Agnez Mo dan Konstruksi Identitas

Kolom

Agnez Mo dan Konstruksi Identitas

Okky Madasari - detikNews
Selasa, 26 Nov 2019 14:06 WIB
Foto: Dok. Instagram/agnezmo
Foto: Dok. Instagram/agnezmo
Jakarta - Penyanyi Agnez Mo menyampaikan dalam sebuah wawancara di Amerika Serikat bahwa dia tidak punya darah Indonesia. Menurut Agnez, dia adalah campuran antara Jerman, Jepang, dan China. Ia juga menambahkan fakta Indonesia sebagai negara mayoritas muslim yang membuat seorang yang menganut Kristen seperti dirinya tidak merasa sepenuhnya menjadi Indonesia.

Pernyataan Agnez ini menarik untuk diulas lebih lanjut terutama dari sisi bagaimana seorang individu mengidentifikasi identitas dirinya, bukan semata perkara "kebangsaan" yang sekadar berakhir dengan kesimpulan bahwa Agnez tidak punya rasa nasionalisme.

Saya memulai dengan dugaan bahwa tampaknya Agnez rancu memaknai fakta bahwa secara genetika ia berasal dari campuran berbagai ras, sekaligus asal bicara ketika menyebut "darah Indonesia".

Bahwa seorang Agnez Mo adalah campuran dari berbagai ras adalah fakta. Jika seseorang melakukan uji DNA, maka akan terlihat bahwa yang selama ini mengaku Jawa ternyata gen-nya berasal dari berbagai penjuru dunia di luar Jawa. Yang selama ini dianggap Cina punya gen Afghanistan, yang dianggap Arab malah tak sepenuhnya Arab.

Uji DNA terbukti memiliki akurasi tingkat tinggi dan telah berhasil membantu mengungkap pelaku berbagai tindak kejahatan, mulai dari kasus perkosaan hingga kasus terorisme. Sebagai sebuah bagian dari proyek ilmu pengetahuan, uji DNA untuk menelisik asal-usul manusia Indonesia juga memberi landasan perspektif untuk melihat Indonesia dan manusia Indonesia secara lebih utuh dan lebih luas.

Tapi kemudian, bicara tentang Indonesia adalah bicara tentang hal yang berbeda di luar sifat-sifat genetika. Menjadi Indonesia dan memiliki identitas sebagai Indonesia adalah sebuah konstruksi yang melampaui faktor genetika. Apa yang disebut sebagai "darah Indonesia" adalah sama sekali tidak ada. Menjadi Indonesia adalah pilihan dan konsensus.

Identitas manusia bukan sebuah variabel statis yang dibawa oleh manusia sejak ia dilahirkan. Identitas bukan hanya dibentuk oleh faktor biologis yang sifatnya dekat dengan konsep "takdir" dan ciptaan Tuhan. Kalaupun pada awalnya seorang manusia diidentifikasi oleh ciri-ciri fisiknya, pada perkembangannya ia akan dengan mudah melawan, mengubah, mengidentifikasi dirinya dengan cara yang sangat berbeda.

Lihat saja bagaimana konsep identitas laki-laki dan perempuan bisa menjadi sangat cair. Seseorang tidak otomatis menjadi laki-laki hanya karena ia punya penis dan seseorang tidak begitu saja menjadi perempuan hanya karena memiliki payudara. Dalam perjalanannya, setiap individu punya hak untuk menentukan ia ingin menjadi laki-laki atau perempuan sekaligus punya hak untuk mengubah ciri-ciri fisik yang sudah ia miliki sejak dilahirkan.

Setiap anggota masyarakat dan negara pada akhirnya harus menerima cara masing-masing individu dalam mengidentifikasi jenis kelamin dan seksualitasnya tanpa perlu lagi melihat pada fakta biologis saat ia lahir ke dunia.

Dalam konteks lain, kita bisa melihat bagaimana praktik identitas kesukuan sama sekali tidak melihat pada gen yang dimiliki seseorang. Di Malaysia misalnya, seseorang bisa menjadi Melayu meskipun ia secara genetik lebih dekat pada India, Cina, Arab, atau bahkan Eropa. Undang-Undang Malaysia memberi ruang bagi seseorang untuk "mengubah" sukunya menjadi Melayu dengan syarat ia memeluk agama Islam, mengamalkan adat budaya Melayu, dan bicara dalam bahasa Melayu. Pada konteks seperti ini, akankah kita tetap akan menunjukkan bahwa seseorang tidak sepenuhnya Melayu karena gen-nya lebih banyak berasal dari Cina atau Hadhramaut?

Betul bahwa ada situasi di mana alasan asal-usul keturunan dan ciri-ciri fisik digunakan untuk mendiskriminasi bahkan memusnahkan sekelompok manusia. Holocaust terhadap Yahudi di bawah rezim Hitler, pengusiran dan pembantaian terhadap suku Madura di Sampit, juga kekerasan dan pemerkosaan kepada orang Cina pada kerusuhan Reformasi 1998. Salah satu yang hendak ditunjukkan oleh uji DNA adalah bahwa kebencian rasial itu salah karena tidak ada satu manusia pun yang memiliki kemurnian asal-usul. Bisa jadi Hitler ternyata punya gen Yahudi, bisa jadi mereka yang dibenci memiliki kedekatan genetika dengan yang membenci.

Tapi sekali lagi, seorang individu sesungguhnya tidak pernah mengidentifikasi suku dan rasnya berdasarkan ciri-ciri genetika semata. Identitas kesukuan apalagi kewarganegaraan lebih dipengaruhi oleh lingkungan di mana ia tumbuh, juga preferensi pribadi yang dipengaruhi oleh banyak hal. Itu sebabnya ada yang memutuskan menjadi laki-laki meskipun punya payudara dan ada yang memilih jadi perempuan meski punya penis.

Dalam konteks kesukuan, bagaimana orang memilih menjadi Melayu di Malaysia menunjukkan betapa tak relevannya faktor genetika. Juga misalnya, pilihan untuk mengubah kewarganegaraan.

Film The Other Son (2012) juga bisa memberi ilustrasi tentang tidak relevannya faktor genetika dalam situasi yang penuh kebencian dan prasangka. Film ini bercerita tentang dua bayi, Arab-Palestina dan Yahudi-Israel, yang tertukar saat lahir. Kebenaran baru terungkap saat mereka berumur 18 tahun. Apakah kemudian si anak Yahudi yang tumbuh di lingkungan Palestina akan otomatis merasa dirinya adalah Israel hanya karena menyadari bahwa secara genetika ia adalah seorang Yahudi dan si anak Palestina akan segera membenci orangtua yang membesarkannya karena mereka adalah Yahudi? Tentu saja tidak.

Genetika merupakan variabel paling lemah dalam membentuk identitas manusia. Seseorang bisa memilih menjadi suku dan warga negara apa saja, melekatkan identitas yang mana saja sesuai preferensi pribadinya. Jadi sangat bisa dimengerti jika seorang Agnez Mo merasa "bukan Indonesia". Pertanyaan yang kemudian harus sama-sama kita jawab sekaligus menjadi introspeksi bersama: kenapa bisa demikian?

Okky Madasari novelis, kandidat PhD National University of Singapore

(mmu/mmu)