Menambah Kesegaran Nilai Kelapa

Kolom

Menambah Kesegaran Nilai Kelapa

Nadhifan Humam - detikNews
Jumat, 29 Nov 2019 13:30 WIB
Produksi kelapa yang melimpah perlu diberi nilai tambah
Produksi kelapa yang melimpah perlu diberi nilai tambah
Jakarta -
Kelapa merupakan salah satu tanaman yang memiliki peran sosial, budaya, dan ekonomi bagi masyarakat Indonesia. Pohon yang bisa tumbuh mencapai 30 meter ini terkenal dengan sejuta manfaatnya, mulai dari 'bawah' hingga 'atas', akar hingga daunnya dapat dimanfaatkan oleh manusia. Manfaat tanaman kelapa tidak saja terletak pada daging buahnya saja yang dapat diolah menjadi santan, kopra, dan minyak kelapa, namun seluruh bagian tanaman kelapa mempunyai manfaat yang besar.

Selain menyimpan manfaat yang begitu banyak, kelapa juga menyimpan kontribusi terhadap perekonomian bangsa Indonesia. Produksi yang melimpah membuat Indonesia dipandang sebagai salah satu produsen kelapa dunia.

Produksi Nasional

Pohon kelapa merupakan tanaman tropis yang mudah tumbuh di daerah pantai. Oleh sebab itu, tanaman ini dikenal oleh masyarakat mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan dan memiliki pantai yang menyebar. Hal ini pun dapat dilihat dari penyebaran tanaman kelapa yang hampir dapat dijumpai di seluruh kawasan Nusantara.

Menurut data dari Kementerian Pertanian pada 2017, luas areal perkebunan kelapa di Indonesia menurut pulau didominasi oleh Pulau Sumatera sebanyak 1,05 juta hektar (32,90%), kemudian disusul Pulau Jawa sebanyak 781,67 ribu hektar (23,2%) dan Pulau Sulawesi sebanyak 781,23 ribu hektar (22,49%). Selanjutnya Pulau Papua dan Maluku, Bali dan Nusa Tenggara, serta Kalimantan masing-masing memiliki luas areal perkebunan kelapa sebanyak 376,64 ribu hektar (10,9%), 273,09 ribu hektar (7,86%), dan 203,94 ribu hektar (5,87%).

Kelapa merupakan tanaman perkebunan dengan areal terluas kedua setelah kelapa sawit di Indonesia. Dilansir dari data Direktorat Jendral Perkebunan Kementerian Pertanian, pada 2014 luas areal tanaman kelapa mencapai 3,65 juta hektar. Bahkan luas areal ini lebih luas dibanding karet dan kopi di Indonesia yang masing-masing memiliki luas 538,9 ribu hektar dan 46,8 ribu hektar di tahun yang sama.

Rata-rata produksi kelapa Indonesia pada periode 2015-2019 sebesar 2,9 juta ton. Secara keseluruhan produksi kelapa nasional pada 2019 sebanyak 2,92 juta ton, meningkat 0,77% dari tahun sebelumnya. Diperkirakan pada masa mendatang kebutuhan akan komoditas kelapa akan meningkat, mengingat sebagai negara kepulauan, pola hidup masyarakat Indonesia akan sulit dilepaskan dari komoditas dan hasil olahan kelapa.

Tanaman kelapa juga merupakan salah satu komoditas perkebunan penghasil devisa negara, sumber pendapatan asli daerah (PAD), serta sumber pendapatan petani perkebunan dan masyarakat. Hal ini tentu menjadikan Indonesia sebagai negara yang memiliki potensi yang besar dalam pengembangan komoditas kelapa.

