detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Rabu 27 November 2019, 12:33 WIB

Kolom

Pemuda dalam Lingkaran Terorisme

Stefanus Ari Wicaksono - detikNews
Pemuda dalam Lingkaran Terorisme Ilustrasi: Mindra Purnomo
Jakarta -
Terorisme merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk tujuan menebar teror kekerasan dan mengintimidasi. Kegiatan ini menyerang masyarakat atau publik dengan tujuan kepentingan politik. Intimidasi atau teror yang dilakukannya akibat tidak mempunyai sumber kekuatan sebanding negara yang berdaulat (asimetris), namun dari ketidakpunyaan tersebut dapat diharapkan menimbulkan efek-efek yang besar pada setiap serangannya, seperti menyerang pasar, kantor polisi, gereja, masjid, dan sebagainya yang dipandang sebagai pusat publik.

Dalam perkembangannya, terorisme telah menjadi aktor dalam konstelasi internasional. Kelompok ini bukan saja berdiam di dalam satu wilayah dan mempunyai simpatisan atau anggota pada wilayah itu saja, melainkan bisa melewati batas-batas negara atau wilayah tersebut. Perkembangan terorisme tidak lepas dari pola pergerakan maupun perekrutannya, yang awalnya hanya merekrut orang-orang tua, sekarang mulai menyasar golongan muda dari seluruh penjuru dunia.

Pemuda dan Terorisme

Bukti dari pernyataan di atas dapat dilihat pada Mei 2018 di Indonesia, terjadi serangan bom bunuh diri di Surabaya yang menyasar pada gereja dan kantor polisi. Pada salah satu gereja, pelaku penyerangan tersebut adalah adik-kakak yang masih remaja. Maju pada 2019, di Denpasar Bali telah tertangkap terduga anggota terorisme yang berinisial AT dan ZA. Mirisnya ZA yang merupakan putra dari AT masih berumur 14 tahun. Kedua terduga terorisme tersebut masih merupakan satu jaringan dengan Syahrial Alamsyah alias Abu Rara yang melakukan penusukan pada Menko Polhukam Wiranto.

Berdasarkan penelitian oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), terorisme saat ini menyasar golongan anak-anak muda seperti Agus Anton, Ahmad Taufik pada 2013 yang menyerang kedutaan Myanmar. Ahmad Azhar Basyir perakit bom Solo dan Madiun. Judi Novaldi, yang menyandera adiknya dan menyerang ayah kandung dan meminta tebusan Rp 300 juta demi pengeboman. Asyahnaz, seorang perempuan yang rela pergi ke Turki untuk bergabung dengan kelompok ISIS.

Berlanjut ke Dani Dwi Permana, umur 18 tahun, yang berasal dari Bogor dan meledakkan bom Marriot. Hingga, Umar yang meledakkan bom di Suriah, remaja umur 19 tahun dan berasal dari Banten. Dipertegas oleh Badan Intelijen Nasional (BIN) bahwa pemuda yang menjadi sasaran ini mayoritas berumur 17 hingga 24 tahun.

Mengutip pernyataan dari mantan Menteri Negara Riset dan Teknologi Muhammad AS Hikam (2018), saat ini kelompok radikal lebih mengincar generasi muda. Menurutnya para pemuda ini sangat mudah masuk ke lingkaran radikalisme. Hikam juga mengatakan perbedaan perekrutan terorisme dulu dengan sekarang; bila dulu lebih menekankan anggota terorisme yang lebih matang dan mempunyai pengalaman, sekarang pemuda atau remaja yang dirasa masih labil namun mempunyai idealisme yang tinggi.

Model Trilema

Hal ini senada dengan salah satu model Trilema (Tiga Komponen) di dalam mencapai kekuasaan atau politik di suatu negara. Komponen dari model Trilema itu adalah tokoh agama, para pekerja, dan pemuda atau siswa beserta mahasiswa. Pihak yang mempunyai kepentingan politik cukup menggunakan salah satu saja, maka dapat mengguncang stabilitas politik di suatu negara bahkan dapat juga membuat unggul di dalam percaturan.

