detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Sabtu 30 November 2019, 13:45 WIB

Pustaka

Menelusuri Jejak Orang Kalang

Shinta Dwi Prasasti - detikNews
Menelusuri Jejak Orang Kalang
Jakarta -

Judul Buku: Tuha Kalang: Orang Kalang dalam Kebudayaan Jawa; Penulis: Agus Aris Munandar, Aditya Revianur, dan Deny Yudo Wahyudi; Penerbit: Wedatama Widya Sastra, Oktober 2018; Tebal: viii + 139 hlm

Berdasarkan survei penduduk tahun 2010 yang dilansir Badan Pusat Statistik, terdapat 1331 kategori suku di Indonesia. Jumlah tersebut tentu tersebar ke pulau-pulau yang ada. Berdasar data yang sama, disebutkan bahwa ratusan suku yang ada di Indonesia memiliki jumlah penduduk yang tidak sepadan. Suku Jawa adalah suku yang terbesar dengan proporsi 40,05 persen dari jumlah penduduk, hidup dan tersebar di seluruh pulau di Indonesia. Meskipun, daerah asal suku ini adalah Pulau Jawa.

Suku Kalang merupakan salah satu suku yang juga bermukim di Pulau Jawa. Orang-orang Kalang merupakan etnik Jawa yang dengan sengaja hidup mengasingkan diri dalam hutan. Berdasarkan data yang tersedia dari zaman Hindu-Budha (abad ke 8-15), orang-orang Kalang masa itu telah hidup mengasingkan diri di hutan rimba Tanah Jawa yang kala itu masih luas dan jarang dijelajahi manusia.

Buku ini mengulas tentang kehidupan suku Kalang dalam peradaban masyarakat dan kebudayaan Jawa. Suku Kalang salah satu suku yang dikenal dengan keahlian tentang perkayuan. Namun asal usul dari suku ini atau tepatnya bagaimana kehidupan detail dari suku ini masih tidak diketahui dengan pasti. Buku ini mencoba membahas sedikit perihal orang Kalang berikut aspek-aspek religi yang berkaitan dengan kehidupan mereka.

Pembahasan di dalamnya tidak mencantumkan kehidupan orang-orang Kalang pada masa kolonial Belanda dan masa kesultanan Islam di Jawa secara detail. Hal ini karena topik tersebut memerlukan kajian tersendiri.

Hipotesis yang dimunculkan pada buku ini memang menjadi salah satu pelengkap data mengenai kehidupan dari suku Kalang. Hipotesis yang berasal dari reintepretasi sejumlah karya sastra dan mitos yang berkembang di masyarakat terhadap suku Kalang menjadi sesuatu yang menarik untuk dibaca. Serta, dari pembacaan pada sejumlah prasasti masa Jawa Kuna. Reintepretasi yang dihasilkan bukan sekadar otak atik gatuk. Namun, melalui proses analisis sumber data yang kritis.

Terdapat tiga poin yang ingin dikaji oleh para peneliti. Pertama, penjelasan tentang eksistensi sebenarnya kubur Kalang, siapa pembuatnya, kapan digunakan, dan konsepsi yang melatarbelakanginya. Kedua, penjabaran tentang keterkaitan kubur-kubur Kalang tersebut dengan masyarakat yang pernah menghuni hutan-hutan di Pegunungan Kendeng yang disebut orang Kalang. Ketiga, penjelasan tentang peran orang Kalang dalam kaitannya dengan perkembangan budaya Jawa pada umumnya.

Pembahasan mengenai orang Kalang pada buku ini dibatasi berdasarkan hasil survei arkeologis yang dilakukan dua Situs Kubur Kalang di desa Kawengan, kecamatan Kedewan dan di desa Tanggir, kecamatan Malo Bojonegoro, Jawa Timur. Dalam kajian ini juga terdapat asumsi keterkaitan antara situs Kahyangan Api dengan kegiatan orang Kalang pada masa lampau. Asumsi ini muncul mengingat letak situs yang berada di wilayah selatan Bojonegoro.

