Demo Paling Menarik yang Pernah Saya Saksikan

Kolom

Demo Paling Menarik yang Pernah Saya Saksikan

Hajriyanto Y. Thohari - detikNews
Selasa, 26 Nov 2019 12:00 WIB
Para perempuan berpartisipasi dalam demonstrasi di Lebanon (Foto: Reuters)
Para perempuan berpartisipasi dalam demonstrasi di Lebanon (Foto: Reuters)
Jakarta - Perjalanan hidup manusia memang susah ditebak. Dulu ketika mau berangkat ke Lebanon saya ditakut-takuti perang. Begitu sampai di Lebanon ternyata aman-aman saja. Dan ketika memasuki bulan ke delapan, boro-boro perang, ketemunya malah demonstrasi besar-besaran. Saya sebenarnya ingin sekali menulis tentang demonstrasi besar di Lebanon yang kini nyaris memasuki minggu yang kelima itu.

Tetapi berhubung saya sedang menjabat Duta Besar LBPP (Luar Biasa dan Berkuasa Penuh, begitu katanya), tentu saya tidak cukup leluasa untuk menyalurkan hobi menulis seperti selama ini. Malah saya diseyogiakan tidak menulis, apalagi soal politik, karena menulis politik rawan dituding sebagai mencampuri urusan dalam negeri negara akreditasi, dan ini terlarang. Maka daripada saya di-persona non grata-kan, saya akan menulis yang ringan-ringan saja dan yang lucu-lucu saja. Pasalnya, kalau saya menulis hal-hal yang berat dan serius, apalagi hal-hal yang sensitif secara politik, saya bisa dituduh --itu tadi-- mencampuri urusan politik negeri orang.

Demonstrasi di Lebanon memang tidak mengenal waktu; tidak dibatasi sampai, misalnya, jam 6 sore hari. Demonstrasi di Lebanon berlangsung sepanjang hari sampai tengah malam, bahkan dini hari. Mungkin hal ini berkaitan dengan sistem penerangan kota-kota di Lebanon yang kentar-kentar alias terang benderang. Mungkin lho ya! Tapi mungkin juga karena yang lain: berkaitan dengan musim.

Demonstrasi 2019 yang mereka klaim sebagai revolusi rakyat (al-tsaurah al-sya'bi) kali ini mulai digelar pada pengujung musim panas (summer) sehingga ketika turun ke jalan pada malam hari tidak terasa panas alias lebih nyaman. Tapi nyatanya tidak sepenuhnya demikian juga. Pasalnya, ketika musim dingin (winter) mulai merasuk pada medio November seperti sekarang ini, demonstrasi di Martyr Square dan Riyadh al-Sulh, dua area favorit bagi para demonstran itu, tetap juga digelar sampai tengah malam.

Demonstrasi di Lebanon menjadi sangat dramatis oleh karena tidak hanya dapat diliput dan diberitakan secara bebas dan terbuka, melainkan juga boleh disiarkan secara langsung (live) oleh belasan stasiun televisi tanpa batas waktu: berjam-jam, bahkan sepanjang hari siang dan malam. Stasiun-stasiun televisi itu, berkat kemajuan teknologi penyiaran yang cukup canggih, bisa menyiarkan langsung dari empat sampai enam lokasi unjuk rasa di beberapa kota di Lebanon di satu layar kaca.

Jadi dengan memantengi layar kaca orang bisa menikmati dan mengikuti siaran langsung demonstrasi di berbagai kota dengan segala tingkahnya yang aneh-aneh dan lucu-lucu. Anak-anak pun tidak jarang dibawa oleh orangtuanya berdemonstrasi lengkap dengan pamflet, kaos, dan ikat kepala yang bertuliskan slogan-slogan kampanye, muka dilukis warna-warni (face painting), lengan yang ditato dengan hena atau inai, dan tangan membawa bendera Lebanon. Persis kayak ratusan ribu pendemo perempuan dewasa lainnya.

Oleh karena demonstrasi besar-besaran kali ini adalah demo non-sektarian yang tanpa preseden dan semboyannya adalah bangsa Lebanon Bangkit (Al-lubnany yantafidh) melawan "semua pemimpin" (qillun ya'ni killun, all of them means all of them), maka masa sepakat hanya membolehkan peserta demo membawa bendera Cedar, yakni bendera nasional Lebanon. Pernah ada pendemo membawa bendera partai atau organisasi, maka segera dipaksa oleh massa untuk diturunkannya dan dibuang.

Malah ketika ada seorang tokoh politik yang datang bergabung, segera dia diusir oleh massa karena dianggap sebagai akan mengambil keuntungan politik dari demo itu. Mereka banyak sekali menyanyikan lagu kebangsaan Lebanon (Kulluna li al-Wathan) dengan gegap gempita ditingkahi dengan yel-yel, orasi, dan tuntutan.

Demonstrasi di Lebanon sangat kreatif dan inovatif: slogan-slogan dibuat sangat cerdas, nakal, menggelitik, dan lucu. Nama-nama pemimpin politik dan pernyataan-pernyataannya diparodikan dan dipelesetkan sedemikian rupa sehingga membikin pembacanya ketawa ngakak. Mungkin ini semua karena orang Lebanon pada dasarnya sangat bebas (open mind), liberal, dan cenderung sekuler. Mungkin karena hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa tingkat pendidikan mereka sangatlah tinggi dengan kemampuan yang tinggi pula dalam beberapa bahasa asing (bangsa dengan kemampuan multibahasa: Prancis, Inggris, dan tentu saja bahasa Arab (baik Arab fusha maupun 'amiyah ala Lebanon yang susah itu) sehingga aksesnya terhadap sumber informasi relatif terbuka.

