Jeritan Hati Guru yang Kini Tawar Hati

Kolom

Jeritan Hati Guru yang Kini Tawar Hati

J Ernawanti - detikNews
Selasa, 26 Nov 2019 10:22 WIB
Ilustrasi: @hariprast (istimewa)
Ilustrasi: @hariprast (istimewa)
Jakarta -

Ia datang dengan sejuta asa, ingin menjadi agen perubahan bagi pendidikan Indonesia. Mencerdaskan anak bangsa, membangun karakter luhur, menjadikan pemikir inovasi dan kreatif. Namun, dalam perjalanannya sebagai guru, ia menjadi tawar hati.

Ia diberi beban berat di pundaknya. Menyelesaikan perangkat yang mungkin tidak akan selesai kalau ia membuatnya sendiri. Tujuan pembuatannya sungguh sangat mulia, supaya guru siap mengajar sepanjang tahun. Namun, di balik mulianya tujuan itu, ada lebih dari 10 (sepuluh) perangkat yang harus ia selesaikan, seperti silabus, program semester, program tahunan, pemetaan kompetensi inti, pemetaan kompetensi dasar, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, Kalender Pendidikan, alat-alat evaluasi, program pengayaan, program remedial, Pembuatan Kriteria Ketuntasan, dan sebagainya.

Rekan-rekannya memintanya untuk mengunduh perangkat itu dari internet karena sudah tersedia di sana. Rekannya juga memintanya untuk tidak lupa mengganti tahun, nama sekolah, dan nama guru di perangkat orang lain yang sudah diunduh itu.

Ia selalu menyebut dirinya guru idealis sehingga ia menolak untuk melakukan saran rekannya itu. Ia bersemangat untuk membuat sendiri. Sayangnya ia tidak mengerti. Ia pun mengajukan diri untuk ikut pelatihan kurikulum di kotanya. Pelatihan kurikulum itu sungguh beragam, namun ia mengikuti yang di kota dan di sekolahnya saja. Ia kembali merasakan kecewa; si pemateri sama sekali tidak memuaskan rasa dahaganya akan ilmu membuat perangkat.

Ia sendiri meragukan kemampuan si pemateri yang sering bingung dengan penjelasannya sendiri. Padahal pemateri itu sudah dilatih di ibu kota --sungguh mengecewakan. Ia kembali mendapat pelatihan dari fasilitator kurikulum yang didatangkan ke sekolahnya, tetapi tidak berbeda jauh; pematerinya tetap tidak melatih sesuai dengan harapan. Akhirnya ia memutuskan untuk belajar sendiri dan membuat sendiri seluruh perangkat itu.

Namun, karena keterbatasan waktu, ia kemudian asal membuat beberapa perangkat karena ia juga ragu apabila itu diperiksa dengan baik oleh atasannya. Pikirnya, "Yang penting saya kumpul."

Tibalah saatnya ia mengajar di kelas. Ia telah mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Ia senang banyak anak-anak yang mengerti materinya, dan semangat belajar. Namun, ada satu anak yang sering sekali terlambat walaupun sudah berulang kali ditegur dan dinasihati. Pikirnya, "Saya harus mendisiplinkan anak ini."

Ia tidak memberi hukuman fisik kepada anak itu, seperti berdiri di atas satu kaki, lari keliling lapangan, atau memukul tangannya. Ia hanya memberi anak itu ekstra tugas menulis karangan dengan judul "Mengapa Aku Harus Disiplin". Anak itu diminta untuk mengumpulkannya setelah pulang sekolah dengan konsekuensi apabila tidak dikerjakan, ia akan belajar di luar kelas di pelajaran si guru untuk menyelesaikannya.

Keesokan harinya, si anak tidak lagi terlambat namun tidak mengerjakan karangannya. Tentu saja, ia meminta anak itu untuk belajar di luar kelas dan memintanya menyelesaikannya di luar kelas. Ketika waktu istirahat, orangtua si anak menelepon si guru, dengan menghardik si guru dan berisi nada ancaman, ia meminta si guru untuk tidak memaksa anaknya mengerjakan karangan yang hanya 250 kata itu. Ia menjadi heran dan mencoba menjelaskan kepada ibu itu, tetapi si ibu tidak mau mendengarkan dan mematikan telepon. Ia merasa sangat tidak diberi hak untuk memberi penjelasan dan merasa tidak dihargai.

