Dicari: CPNS Milenial

Kolom

Dicari: CPNS Milenial

Rohmatulloh - detikNews
Rabu, 27 Nov 2019 14:08 WIB
Ilustrasi: Tim Infografis detikcom
Ilustrasi: Tim Infografis detikcom
Jakarta -

Sejak dibuka pendaftaran CPNS oleh Badan Kepegawaian Negara melalui situsnya sscasn.bkn.go.id pada 11 November lalu, sudah lebih dari 1 juta akun yang melakukan pendaftaran. Padahal pemerintah membuka kuota hanya untuk 114.814 CPNS yang tersebar di 68 Kementerian/Lembaga dan 462 Pemerintah Daerah.

Bagi generasi milenial, momentum ini harus menjadi peluang sekaligus tantangan untuk berkarya kepada masyarakat luas dalam memberikan pelayanan publik yang bermutu. Kenapa peluang dan tantangan ini harus dimanfaatkan generasi milenial? Karena generasi milenial menurut hemat saya paling siap dengan kondisi saat ini dengan modal keterampilan abad XXI yang dimilikinya.

Keterampilan abad XXI menurut versi enGauge 21st Century Skills yang paling sering disitasi terdiri dari empat klaster, yaitu literasi digital (digital-age literacy), berpikir inventif (inventive thinking), komunikasi efektif (effective communication), dan produktifitas tinggi (high productivity). Keterampilan ini diharapkan dapat mendukung peningkatan kualitas pelayanan publik pemerintah yang saat ini menekankan pada efektif dan efisien dari mulai input, proses, sampai dengan output-nya disampaikan dan diterima masyarakat.

Berkaca pada CPNS yang diterima pada tahun sebelumnya khususnya guru dan tenaga kesehatan yang saya bimbing dalam pelatihan dasar (pre employment training), banyak yang telah berhasil memberikan kontribusi nyata terhadap unit kerjanya di sekolah dan masyarakat pada umumnya. Menariknya, kontribusi dalam bentuk perubahan atau inovasi kecil, mulai dari mengidentifikasi isu atau masalah dan merumuskan gagasannya yang sederhana dan implementatif untuk menutupi kesenjangan yang ada, justru belum terpikirkan oleh rekan kerja sejawatnya.

Tentunya, semua itu terwujud karena penerapan nilai-nilai karakter yang memang sudah dimiliki atau bawaan sebelum menjadi CPNS dan diperkuat lagi nilai karakternya pada masa percobaan atau masa pra jabatan. Masa ini sebagai tahap penting yang harus diikuti setelah diterima sebagai CPNS untuk dapat naik ke jenjang selanjutnya sebagai PNS.

UU No. 5/2014 tentang ASN menekankan kebijakan CPNS berkarakter yang dalam masa percobaan melalui proses pendidikan dan pelatihan (diklat) terintegrasi berbasis karakter atau akhlak. Nilai-nilai karakter universal yang ditanamkan meliputi integritas, moral, kejujuran, semangat dan motivasi, nasionalisme dan kebangsaan, karakter kepribadian yang unggul dan bertanggung jawab, dan memperkuat profesionalisme, serta kompetensi bidang yang disesuaikan dengan tugas dan jabatannya.

Dalam PP No. 11/2017 tentang Manajemen PNS disebutkan lagi pentingnya penanaman nilai-nilai karakter CPNS seperti pada UU No. 5/2014. Adapun secara teknis, kebijakan berbasis karakter pada CPNS diatur dalam Peraturan Lembaga Administrasi Negara No. 12/2018 tentang Pelatihan Dasar (Latsar) CPNS. Dalam programnya, CPNS mengikuti pelatihan secara klasikal dan non klasikal meliputi berbagai agenda pembentukan karakter PNS seperti sikap perilaku bela negara, nilai-nilai dasar CPNS, kedudukan dan peran PNS dalam NKRI, serta habituasi.

Habituasi atau pembiasaan sebagai inti dari pendidikan karakter/akhlak harus dilakukan CPNS pada masa off class setelah selesai mengikuti pembelajaran on class. Saat on class, CPNS diberi bekal pemahaman tentang nilai-nilai karakter atau akhlak (moral knowing) dan implementasinya sesuai dengan konteks proses bisnis lokusnya masing-masing dikaitkan dengan ide perubahan yang akan dilakukan CPNS sesuai dengan tugas yang melekat pada jabatannya. Dengan pemahaman ini diharapkan CPNS dapat merasakan sekaligus mencintai (moral feeling) nilai-nilai-nilai karakter ANEKA (Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika publik, Komitmen mutu, dan Anti korupsi).

Modal pengetahuan dan sikap karakter yang telah diinternalisasikan dalam bentuk proposal atau usulan perubahan ini menjadi panduan untuk dijalankan saat off class sebagai bentuk intervensi agar pembiasaan lama yang kurang baik dapat berubah dengan pembiasaan baru yang baik dengan lebih efektif dan efisien. Dalam kesempatan ini, CPNS melakukan nilai karakter secara nyata hingga menjadi kebiasaan (moral action) dan pada akhirnya memberikan manfaat bagi semua pihak secara inkremental mulai dari individu, unit kerja, dan masyarakat yang dilayani. Misalnya CPNS guru, intervensinya harus berdampak bagi peserta didik, guru, kelas yang diampunya atau sekolah, dan masyarakat khususnya orangtua sekitar sekolah.

Dalam proses aktualisasi nilai karakter, CPNS tidak mungkin bekerja sendiri tanpa adanya dukungan dan kolaborasi dengan pimpinan atau sejawatnya yang dijadikan sebagai teladan atau role model. Hal ini menunjukkan bahwa peneladanan dalam bentuk bimbingan, dukungan, dan penguatan positif yang konkret memiliki pengaruh positif terhadap perubahan perilaku atau karakter CPNS dalam membuat perubahan misalnya perubahan sistem pembelajaran di sekolahnya yang disesuaikan dengan karakteristik subjek peserta didik generasi milenial ini.

Namun, karena latsar terbatas dengan waktu, maka pendidikan karakter tidak hanya digantungkan semata pada pelaksanaan pelatihan. Pendidikan karakter yang sesungguhnya dilalui CPNS hingga mengabdi menjadi PNS adalah pasca pelatihan di unit kerjanya masing-masing. Di sinilah penerapan pendidikan berbasis karakter yang sesungguhnya dalam waktu yang lama dan berulang-ulang. Upaya ini membutuhkan dukungan dan komitmen pimpinan dan rekan kerja sejawat untuk bersama-sama menciptakan lingkungan yang kondusif dalam penerapan nilai-nilai karakter ANEKA.

Akhirnya, semoga generasi milenial khususnya guru banyak yang berminat memanfaatkan peluang sekaligus tantangan ini agar menjadi CPNS milenial yang berkarakter dan layak mendapatkan gelar pahlawan kekinian karena teladan baik yang dimilikinya untuk ditularkan kepada masyarakat. Banyak isu-isu pendidikan nasional dan global yang membutuhkan kontribusi guru milenial.

Rohmatulloh mahasiswa Program Doktor Pendidikan Islam UIN Sunan Gunung Djati, bekerja di BPSDM ESDM Bandung

(mmu/mmu)