Pada suatu malam ketika mulai memantengi demonstrasi yang lagi riuh rendah, saya dikejutkan oleh pemandangan yang sangat menarik seiring dengan banyaknya artis dan penyanyi papan atas bergabung di tengah lautan demonstrasi. Arena demonstrasi berubah menjadi seperti konser musik kolosal. Mereka bernyanyi dan berjoget bersama. Bahkan tidak sampai memasuki minggu kedua di tengah-tengah arena demonstrasi tiba-tiba sudah berdiri tiang-tiang stage light yang sangat tinggi dan panjang penuh dengan lampu sorot warna-warna seperti halnya sebuah konser musik besar-besaran.

Malah juga ada permainan sinar laser yang sangat memikat. Itu semua berlangsung hampir setiap malam sampai dini hari sepanjang sebulan terakhir ini. Tidak heran jika massa demonstrasi bertahan begitu panjang hampir memasuki bulan kedua tanpa kelihatan berkurang semangat dan staminanya. Itu semua bisa dilihat di semua layar televisi Lebanon yang belasan jumlahnya itu.

Sangatlah menarik demonstrasi di Lebanon kali ini bersifat masif dan dan tanpa pemimpin (leaderless), maka para reporter televisi yang rata-rata perempuan dan cantik-cantik itu harus berjalan di tengah-tengah lautan massa pengunjuk rasa mewawancarai para demonstran satu per satu yang disiarkan secara secara live (dan on the spot) untuk mengerti apa sebenarnya tuntutan para pengunjuk rasa itu. Menariknya adalah bahwa hampir semua pengunjuk rasa ketika diwawancara bisa menjawab, bahkan berargumentasi dengan para reporter TV tersebut dengan sangat baik; bukan hanya artikulasinya, melainkan juga isi dan substansinya.

Rupanya para demonstran tahu betul untuk apa demonstrasi dilakukan dan tujuannya apa. Para pengunjuk rasa antre dengan sabar untuk diwawancara para wartawan dan tidak ngamuk kalau sampai tidak mendapatkan giliran.

Para pendemo membawa minuman (soft drink) dan makanan (misalnya taowuk, shawarma, yang panas dan enak itu). Banyak juga masyarakat yang bersimpati pada demonstrasi yang mengirimkan makanan dan minuman semacam itu. Bahkan tidak jarang mereka membuat stand (booth) makanan. Ketika malam mulai tiba mereka makin bersemangat meneriakkan yel-yel, bernyanyi, berjoget, bahkan tidak jarang hadir juga disc jockey (DJ) yang datang dengan seperangkat peralatannya memutar lagu-lagu perjuangan dan nasionalisme diselingi dengan lagu-lagu populer lokal dan global yang dipelesetkan sesuai tuntutan demonstrasi.

Tidak kurang menarik dan mengesankannya adalah sikap polisi dan tentara yang menjaga keamanan. Nyaris tidak ada bentrokan antara aparat keamanan dan pengunjuk rasa (catat: saya sebut nyaris oleh karena nyatanya ada juga terjadi bentrokan, malah memakan seorang korban jiwa, tapi secara umum cukup damai. Ssssttt...sampai di sini saja). Bila aparat menutup jalan agar pendemo tidak melewati jalan yang terlarang karena akan memasuki objek vital yang terlarang para pendemo yang maju untuk berhadapan dengan aparat yang menutup jalan adalah barisan pendemo perempuan yang notabene bukan main cantik-cantiknya.

Apalagi para pendemo perempuan itu kebanyakan turun ke jalan dengan riasan yang makin memikat dengan rambut merah dan pirang panjang bergerai, bercelana jins dan kaos putih yang bertuliskan slogan-slogan revolusi lengkap dengan pamflet, kaos, dan ikat kepala yang bertuliskan slogan-slogan kampanye. Wajah ayu mereka dilukis warna-warni, lengan ditato dengan hena atau inai, dan tangan membawa bendera Lebanon.

Unjuk rasa di Lebanon juga banyak menarik para selebritas, artis, dan penyanyi bergabung turun ke jalan bergandeng tangan berdemo. Para aparat meskipun tetap mencoba bertahan tanpa tersenyum, menjadi mati langkah untuk bertindak keras dan beringas pada pendemo perempuan yang kece-kece dan bening itu. Aparat keamanan (polisi dan tentara) dengan sedikit terpaksa bertindak sangat simpatik dan beradab.

Memang dalam demonstrasi yang dimulai sejak 17 Oktober 2019 --jadi nyaris satu bulan tanpa berhenti-- banyak sekali kaum hawa berpartisipasi. Saking banyaknya sampai media dan pengamat menyebut demonstrasi kali ini sebagai revolusi feminis (al-tsaurah al-nisa'iyah). Lebanon memang menarik. Dan ini demo paling menarik yang pernah saya saksikan. Tidak rugi saya bertugas di sini. Sumpah!

Hajriyanto Y. Thohari Duta Besar LBBP untuk Lebanon di Beirut
(mmu/mmu)