Beberapa waktu kemudian, ia mengambil gawai dari seorang anak karena dimainkan di kelas dan berjanji akan mengembalikannya setelah beberapa hari sesuai dengan peraturan sekolah. Tiba-tiba, orangtua si anak datang kepadanya bagaikan seorang bos dan memintanya untuk mengembalikan gawai anaknya. Ketika sang guru mengatakan bahwa ia hanya mengikuti prosedur sekolah, dengan wajah masam si orangtua memaksa guru untuk mengembalikan saja gawai anak itu.

Ia menjadi tawar hati dengan orangtua yang tidak mau bekerja sama itu. Ia kemudian menghibur hatinya dan berkata, "Itu cuma dua orang, ada banyak anak yang masih mau mengikuti aturan sekolah."

Waktu berlalu, dan kalimat penghibur itu semakin pudar. Ia menemui banyak orangtua yang tidak mau bekerja sama untuk sama-sama mendidik anak-anak. Bahkan tidak sedikit orangtua yang mengintimidasi guru dengan makian dan cacian baik itu secara langsung maupun melalui telepon atau pesan singkat. Guru hanya menyimpan semua itu di dalam hati karena ia sendiri ragu apakah negara ini bisa memberikannya perlindungan hukum apabila ia melaporkan orangtua semacam itu ke pihak berwajib.

Ia menjadi tawar hati, dan kalimat penghiburnya berubah menjadi kutuk, "Rasakanlah sendiri bagaimana anakmu akan menjadi monster ketika ia menjadi dewasa karena engkau selalu membelanya, dan saat itu juga tangisanmu tidak lagi ada gunanya."

Ia memilih untuk menjadi sedikit longgar agar ia tidak perlu bertemu orangtua yang bisa saja memakinya. Ia sungguh trauma. Ia memang tawar hati untuk membangun karakter anak-anak itu, namun ia tetap mengajar dengan sungguh-sungguh. Ia tetap mempersiapkan bahan ajarnya dan mengerjakan semua administrasinya. Lalu, ia kemudian terpikir untuk ikut Olimpiade Guru Nasional yang pengumumannya bisa dilihat di laman kesharlindungdikmen.

Ia semangat menyelesaikan semua administrasinya dan ia makin bahagia karena ia dinyatakan lolos administrasi. Namun, betapa kecewanya ia ketika namanya tidak didaftarkan untuk mengikuti tes karena pemerintah daerah hanya menganggarkan dana untuk beberapa orang saja. Karena ia merasa tidak mendapatkan keadilan, ia pun mengadu kepada yang berwenang sehingga ia pada akhirnya diizinkan ikut tes, namun transportasi dan akomodasi harus bayar mandiri.

Ia menyanggupinya asalkan ia boleh ikut tes. Sekali lagi, ia merasakan ketidakadilan karena panitia membuat banyak soal yang salah karena jawaban tidak ada, jawaban kadang bisa ganda, ketidakjelasan tulisan dan server yang tidak siap. Panitia juga tidak transparan dengan nilai, namun beberapa waktu kemudian begitu saja menentukan pemenang. Ia tentu saja ingin mengetahui nilainya agar ia bisa memperbaiki kompetensinya karena tes juga dilakukan secara online.

Jawaban panitia yang berbelit-belit dan terkesan lempar tanggung jawab membuatnya undur diri dari perdebatan itu. Ia tidak kecewa karena kalah karena ia cukup dewasa untuk itu, ia hanya kecewa untuk proses yang sangat tidak transparan dan adil. Ia kemudian melakukan pengaduan ke ULT Kemdikbud, tetapi ia tidak pernah mendapat jawaban yang memuaskan.

Perangkat administrasi yang berat, belum jelasnya perlindungan hukum kepada guru, dan sistem Olimpiade Guru Nasional yang tidak transparan masih sebagian kecil yang dapat disebutkannya. Ada masih banyak lagi yang membuatnya kecewa, seperti tidak jelasnya tentang masih adanya pengawas yang tidak berintegritas. Datang ke sekolah dan tidak malu meminta amplop. Masih adanya musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) se-kota yang tidak jelas visi misinya.

Kebanyakan gurunya sudah malas memperbaiki kompetensi karena terlalu nyaman. Para pengurusnya datang terlambat ke pertemuannya hingga beberapa jam dan memberi informasi yang tidak jelas arahnya. Kebanyakan guru hadir hanya karena ancaman uang sertifikasi tidak diberikan apabila tidak hadir sampai tiga kali berturut-turut.

Pidato sang menteri memang sedikit memberi kelegaan dan memberikan secercah harapan bagi guru yang kini tawar hati. Mungkin ini adalah jawaban doa yang telah dipanjatkan selama bertahun-tahun agar ada keadilan bagi mereka yang terluka karena sistem yang kebanyakan masih carut-marut. Selamat Hari Guru Nasional!

(mmu/mmu)