detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Minggu 01 Desember 2019, 11:30 WIB

Jeda

Kucing-Kucing Medsos

Mumu Aloha - detikNews
Kucing-Kucing Medsos Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta - Aku punya masalah dalam menyukai hal-hal yang teramat populer. Jangan salah sangka, ini bukan sebuah pernyataan kesombongan. Tapi, sejak dulu aku memang mendapati diriku selalu begitu. Misalnya, ketika sebuah kompleks perumahan milik perusahaan umum milik negara yang mangkrak selama 25 tahun di kawasan Blok M baru-baru ini disulap menjadi tempat nongkrong yang superhitz, yang membuat seluruh anak gaul Jaksel berbondong-bondong menyerbunya, aku justru sama sekali tidak penasaran.

Ketika melewati lokasi itu, dari balik kaca jendela bus Transjakarta, aku menyaksikan keramaian tempat itu, dan melengos. Di dalam lubuk hatiku yang terdalam dan paling tersembunyi, aku yakin memang terlahir sebagai orang yang sinis dan benci hal-hal yang sedang tren. Sekali lagi, ini bukan sesuatu yang kubanggakan. Jangan dikira aku nyaman dan menikmati perasaan itu. Kadang, aku juga ingin seperti orang-orang lain. Tapi, bila dipaksakan, hasilnya justru melahirkan kenyinyiran yang membuatku makin disalahpahami.

Entahlah, seperti ada semacam naluri dalam diriku untuk senantiasa terlihat berbeda. Walaupun, tak pernah jelas juga, apa tujuannya atau siapa yang hendak kubuat terkesan. Aku juga tak pernah benar-benar tahu, kepuasan apa yang kudapat dari sikap seperti itu, tapi rasanya ketika banyak orang menyukai sesuatu dan kau menghindarinya, rasanya seperti...ya, pokoknya aku tidak sama dengan mereka. Ketika banyak orang bilang, "Aku suka ini," atau "Aku ingin banget ke tempat itu," aku akan berlagak (atau sebaliknya, berpura-pura) tidak memahami, apa sih yang membuat "semua orang" menyukai atau menginginkan hal itu?

Kecenderungan yang sama, awalnya, juga terjadi pada diriku terhadap fenomena kecintaan orang pada kucing. Tampaknya semua orang suka hewan yang satu itu. Apalagi kalau kau melihat dari media sosial (medsos). Setiap kali membuka Twitter, Instagram, atau Facebook rasanya seperti seperti masuk ke sebuah pertemuan sekte penyembah kucing. Video-video yang merekam berbagai tingkah dan aksi kucing yang lucu-lucu, foto-foto artis atau selebritas terkenal yang tidur atau rebahan di sofa sambil memeluk hangat kucingnya...pokoknya hampir setiap gera-gerik kucing seolah-olah menarik untuk di-posting.

Sebuah video yang pernah cukup viral memperlihatkan seorang bocah yang menangis sejadi-jadinya karena kucing yang disayanginya dibuang ibunya, dan membuat netizen begitu bersimpati. Seorang mantan penyanyi dan aktris cilik terkenal dan belakangan menjadi juri sebuah ajang kontes pencarian bakat menyanyi di televisi mem-posting foto bersama kucingnya dengan caption yang yang "provokatif": good bye social life! Astaga, maksudku, apakah semua itu serius? Apakah semua itu nyata?

Memangnya apa sih yang sudah dilakukan sama kucing, sampai mereka begitu disukai dan dipuja sebegitu rupa? Aku tak paham mengapa kucing begitu istimewa. Dari yang kulihat selama ini, di dunia nyata tentu saja, binatang itu hanya duduk-duduk malas, cueknya minta ampun, kadang menjatuhkan dan memberantaki barang-barang. Belum lagi kalau dengan kaki-kakinya yang kotor itu seenaknya menyeruak masuk kamar dan melompat naik ke kasur. Dan, orang-orang memotret atau merekamnya dengan video saat kucing melakukan hal-hal itu-dan mem-posting-nya di medsos. Ya ampun, maksudku, buat apa sih?

Salah satu yang terbaru, aku melihat video yang memperlihatkan seekor anak kucing berbulu hitam yang berusaha memanjat tempat tidur, tapi tidak berhasil, sehingga akhirnya tubuhnya yang mungil bulat itu bergelantungan dan kedua kaki belakangnya berusaha menggapai-nggapai. Apa lucunya coba?

Akhirnya aku berpikir, kucing itu semacam Kim Kardashian-nya dunia hewan peliharaan. Maaf jika perumpaan ini terdengar jadul, maklum aku generasi baby boomers. Tapi, kau tahu kan maksudku? Mereka tak layak mendapat semua perhatian itu, tapi (mengapa) mereka tetap mendapatkannya, bahkan dengan begitu berlebihan.

Kadang-kadang ketika melihat kemesraan seseorang dengan kucingnya, yang dipamerkan di Twitter, dan mendapat ratusan ribu like dan retweet serta tentu saja bertumpuk-tumpuk komentar yang heboh nan penuh simpati mengharu biru, aku lagi-lagi hanya bisa ngedumel sendiri dalam hati, benarkah semua ini nyata? Faktanya, di dunia yang kualami, ketika sesekali aku akhirnya mencoba bersikap seperti orang-orang di medsos yang begitu mencintai dan memuja kucing (untuk mengurangi dan menebus kesinisanku selama ini), yang kudapat adalah penolakan yang menyakitkan.