Ketertarikan peneliti untuk menulis kajian ini dikarenakan minimnya data tentang orang Kalang dan budayanya. Data yang tersedia selama ini masih fragmentaris dan samar-samar. Selain itu peneliti berupaya menjelaskan kaitan budaya masyarakat Kalang dengan orang Jawa pada umumnya sejak zaman Hindu-Budha dan masa perkembangan Islam.

Penelitian ini merupakan studi arkeologi-sejarah. Maka sumber data yang digunakan adalah data kepustakaan berupa sejumlah prasasti, maupun catatan sejarah lainnya yang berhubungan dengan eksistensi suku Kalang. Sementara survei arkeologi dilakukan dengan survei di situs kubur batu Kalang, yaitu di situs Kawengan dan Kidangan (Tanggir), Bojonegoro.

Meskipun merupakan sebuah hipotesis (mengingat terbatasnya sumber yang ada), namun buku ini setidaknya mampu memberikan sejumlah penjelasan yang menarik tentang kehidupan orang Kalang dalam kebudayaan Jawa, khususnya di masa prasejarah dan masa Hindu Budha. Kuat dugaan, masyarakat Kalang merupakan masyarakat Jawa Purba yang telah ada sejak zaman prasejarah. Mereka selalu tinggal di hutan-hutan dan hanya sedikit yang keluar untuk bergabung dengan masyarakat Jawa purba lainnya. Terdapat asumsi bahwa keahlian pertukangan itu awalnya dimiliki oleh masyarakat Kalang prasejarah ini.

Pada perkembangan selanjutnya juga terdapat dugaan terjadinya interaksi masyarakat Kalang prasejarah ini dengan masyarakat Jawa. Masyarakat Kalang diduga tetap menghuni hutan-hutan, namun mereka menyumbangkan pengetahuan perkayuan dan pertukangan untuk digunakan masyarakat Jawa kuna di dataran yang telah mampu membangun permukiman dan desa-desa. Pola ini tampaknya tetap bertahan hingga masuknya pengaruh Hindu Budha dari India.

Orang Kalang tidak ikut serta untuk menerima atau memeluk agama Hindu Budha. Mereka tetap mempertahankan kepercayaan asli warisan leluhur masa prasejarah dengan melakukan pemujaan kepada arwah nenek moyang yang dipercaya bersemayam di puncak gunung, pegunungan, dan dataran tinggi. Hidup mereka tetap mengasingkan diri di dalam hutan --yang pada masa itu tentu masih sangat lebat.

Pada masa Hindu Budha, jalinan hubungan antara orang Kalang dengan masyarakat kerajaan nampaknya berjalan baik. Hal ini dibuktikan dengan adanya penyebutan tuha Kalang dalam sejumlah prasasti. Dalam prasasti, jabatan tuha Kalang ini juga menerima pasêk-pasêk dalam peresmian tanah sima.

Pasêk-pasêk menurut Darmosoetopo (2003:275) memiliki pengertian pemberian uang dan pakaian dari penerima tanah sima kepada raja, pejabat pusat dan daerah saat upacara penetapan sima. Sementara pengertian sima menurut Darmosoetopo (2003:276) adalah perdikan; tanah yang diberi batas dan (sebagian) hasilnya untuk menunjang penerimanya atau keperluan suci keagamaan.

Penelitian tentang kehidupan orang Kalang memang menarik untuk dikaji. Namun, karena kajian ini sifatnya terbatas, maka memunculkan sejumlah ide kajian selanjutnya, yang juga disebutkan oleh peneliti. Semisal kaitan antara kajian asosiasi antara orang Kalang di masa silam dengan sumber minyak bumi yang terkandung dalam tanah hutan-hutan tempat mereka hidup. Bisa juga kajian mengenai asal usul orang Kalang dan peran mereka dalam prasasti. Kajian-kajian tersebut memang membutuhkan kerja keras, mengingat terbatasnya sumber. Namun bukan tidak mungkin dilakukan.

Shinta Dwi Prasasti staf Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) DI Yogyakarta, sedang menempuh S2 Arkeologi di Prodi S2 Arkeologi FIB UGM


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com