detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Kamis 28 November 2019, 13:00 WIB

Kolom

Sekolah Tanpa Ujian Nasional?

Muhammad Khambali - detikNews
Sekolah Tanpa Ujian Nasional? Pendidikan membebaskan para siswa memilih jalannya sendiri (Foto: dok. UOB)
FOKUS BERITA: UN Tinggal Kenangan?
Jakarta -

Ujian Nasional pada 2020 kemungkinan akan menjadi yang terakhir. Kemendikbud merencanakan penghapusan model pengujian yang dianggap membebani murid dan menggantinya dengan model baru. Diperkirakan, keputusan akan diambil pada awal Desember, setelah pengumuman Program for International Student Assessment (PISA).

Gampang diduga, sekolah tanpa Ujian Nasional bakal timbul banyak perdebatan. Ada yang mendukung, dan menganggapnya sebagai keputusan tepat yang semestinya sudah dilakukan sejak lama. Ujian Nasional hanya membikin stres. Ada juga yang bakal membela Ujian Nasional, bilang itu penting untuk memetakan kualitas pendidikan kita. Lagi pula, seperti kerap dikatakan para pendukungnya, tanpa Ujian Nasional anak sekolah tidak akan memiliki motivasi belajar.

Perdebatan semacam itu bukan hal yang baru dan hanya memperlihatkan kegagapan kita terhadap pendidikan, dan kekisruhan negara mengurusi pendidikan. Sebagai sistem warisan kolonial, pendidikan kita tidak memiliki akar dan arah yang jelas. Logo Kemendikbud bertuliskan: tut wuri handayani. Membimbing dari belakang. Salah satu ide pendidikannya Ki Hadjar Dewantara. Tetapi apabila melihat pendidikan kita hari ini, sama sekali tidak merujuk pada pemikiran Dewantara mengenai pendidikan.

Jikalau mau ditilik lagi, tut wuri handayani berbicara tentang pendidikan yang demokratis, sebagaimana yang Dewantara ajarkan di sekolah Taman Siswa. Kenji Tsuchiya dalam bukunya Demokrasi dan Kepemimpinan: Kebangkitan Gerakan Taman Siswa (1987) menyebutnya sebagai warisan Dewantara. Pendidikan yang demokratis ini memiliki arti bahwa para siswa bebas memilih jalannya sendiri. Guru mengikuti dengan akrab dari belakang untuk memberikan bimbingan jika hal itu dirasakan perlu.

Demokratisasi ini tercermin pula dari ungkapan Dewantara sendiri mengenai salah satu tujuan dari 'Pendidikan dan Pengajaran Nasional'. Dewantara bilang, pendidikan untuk melahirkan manusia merdeka. Lahir dan batin. Tentu kita tidak akan menemukan demokratisasi pendidikan dalam sistem semacam Ujian Nasional. Pendidikan yang mengukur kualitas pendidikan dari ketangkasan mengerjakan pilihan ganda.

Maka membicarakan pendidikan kita hari ini dengan ide-ide pendidikan Dewantara seperti peribahasa api jauh dari panggang. Di sisi lain, arah pendidikan kita tidak jelas lantaran tabiat politikus dan pejabat kita yang senang sekali berlagak paling tahu soal pendidikan. Berkomentar semaunya di media.

Pendidikan berkualitas kerap hanya menjadi slogan politik dan kampanye untuk menarik simpati publik. Lalu melahirkan pula kebijakan-kebijakan pendidikan yang bisa dikatakan justru membuat ruang kelas bukan sebagai ruang belajar, melainkan meja kursi hafalan. Selama berpuluh-puluh tahun negara membiarkan pendidikan diatur dan dikomentari oleh orang-orang yang tidak benar-benar tahu pendidikan.

Yuval Noah Harari, penulis buku Sapiens dan Homo Deus, belum lama ini dalam sebuah diskusi bersama Jared Diamond menawarkan pandangan yang menarik mengenai pendidikan. Dalam diskusi yang diunggah di kanal Youtube-nya, Harari mengatakan bahwa pendidikan hari ini mesti relevan untuk 20 tahun mendatang, bukan untuk hari ini. Persoalannya, apakah sistem dan kurikulum pendidikan hari ini sudah memakai kacamata futuristik semacam itu?

Sebagai misal, tes Ujian Nasional yang selama ini dipakai untuk mengevaluasi pencapaian belajar, hanya menguji apakah kita bisa menjawab apa yang sudah kita tahu. Di masa depan, kata Harari, yang terpenting adalah bagaimana kita bisa menjawab apa yang belum kita tahu.

Sejauh ini, model tes pilihan ganda di sekolah membuat kita terbiasa untuk memiliki impresi bahwa setiap pertanyaan memiliki jawabannya. Sementara tantangan ke depan justru bagaimana kita dapat siap dengan apa yang tidak kita ketahui. Tak pelak, sebuah tes selayaknya bukan dimaksudkan untuk mempertanyakan apa yang sudah diketahui atau dihafal, tetapi ajuan pertanyaan-pertanyaan baru untuk mengasah kecakapan memecahkan masalah.

Selain itu, isu-isu yang dihadapi generasi mendatang, yang sebenarnya sudah mulai tampak hari ini, adalah bagaimana kita memiliki keterampilan untuk menelisik informasi yang sedemikian melimpah, menentukan informasi yang sahih dan tidak sahih. Memisahkan kebenaran dan kebohongan. Itu hanya akan dimiliki para murid apabila pendidikan kita menyediakan ekosistem belajar di sekolah yang mengasah nalar dan berpikir kritis.

Untuk itu, pendidikan hari perlu bisa membayangkan, atau memprediksi, kiranya wajah dunia dalam satu atau dua dekade ke depan. Misalnya, sudah banyak studi yang memperkirakan bahwa di masa mendatang banyak pekerjaan yang berisiko hilang dan digantikan komputer, mesin, dan robot. Pekerjaan-pekerjaan yang nantinya akan bertahan ialah pekerjaan yang tidak digantikan oleh mesin, pekerjaan yang membutuhkan kreativitas dan kecakapan berpikir tinggi.

Di masa lalu, apa yang dipelajari di sekolah akan digunakan sebagai keterampilan sewaktu lulus dan bekerja. Di masa mendatang, model tersebut akan menjadi usang. Ilustrasinya, apa yang dipelajari di sekolah sangat mungkin menjadi tidak lagi bisa dipakai, lantaran laju teknologi dan industri yang sedemikian cepat. Maka tidak ada cara lain, kecuali menumbuhkan murid-murid memiliki sikap belajar: kemampuan untuk belajar sendiri secara terus-menerus (Buchori: 2007).

Mengasah rasa ingin tahu menjadi kecakapan kunci yang utama dipelajari murid di ruang kelas. Kecakapan untuk terus belajar dan siap dengan perubahan yang tidak dikenal atau diketahui sebelumnya. Sikap belajar ini selalu berkelindan bersama dengan kasmaran membaca. Sikap belajar tidak hadir dalam ujian, melainkan lewat membaca. Sementara hasrat untuk membaca hanya mungkin tumbuh apabila murid kita memiliki pengalaman bersama buku. Tidak ada cara lain, buku-buku perlu menjadi halaman depan pendidikan.

Muhammad Khambali penulis dan pengajar, tinggal di Jakarta


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!


FOKUS BERITA: UN Tinggal Kenangan?
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com