajuan sepak bolanya.

Kegagalan demi kegagalan ini menggelitik untuk dikupas. Tampaknya ekosistem sepak bola kita masih belum seimbang untuk menyemai bibit-bibit unggul atlet sepak bola yang lahir dari waktu ke waktu. Di level usia muda, terbukti kita tidak pernah kehabisan talenta-talenta sepak bola. Setidaknya sampai dengan level U-19, level permain sepak bola kita masih bisa stabil berprestasi di tingkat Asia Tenggara bahkan di tingkat Asia.

Namun, talenta-talenta emas tersebut selalu gagal disepuh untuk menuai prestasi di level senior. Bahkan jika kita cermati bersama, saat ini Indonesia sudah tertinggal satu level dibandingkan dengan Thailand dan Vietnam. Fenomena ini menunjukkan bahwa manajemen persepakbolaan Tanah Air perlu segera dibenahi dari segala sisi.

Di ranah kelembagaan, federasi sepak bola nasional (PSSI) merupakan operator yang paling bertanggung jawab atas kualitas manajemen sepak bola. Namun demikian, kinerja PSSI belum berangsur membaik dari masa ke masa. Federasi yang menggembor-gemborkan independensi ini seringkali masih terjebak dalam polemik dan pusaran politik praktis, sehingga melunturkan prinsip independensi itu sendiri.

Kinerja PSSI pun belum sepenuhnya menerapkan best practice dengan mengakomodasi asas-asas good governance, yaitu kepastian hukum, proporsionalitas, profesionalitas, keterbukaan, dan akuntabilitas. Penerapan prinsip-prinsip good governance yang belum paripurna, terutama dalam hal transparansi dan akuntabilitas ditunjukkan dalam hal-hal mendasar, seperti sulitnya kita mengakses laporan kinerja dan laporan keuangan PSSI.

Padahal Undang-Undang No 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (Pasal 7) mengamanatkan Badan Publik wajib menyediakan, memberikan dan/atau menerbitkan Informasi Publik yang berada di bawah kewenangannya kepada Pemohon Informasi Publik, selain informasi yang dikecualikan sesuai dengan ketentuan. Tidak seperti laporan keuangan badan publik lainnya misalnya Laporan Keuangan Pemerintah Pusat/Daerah yang dengan mudah diakses publik, kita akan kesulitan mengakses laporan keuangan PSSI bahkan dengan bantuan Google sekalipun.

PR berikutnya yang tidak kalah penting adalah menuntaskan isu mafia sepak bola yang selama ini menjadi predator ekosistem persepakbolaan Tanah Air. Kepengurusan PSSI yang baru diharapkan mampu membawa angin segar perubahan menuju tata kelola organisasi yang baik patut kita tunggu dan kawal bersama.

Dari sisi kompetisi, sebagai lahan penyemaian benih-benih sepak bola, hiruk pikuk dan dinamika kompetisi lokal sejak dileburnya perserikatan dan galatama ke dalam Liga Indonesia (1994-2007), kemudian berubah menjadi Indonesia Super League/ISL (2008-2011/2012-2017), Liga Primer Indonesia/LPI (2011), dan Liga 1 (2017-2019), kualitas kompetisi kita belum mampu mengangkat level para pemain untuk membentuk timnas senior yang tangguh. Ini tentunya menjadi sebuah anomali di mana kita memiliki klub sepak bola dan penduduk yang relatif banyak, tetapi belum mampu mengelola industri dan kompetisi sepak bola dengan maksimal.

Wajah kompetisi sepak bola perlu dipoles ulang untuk menciptakan iklim kompetisi yang efektif dan efisien. Perlu dikaji ulang format kompetisi tertinggi sepak bola nasional, terutama dengan mempertimbangkan kondisi geografis dan kemampuan pembiayaan klub. Selain itu, masih banyak hal yang dapat dibenahi di ranah kompetisi sepak bola nasional. Di sektor perwasitan misalnya, kualitas wasit-wasit nasional masih perlu di-upgrade.

Di berbagai kesempatan, kualitas kepemimpinan wasit sering kali memicu kerusuhan-kerusuhan di dalam dan di luar lapangan. Di sini tergambar bahwa pola rekrutmen dan pembinaan/pengembangan wasit dan peringkat pertandingan perlu diperhatikan. Rekrutmen wasit misalnya, sejauh ini sekali lagi akses rekrutmen wasit masih belum terbuka. Contohnya saya sendiri pernah terbersit keinginan untuk mendaftar menjadi wasit sepak bola, namun karena minimnya informasi dan akses rekrutmen, niat tersebut urung dilanjutkan. Pola rekrutmen dan pembinaan/pengembangan wasit ini merupakan salah satu faktor kunci di balik kualitas kompetisi sepak bola.

Sebenarnya federasi tinggal melakukan benchmarking pola rekrutmen dan pembinaan/pengembangan wasit ke negara-negara yang sudah mapan manajemen sepak bolanya, seperti Inggris atau Jepang. Langkah ini perlu diimbangi dengan perilaku pemain yang tetap menjunjung tinggi nilai respect di setiap pertandingan. Jamak kita temui perilaku pemain-pemain senior yang kurang respect terhadap kepemimpinan wasit yang kemudian diikuti para juniornya, sehingga berdampak pada karakter permainan yang kasar ketika membela timnas senior.

Stakeholder lainnya yang tidak boleh dipinggirkan yaitu eksistensi para suporter. Kita selalu menyaksikan stadion-stadion selalu penuh di kala timnas atau klub-klub kesayangan masing-masing berlaga. Kefanatikan suporter kita mungkin yang terbaik di dunia, namun kefanatikan ini selalu dikecewakan dengan capaian timnas yang terus memble. Kelompok suporter inilah yang sebenarnya pengorbanannya paling besar, karena selalu mengeluarkan uang untuk mendukung tim kebanggaan, baik berupa tiket masuk ataupun biaya perjalanan.

Ironisnya, kelompok suporter memiliki kesempatan tingkat partisipasi yang minim dalam pengelolaan sepak bola nasional. Namun mereka tetap berusaha menjadi bandul penyeimbang dalam proses perjalanan kemajuan sepak bola Tanah Air. Perkembangan suporter sepak bola sendiri patut diapresiasi, meskipun masih terdapat riak-riak kecil di kasta kompetisi yang lebih rendah (Liga 1 dan Liga 3). Bagaimanapun kelompok-kelompok suporter telah berusaha berkembang menjadi suporter-suporter yang elegan untuk melengkapi puzzle kemeriahan di setiap pertandingan.

Membenahi sepak bola nasional memang tidak mudah, tetapi bukan mustahil. Kalau Jepang yang proses reformasi sepak bolanya berbarengan dengan kita serta Thailand dan Vietnam yang datang belakangan saja bisa mengatur sepak bolanya menuju prestasi terbaik, niscaya kita juga bisa. Kuncinya adalah komitmen dan kesungguhan dari seluruh stakeholder sepak bola dalam mengabdikan perannya sesuai dengan porsinya masing-masing semata-mata demi kemajuan sepak bola nasional tanpa embel-embel kepentingan pribadi /golongan tertentu. Bravo Sepakbola Nasional! Jangan pernah lelah mendukung Timnas Garuda!

(mmu/mmu)