Seperti kita tengok dalam penaklukan Aceh oleh Belanda; pada saat itu Belanda kesusahan untuk menaklukkan Aceh, maka yang dilakukannya adalah mengirim salah satu pakar yakni Dr Snouck Hurgronje dan berhasil menemukan bahwa inti kekuatan rakyat Aceh terletak pada tokoh agamanya yaitu ulama. Mundur di abad pertengahan tentang Perang Salib, salah satu tokoh agama Katolik Paus Urbanus II dengan semangat menyatukan para ksatria dan bangsawan Eropa untuk menaklukkan Yerusalem.

Berlanjut ke revolusi Bolshevik di Rusia pada 1917 yang menghimpun para pekerja atau buruh pabrik Rusia untuk memberontak melawan Kekaisaran Rusia. Hingga dalam sejarah Indonesia pemuda mempunyai peran kuat dalam pergerakan nasional dengan bukti pada 1928 melalui Sumpah Pemuda, dan juga pada 1945 golongan muda menculik dan menekan Soekarno-Hatta untuk segera melakukan proklamasi di saat vacum of power. Dan, dengan membara para pemuda yang direpresentasikan oleh mahasiswa melakukan demo besar-besaran menuntut turunnya Soeharto dari kursi Kepresidenan pada tahun 1998.

Isu Stimulan Penggerak Pemuda

Pemuda memang mempunyai idealisme yang sangat tinggi dan membara, seperti yang dikatakan oleh Soekarno bahwa dunia dapat terguncang akibat sepuluh pemuda dibanding seribu orang dewasa. Menurut Christina Goni (2017), ISIS merekrut pemuda karena idealisme yang dimilikinya dengan menawarkan perlawanan terhadap isu-isu kesenjangan sosial dan ekonomi, globalisasi yang menjerat kaum miskin, rendahnya figur pemerintah sebagai penjamin kesejahteraan dengan fakta menurunnya rasa kepercayaan terhadap pemerintah hingga diskriminasi terhadap kelompok-kelompok tertentu.

Isu-isu tersebut dianggap oleh pemuda sebagai bentuk penindasan manusia dan harus dilawan. Di samping menawarkan isu-isu yang menstimulus gairah idealisme pemuda, ISIS atau jaringan terorisme juga melihat bahwa pemuda ini mempunyai krisis identitas dan umumnya masih mencari standing position atau jati diri. Mudah kagum dan mencari role model dari berbagai kalangan.

Pernyataan terkait gelora pemuda untuk melawan penindasan tersebut dipertegas oleh Jamal Nassar (2010) bahwa di era saat ini muncul golongan yang merasa ditindas oleh sistem ekonomi global. Karena tidak tahan akibat penindasan tersebut, akhirnya memunculkan gerakan-gerakan yang menggunakan jalan kekerasan melalui aksi terorisme melawan negara-negara kaya. Berlanjut ke pendapat yang dikemukakan oleh T.V Paul dalam Safril Mubah (2015) bahwa perkembangan ekonomi timpang yang dibawa oleh globalisasi ke bagian-bagian dunia sebagai penyebab munculnya terorisme.

Motivasi Fame, Glory, Respect

Di samping isu-isu di atas, para pemuda juga mempunyai motivasi lain dalam bergabung dengan kelompok terorisme. Daya tarik ideologi dari kelompok tersebut kemudian ada prospek untuk mendapatkan fame (reputasi yang baik), glory (kebanggaan yang tinggi), dan respect (rasa kehormatan) dari orang-orang di sekitarnya.

Namanya darah muda pastinya akan semaksimal mungkin untuk mendapatkan reputasi, kebanggaan, dan kehormatan yang diperoleh melalui pemikiran untuk melawan suatu bentuk penindasan di dunia dengan berbagai cara, salah satunya dengan bergabung ke dalam jaringan terorisme. Sama halnya dengan fenomena "panjat sosial" yang digunakan untuk mendapatkan ketiga hal itu, bedanya dalam ini lebih mengarah ke kegiatan terorisme.

Stefanus Ari Wicaksono alumni Ilmu Hubungan Internasional UPN Veteran Jawa Timur, konsentrasi pada Terorisme dan Politik Internasional


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com