Misalnya, aku punya kebiasaan jogging sore hari pada akhir pekan, menyusuri jalanan kampung dari rumahku di Karang Tengah dekat Pondok Labu, melintasi kompleks perumahan TNI AL Pangkalan Jati, di depan rumah-rumah yang berpagar dan selalu tertutup itu selalu ada kucing berkeliaran di tempat sampah depan pintu gerbang. Ketika aku mencoba mendekati mereka sambil menyapa, pus, pus, mereka langsung berlarian ketakutan, sembunyi di balik pohon atau nyungsep ke semak-semak.

Hal yang sama terjadi ketika aku coba-coba ikut-ikutan hal yang sedang ngetren di kalangan pecinta kucing, yakni membawa dry food dan memberi makan kucing yang kutemui di trotoar atau halte. Boro-boro kucing-kucing itu antusias menyambutku sebagai pahlawan yang hendak membebaskan mereka dari kelaparan; yang ada mereka justru secepat kilat berbalik badan dan terjun ke tepian selokan. Dari kejauhan kedua mata mereka menatapku tajam penuh selidik dan kecurigaan --di mata mereka seakan-akan aku adalah makhluk jahat yang akan mencelakai mereka.

Ada, memang, satu-dua dan sekali-dua, aku berhasil mendapatkan "target" untuk misi muliaku dalam rangka belajar mengikuti tren (dan agar lebih positif memandang kehidupan), melakukan hal-hal yang dilakukan orang-orang, khususnya dalam hal ini menjadi pecinta kucing. Dua ekor kucing di sebuah halte tempat aku biasa menunggu angkot mengeong manja ketika kujulurkan tanganku untuk mengelus kepala mereka satu per satu. Lalu, aku pun berjongkok dan penuh girang hati mengambil dry food dari dalam tasku. Namun ketika makanan itu kutuang di lantai, kucing-kucing yang awalnya dengan antusias mengendusnya itu tak jadi memakannya; mereka lalu menatapku dengan sinar mata mengiba, sambil mengeong, seakan berkata, beri aku sesuatu yang lain.

Aku menjadi putus asa dibuatnya. Kenapa sih untuk berbuat baik sama kucing saja kok rasanya sulit banget? Jangan-jangan kucing-kucing yang ada di medsos itu adalah makhluk dari jenis yang berbeda dari yang kutemui di jalanan. Aku bukannya tidak tahu bahwa kucing-kucing yang "berkeliaran" di medsos itu umumnya kucing ras alias kucing mahal, kucing priyayi, jenis yang memang biasa dipelihara oleh para pecinta kucing. Tapi aku juga tidak senaif itu untuk tidak tahu bahwa kucing kampung atau pun kucing-kucing liar di jalanan sebenarnya juga bisa bersahabat dengan manusia, dicintai, diberi perhatian --dan faktanya memang banyak juga kucing jenis ini
yang "wara-wiri" di medsos.

Yang jelas, entah itu kucing ras ataupun kucing kampung, atau bahkan kucing liar jalanan, sepertinya yang ada di medsos itu memang istimewa dan beda. Entahlah, yang kulihat di kenyataan adalah pemandangan yang menyedihkan. Seekor kucing yang cacat dan kesepian, yang selalu berbaring di depan sebuah gerai ATM di kompleks pom bensin. Beberapa ekor kucing yang selalu tidur di kursi-kursi besi di bagian luar sebuah restoran cepat saji, mendengkur di antara orang-orang yang makan hamburger dan ayam krispi tanpa pernah menganggap mereka ada.

Aku bahkan pernah menjumpai beberapa anak kucing yang kurus kering dengan induknya yang tak kalah menyedihkan di sebuah parkiran "food court" kaki lima di depan sebuah mall. Dan, itu belum termasuk kucing-kucing yang selalu terlihat mengais-ngais di bak sampah, mondar-mandir dari warung ke warung makan hanya untuk diusir dan ditendang-tenang. Kucing-kucing yang tidur di bawah ban-ban motor di parkiran minimarket....pokoknya di mana-mana ada kucing dan umumnya mereka merupakan pemandangan yang tragis dan bikin miris.

Terbayang di benakku kucing-kucing yang pernah mampir di timeline-ku di medsos. Seekor kucing imut yang berbaring di kasur empuk bersama pemiliknya. Kucing-kucing yang punya singgasana di sofa. Kucing-kucing yang tidur berselimut hangat. Kucing-kucing berbulu lebat halus lembut dan pergi ke salon. Bahkan ada kucing-kucing yang mengenakan pakaian dan berbagai aksesoris necis. Mereka mereka adalah kucing-kucing yang terlahir dalam keberuntungan. Tangan-tangan nasib merengkuhnya dalam kehidupan yang melimpah fasilitas bahkan kemewahan.

Di luar sana, di luar medsos, kucing-kucing kampung dan kucing liar di jalanan yang tersuruk-suruk mengais makanan dalam serba ketidakpastian itu pastilah bukan tidak berusaha. Seandainya boleh memilih dan bisa dilahirkan kembali, mereka tentu ingin lahir sebagai kucing-kucing peliharaan yang dilimpahi kasih sayang, cinta, dan perhatian. Serta menjadi foto dan video yang viral di medsos, membuat banyak orang yang melihatnya senang, gemas, terhibur, terharu, simpati, menangis, dan bahagia.

Tapi, kita bahkan tak bisa memilih hal paling "mendasar" seperti terlahir di mana, serta tumbuh dalam dunia dan lingkungan seperti apa. Ini bukan sesederhana soal takdir. Ini bukan soal menerima atau tidak menerima kenyataan dan juga bukan soal bersyukur atau tidak bersyukur. Privilege itu memang ada dan nyata. Bahkan di dunia kucing sekalipun.

Mumu Aloha wartawan, penulis, editor


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com