Kolom

Lawakan Rasis dan Pendidikan Publik yang Membebaskan

Khoiril Maqin - detikNews
Jumat, 06 Des 2019 16:00 WIB
Dave Chappelle di Netflix
Dave Chappelle di Netflix
Jakarta -

Rasisme adalah isu yang sensitif, mudah menyulut konflik, dan tidak layak dibicarakan. Anggapan seperti itu membuat masyarakat diam, demikian juga media, bahkan di ruang-ruang akademis. Rasisme seakan isu yang sangat berat; semua orang takut salah ucap, diam atau berbisik adalah solusinya. Apalagi ada yang coba-coba menjadikannya bahan lawakan, harus bersiap-siap dihujat.

Masyarakat jarang membicarakan rasisme seolah persoalan rasisme jarang terjadi. Padahal, rasisme terjadi pada kehidupan kita sehari-hari. Selain perlakuan rasis terhadap mahasiswa Papua di Jawa beberapa bulan lalu dan seturut protes setelahnya, perlakuan rasis juga dialami banyak orang Papua lainnya, bahkan suku lain yang dianggap 'berbeda' dari mayoritas. Hal ini sudah mengakar dalam budaya dan sejarah Indonesia. Bentuk perlakuannya berbeda-beda, dari kekerasan hingga yang tidak kelihatan.

Misal, di bidang ekonomi, laki-laki Papua dianggap sebagai pekerja yang kuat, sehingga mereka ditawari pekerjaan membangun rumah dan bercocok tanam. Di universitas, mereka dianggap lambat secara intelektual dan kerap dilecehkan oleh mahasiswa lain; masih memasak pakai kayu, berburu, dan mencari makan di hutan. Beberapa mahasiswa diberikan nama panggilan bernada rasis.

Rasisme justru meningkat karena publik tidak membicarakan persoalan sehari-hari terkait apa itu rasisme dan apa akibatnya. Bahkan, stand up comedy kita sebagai budaya pop yang diminati, sedikit sekali menyinggung rasisme. Peluang besar komedi atau humor sebagai konter narasi rasisme dan sarana pendidikan publik yang efektif, seolah menguap begitu saja. Tidak hanya komedi di panggung atau di Youtube, obrolan lucu sehari-hari dengan tetangga belum dipandang sebagai ruang pendidikan publik yang membebaskan.

Stand up comedy misalkan, sebagai produk budaya populer bisa menjadi ruang pedagogi publik atau sebuah situs perjuangan melawan relasi kuasa dan identitas dominan yang terus direproduksi lewat ucapan atau tindakan rasis. Pedagogi publik ini artinya mengakui pendidikan yang disediakan oleh budaya populer bersama isu dan wacana yang diangkatnya.

Komedi sebagai pedagogi publik menyediakan kacamata untuk memahami hegemoni rasial. Selain itu juga menantang pedagogi dominan atau tradisional --yang lekat akan legitimasi dan memperkuat stereotip tentang orang kulit berwarna, penormalan tindakan kekerasan terhadap kelompok minoritas rasial, dan menciptakan ruang berlindung bagi orang dengan privilege. Situasi ini akhirnya memunculkan pertanyaan, apakah ruang-ruang kelas sudah bebas dari rasisme?

Komedi sebagai ruang kelas baru, ruang pedagogi publik yang cair, mengakui komedian, seniman, dan pekerja budaya sebagai pedagog. Mereka sebenarnya sedang berpikir tentang bagaimana orang menciptakan kemungkinan baru yang dibayangkan melalui Stand up comedy dan praktik humor lainnya untuk menjadi saksi rasisme dalam kehidupan sehari-hari mereka. Dengan kata lain, melalui "politik performatif", komedian membentuk audiens untuk mengubah dunia mereka menjadi lebih baik.

Singkatnya, komedi yang kritis mencampuri urusan masyarakat sipil untuk menciptakan ruang publik yang demokratis di mana individu dapat berpikir secara kritis, simpatik dengan masalah orang lain, dan berusaha untuk mengatasi masalah sosial yang lebih besar, seperti rasisme. Seperti yang dilakukan Dave Chappelle, seorang komedian Amerika peraih Emmy Awards (2017) atas kemunculannya di Saturday Night Live dan Grammy Awards (2018) atas show terbarunya di Netflix. Ia mempertimbangkan kembali gagasan sosial tentang ras dengan menggunakan kiasan dan stereotip yang berdasar pengalamannya sebagai komedian kulit hitam.

