Analisis Zuhairi Misrawi

Makna Kemenangan Qatar di Piala Arab Teluk

Zuhairi Misrawi - detikNews
Kamis, 05 Des 2019 15:36 WIB
Zuhairi Misrawi (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Sepakbola adalah simbol persatuan, kolaborasi, persaudaraan, dan sportivitas. Itu yang sedang terjadi di Piala Arab Teluk ke-24 di Qatar. Negara-negara Teluk yang dalam dua terakhir mengalami turbulensi akibat blokade Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Bahrain terhadap Qatar, kini mereka dipersatukan kembali oleh hajatan sepakbola terbesar di seantero Arab Teluk, yaitu Piala Arab Teluk ke-24.

Itulah daya magis sepakbola yang selalu memberikan harapan dan optimisme perihal tata kehidupan yang lebih harmonis dan berperikemanusiaan. Saya sendiri selalu menonton pertandingan-pertandingan dalam Piala Arab Teluk ke-24 yang sedang berlangsung di Qatar, karena di dalamnya sarat makna, penuh gengsi, dan menguras emosi. Sepakbola adalah simbol kebanggaan sebuah negara-bangsa.

Keikutsertaan Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Bahrain seakan memulihkan benang kusut yang terjadi akibat kebijakan blokade. Bayangkan, pada Juni 2017 lalu, Arab Saudi mengambil kebijakan keras terhadap Qatar dengan memulangkan seluruh warga Arab Saudi yang bekerja dan tinggal di Qatar. Begitu juga Qatar memulangkan warganya yang tinggal dan bekerja di Qatar. Kerjasama ekonomi diputus total, bahkan warga Qatar tidak bisa melaksanakan umrah dan haji akibat blokade tersebut.

Perhelatan sepakbola menjadi solusi dari kekusutan hubungan diplomatik di antara negara-negara Teluk. Sepakbola menjadi momen "CLBK" (cinta lama bersemi kembali). Keikutsertaan Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Bahrain mengejutkan, tapi juga menggembirakan seluruh warga Arab Teluk. Mereka akan melihat negara-negara Arab Teluk kembali dalam kompetensi yang sehat (fastabiqul khairat) dalam koridor tali persaudaraan.

Stasiun televisi Aljazeera berbahasa Arab yang biasanya sangat keras dalam memberitakan isu-isu politik yang terjadi di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Bahrain, selama perhelatan Piala Arab Teluk ini terasa adem dan penuh keakraban. Tidak ada kata-kata keras dan kasar, yang menggambarkan betapa sepakbola menjadi mukjizat kebersamaan.

Begitu pula, beberapa media di Arab Saudi, Uni Emirate Arab, dan Bahrain yang dalam dua tahun terakhir sangat keras terhadap Qatar, kini berubah menjadi lebih santun. Bahkan mereka tidak lagi menyerang Qatar dengan bahasa-bahasa sarkastik dan analisis yang menunjukkan adanya perseteruan.

Semua tahu bahwa Qatar merupakan salah satu menara ekonomi yang terkuat di kawasan Teluk saat ini. Stasiun televisi Aljazeera menjadi media rujukan utama di kawasan Timur-Tengah, bahkan dunia Islam dan Barat. Aljazeera turut berperan dalam meledaknya revolusi dan musim semi Arab. Penerbangan Qatar Airways juga merajai bisnis penerbangan yang selama ini didominasi oleh Uni Emirate Arab. Belum lagi, Qatar mempunyai hubungan yang baik dengan Amerika Serikat dan Eropa. Begitu pula hubungan Qatar dengan Rusia, Turki, dan Iran.

Atas dasar itu, blokade Arab Saudi, Uni Emirate Arab, dan Bahrain dalam dua terakhir terasa mandul, dan tidak berdampak apa-apa. Satu-satu dampak yang terasa, yaitu sepinya bandara megah Doha. Dalam perjalanan saya ke Timur-Tengah bulan lalu, terasa sekali sepinya bandara Doha. Suasana tersebut tidak seperti biasanya yang dikenal ramai sepanjang hari.