Pasar Ekspor

Produksi kelapa nasional sebagian besar merupakan komoditas ekspor. Produk kelapa yang diekspor antara lain kelapa bulat, air kelapa, coconut crude oil (CCO), dan dessicated coconut (DO). Menurut data FAO, pada 2003, total ekspor aneka produk kelapa Indonesia mencapai $US 396 juta dengan volume ekspor 708 ribu ton yang dikirim ke negara seperti Amerika Serikat, Belanda, Inggris. Selain itu, ekspor kelapa juga diperuntukkan ke negara Asia Pasifik seperti Malaysia, Korea Selatan, Sri Langka, dan Thailand.

Permintaan pasar ekspor produk olahan kelapa umumnya menunjukkan tren yang meningkat. Dilansir dari data APCCSEC, sebuah komunitas kelapa internasional, ekspor kelapa dan sabut Indonesia menunjukkan tren yang positif selama periode 2010-2015. Pada 2010, ekspor kelapa dan sabut Indonesia mencapai 860 ribu ton, kemudian pada 2015 melonjak hampir dua kali lipat 1,7 juta ton. Selama periode tersebut, ekspor kelapa Indonesia rata-rata mengalami kenaikan sekitar 14,9 % per tahun.

Tantangan Komoditas

Saat ini komoditas kelapa sangat berperan dalam perekonomian nasional sebagai penyedia lapangan kerja, bahan baku dalam industri, dikonsumsi secara langsung, maupun sebagai sumber devisa negara. Namun, kebanyakan dari pemanfaatannya masih sebatas produk mentahan sehingga dapat dikatakan tidak ada nilai tambahnya.

Mayoritas pengelolaan kelapa di Indonesia juga masih bersifat tradisional, sehingga hasil olahannya pun tidak terlalu beragam. Padahal pangsa ekspor kelapa sangat terbuka untuk semua jenis olahan kelapa. Selain itu, menurut riset yang dilaksanakan Kementerian Perindustrian, banyak dijumpai pohon kelapa di Indonesia sudah berusia tua yang kurang produktif, Di sisi lain proses penanaman kembali atau penggantian tanaman kelapa yang sudah tua juga lambat, bahkan beberapa perkebunan kelapa mulai beralih fungsi. Hal ini berakibat kurang maksimalnya produksi kelapa di Indonesia.

Melihat kondisi di atas, maka guna menambah "kesegaran" nilai kelapa, hal yang dapat ditempuh adalah dengan meningkatkan pengelolaan budidaya tanaman kelapa, menambah keanekaragaman produk olahan kelapa, serta meningkatkan kualitas dari produk olahan yang ada. FAO menyarankan, produk-produk olahan kelapa yang dapat dijadikan alternatif antara lain Virgin Coconut Oil (VCO), Oleochemical (OC), Desicated Coconut (DC), Coconut Milk/Cream (CM/CC), Coconut Charcoal, Activated Carbon (AC), Brown Sugar (BS), Coconut Fiber (CF), dan Cocon Wood (CW).

Produk olahan tersebut dipilih disebabkan nilai tambahnya yang lebih dibandingkan produk mentahan dan sering digunakan atau dikonsumsi baik di dalam maupun luar negeri. Bahkan disebutkan pula, pelaku bisnis yang memproduksi produk-produk tersebut mampu meningkatkan pendapatannya 5-10 kali lipat jika dibandingkan menjual produk kopra. Selain itu, diperlukan juga pembangunan sistem industri pengelolaan kelapa yang terpadu mulai dari petani kelapa hingga pelaku industri yang terlibat di dalamnya. Hal ini dilakukan guna mendorong produksi dan hasil olahan kelapa yang berkualitas dan berdaya saing.

Tugas besar bagi bangsa Indonesia selanjutnya yaitu menjadikan produk olahan kelapa bernilai tambah dan berkualitas karena selama ini produk olahan kelapa lebih sering dimanfaatkan hasil mentahannya saja. Semoga hal ini dapat dilaksanakan, sehingga negara dan masyarakat dapat semakin merasakan "kesegaran" dan manfaat dari kelapa.

(mmu/mmu)