Melalui penggambaran pengalaman pribadi yang kompleks dan pedih melalui lensa komedi, Chappelle memfungsikan dirinya sebagai platform percakapan tentang ras dan rasisme di muka publik Amerika. Seperti yang berusaha dilakukan oleh komika di Indonesia seperti Mamat Alkatiri, Yewen, dan Arie Kriting.

Memang beberapa orang menggunakan humor rasis sebagai senjata yang menindas, misal dengan berteriak 'Monyet!' atau ejekan bernada rasis lainnya. Sebaliknya, membuat humor rasial yang kritis dapat merongrong status quo pihak dominan, bisa aparat ataupun siapa saja yang merasa berkuasa dan berhak menilai. Tentu saja, beda antara humor opresif dan kritis ini tidak bisa menjelaskan kompleksitas humor rasial, tetapi mampu menggambarkan lebih baik apa itu humor rasial.

Akibat paling buruk, humor rasis ikut dalam pedagogi dominasi publik, berperan mereproduksi makna yang menindas, merendahkan manusia yang ditandai sebagai "yang lain". Bagaimana supaya humor atau lawakan rasis tidak terjebak dalam melanggengkan rasisme?

Bukan Soal Lucu atau Tidak Lucu

Sebenarnya bukan masalah rasisme diartikulasikan dengan cara lucu atau tidak lucu. Tetapi, perkataan atau lawakan kita "masih" rasis jika tidak memanusiakan manusia, walaupun dikemas dalam jokes yang baik sekalipun.

Sebagai contoh, seseorang dapat mengkritik pemakaian niqab atau burqa tanpa merendahkan martabat perempuan yang memakainya. Sama seperti sah-sah saja bercanda tentang koteka orang Papua tanpa merendahkan kemampuan dan menilai pekerjaanya karena warna kulitnya berbeda. Lelucon rasis bukanlah lelucon, bukan juga kritik jika menggunakan metafora yang tidak manusiawi. Di sini kita dapat melihat kembali bagaimana pendekatan kemanusian dan kultural Gus Dur, presiden yang humoris itu, soal diskriminasi di Papua.

Meratakan keunikan manusia menjadi kualitas tunggal, apakah itu karena warna kulit mereka atau keyakinan agama yang mereka pegang adalah sesat pikir yang paling dasar --baik dalam dunia komedi ataupun komunikasi pada umumnya. Seseorang tidak dapat mereduksi ketidakadilan sosial yang kompleks menjadi teknis frasa atau lelucon yang dibuat dengan lucu.

Ketidakadilan selalu terikat dengan kekuasaan, selalu berhubungan dengan siapa yang memiliki wewenang untuk berbicara dan siapa yang tidak. Karena alasan ini, lelucon yang dilakukan oleh seorang komedian kulit hitam yang mengkritik rasisme di dalam masyarakat tidak harus bersifat rasis, seperti halnya ketika dilakukan oleh seorang kulit putih, berkelas tinggi, dan kaya.

Banyak dari kita merasa bahwa lebih baik diam, bahkan dalam beberapa kasus kita bahkan mungkin takut akan bentrok fisik jika memberi tahu orang lain tentang apa yang sebenarnya kita pikirkan. Di situasi seperti itu komedi tetap hadir, membantu melunakkan ketegangan. Dalam komedi atau lelucon, kebenaran adalah kebenaran, dan komedian adalah orang yang berpengaruh di masyarakat kita, dan kadang-kadang yang paling berani.

Selama masyarakat masih berpikir bahwa rasisme bukan topik enak untuk diobrolkan dengan teman atau di ruang publik, maka rasisme akan selalu ada. Pesimisme ini perlu ditantang dengan terus dibicarakan, membuat lawakan dan bercanda dengan bebas.

Khoiril Maqin peneliti di Institute Humor Indonesia Kini (IHIK3)

(mmu/mmu)