Menjadikan Jamu sebagai Industri Tak Terkalahkan

Menjadikan Jamu sebagai Industri Tak Terkalahkan

Ishadi SK - detikNews
Kamis, 28 Nov 2019 14:57 WIB
Ishadi SK (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Ishadi SK (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Sebagai negara kepulauan yang terdiri dari ribuan pulau di sepanjang khatulistiwa, Indonesia kaya raya dalam menghasilkan rempah-rempah. Komoditas ini yang mendorong negara-negara kolonial Eropa pada abad ke-13 --Inggris, Belanda, Spanyol, dan Portugis-- berlama-lama menguasai Indonesia. Yang dicari utamanya adalah buah pala, cengkeh, kayu manis, tembakau, dan tebu. Tanaman ini menjadi rebutan karena khasiatnya untuk kesehatan.

Secara turun-temurun orang Indonesia didorong oleh para Raja maupun Ketua Adat mengembangkan tanaman jamu yang dengan amat mudah dikembangkan sebagai tanaman halaman yang bermanfaat untuk bahan kecantikan, kesehatan, dan obat berbagai penyakit.

Pada akhir penjajahan Belanda dan Inggris, diwarisi ramuan-ramuan khusus yang bisa dijadikan jamu yang dalam perjalanan waktu menjadi komoditas yang sangat digemari. Pada akhir abad ke-19, industri jamu berkembang; awalnya usaha rumahan, namun kemudian menjadi industri besar.

Ada lima brand jamu yang terkenal:

1. Jamu Iboe. Perusahaan jamu tertua ini didirikan tahun 1910 oleh Tan Swan Nio dengan brand Jamoe Tjap 2 Njonja. Tahun 1973 diubah menjadi Jamu Iboe Jaya.

2. Jamu Jago Semarang. Didirikan tahun 1918 setelah Perang Dunia II oleh Phoa Tjong Kwan. Sekarang telah dikelola oleh generasi keempat, Jaya Suprana.

3. Jamu Cap Nyonya Meneer. Berdiri tahun 1919 di Semarang. Generasi ketiga dipimpin cucu Nyonya Meneer, Dr Charles Saerang. Berhasil mengangkat brand jamu moderen dan dilengkapi dengan mesin mengekspor ke berbagai negara di Asia.

4. Jamu Air Mancur. Didirikan tahun 1969 oleh Ongko Sanjoyo, Wonosantoso dan Hendrotanoyo di Surakarta. Mengekspor ke Asia, Timur Tengah, dan Afrika.

5. Jamu Sido Muncul. Menjadi leader di industri jamu moderen lewat keberanian melakukan kampanye iklan yang masif di Indonesia, Asia, dan Eropa. Berani menampilkan figur artis terkenal sebagai bintang iklannya. Berhasil menembus ekspor ke Asia, Australia, Korea, Nigeria, Algeria, Hong Kong, Amerika Serikat, Saudi Arabia, Mongolia, dan Rusia. Terutama di bawah generasi kelima, Irwan Hidayat, Tolak Angin menjadi leader industri jamu moderen dan inovatif.

Pada era bisnis daring sekarang ini jamu mempunyai potensi berkembang jauh lebih cepat, karena besarnya potensi bahan dasar jamu yang ada.

Menurut Irwan Hidayat, CEO Sido Muncul, ada sedikitnya 30.000 tanaman jamu yang tumbuh di ribuan pulau di Indonesia. Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) baru merilis 350 jenis jamu yang diizinkan untuk diproduksi menjadi jamu.

Menurutnya seandainya setidaknya pemerintah setiap tahun dapat melakukan uji coba toksisitas (membedakan bahan jamu yang tidak beracun) dan merilis 50 jenis tanaman yang aman untuk dikelola sebagai bahan jamu yang dirilis industri, niscaya industri jamu akan melaju sangat cepat.

Indonesia adalah negara penghasil tanaman bahan jamu terbanyak kedua setelah Brasil. Namun, kalau termasuk tanaman biota laut, Indonesia tidak tertandingi di seluruh dunia. Maklum, ada 17.000 pulau yang dikelilingi laut.

Mari jadikan tanaman jamu sebagai industri tak terkalahkan. Industri hebat, rakyat sehat karena minum jamu.

Ishadi SK Komisaris Transmedia

(mmu/mmu)