Saya sendiri penggemar Qatar Airways, karena dalam penerbangan saya bisa menikmati lagu-lagu Arab modern selama di dalam pesawat sembari bernostalgia saat masih kuliah di Kairo. Tiada hari tanpa mendengarkan lagi-lagi Arab modern: Kazem Saher, Nawal Zaghbi, Amr Diab, Magda Roumi. Untuk lagu-lagu klasik saya suka menikmati lagu-lagu Ummi Kultsum dan Fayruzz.

Sekali lagi, perhelatan Piala Arab Teluk ke-24 yang digelar di Qatar telah memulihkan kembali aura Qatar. Warga Qatar menyambut momen tersebut dengan suka cita sebagai awal normalisasi ketegangan dan konflik yang memanas dalam dua tahun terakhir. Mereka belajar dari sepakbola yang di dalamnya mengajarkan kompetisi yang sportif. Semua harus dalam koridor persaudaraan.

Ada yang berpandangan, bahwa sikap Arab Saudi, Uni Emirate Arab, dan Bahrain mulai realistis melihat Qatar sebagai kekuatan ekonomi yang sangat menjanjikan saat ini. Di tengah blokade pun mereka masih bisa tumbuh secara fantastis. Artinya, Qatar mampu menunjukkan dirinya telah teruji sebagai salah satu kekuatan penting di kawasan Timur-Tengah. Badai dan turbulensi dapat dihadapi dengan baik, karena begitu baiknya hubungan Qatar dengan negara-negara Barat, khususnya Eropa dan AS. Bahkan Turki siap memberikan bantuan militer kepada Qatar.

Selain itu, Arab Saudi, Uni Emirate Arab, dan Bahrain juga mulai sadar, bahwa AS pelan-pelan akan menarik pasukannya di Timur-Tengah. Presiden Donald Trump sedang menghadapi masalah di dalam negeri dan ingin memenuhi janjinya untuk menomersatukan masalah internal AS. Apalagi hubungan AS dan Qatar justru semakin kuat dalam beberapa tahun terakhir. Investasi Qatar di AS terus bertambah.

Maka dari itu, kita harus jujur, dalam perseteruan di Teluk, Qatar adalah pemenangnya. Qatar telah mampu menghadapi sanksi blokade. Bukan hanya itu, tim nasional sepakbola Qatar juga semakin menjanjikan, setelah berhasil memenangkan Piala Asia 2019.

Akram Afif, sang bomber menjadi bintang yang dielu-elukan, karena permainannya yang memikat dan kerap merobek jala gawang lawan. Ia bisa membawa Tim Nasional Qatar bisa bersaing dengan negara-negara Arab dan Asia. Bahkan ia terpilih sebagai pemain terbaik Asia 2019. Wajah Akram Afif mirip Muhammad Salah, bomber Tim Nasional Mesir dan Liverpool.

Dalam pertandingan melawan Uni Emirate Arab, Qatar berhasil memenangkan pertandingan, sehingga lolos ke babak semifinal. Qatar berhasil memupuskan harapan Tim Nasional Uni Emirate Arab untuk lolos ke babak selanjutnya. Warga Qatar merayakan kemenangan tersebut dengan penuh suka cita. Mereka merasa tidak hanya kokoh dalam sektor ekonomi, tetapi juga dalam ranah sepakbola.

Dalam laga semifinal yang akan digelar malam ini, Qatar akan menghadapi musuh bebuyutannya satu lagi, yaitu Arab Saudi. Laga ini akan menjadi pertandingan yang ditunggu-tunggu banyak pihak, termasuk saya tidak sabar menonton laga penuh gengsi ini.

Apapun Qatar sudah membuktikan sebagai salah satu kampiun di kawasan Timur-Tengah. Ia akan menggelar Piala Dunia Antar-Klub akhir bulan ini. Pada tahun 2022 nanti, mereka juga akan menjadi tuan rumah Piala Dunia sebagai perhelatan sepakbola terbesar sejagat raya. Seluruh bola mata akan memusatkan perhatiannya ke negara kaya gas dan minyak itu. Qatar pantas merayakan kedigdayaannya.

Zuhairi Misrawi cendekiawan Nahdlatul Ulama, analis pemikiran dan politik Timur-Tengah di The Middle East Institute, Jakarta

(mmu/mmu)